Menggemakan Islam Sebagai Teologi Kemerdekaan

Menggemakan Islam Sebagai Teologi Kemerdekaan

- in Suara Kita
100
2
Menggemakan Islam Sebagai Teologi Kemerdekaan

Gema takbir bergema di setiap sudut. Masjid saling bersautan. Jalan-jalan dengan rombongan anak-pemuda, laki-perempuan, tua-muda hanyut dalam irama takbir. Itulah yang terjadi selama Idul Adha dan hari tasyri’ 4 hari ini. Islam memberikan kegembiraan, kedamaian, keguyuban, dan keharmonisan.

Takbir selama ini memang disalahgunakan oleh kelompok tertentu untuk demo, memperbesar polarisasi, membuat deferensiasi kelompok ini dan itu. Akan tetapi, selama idul adha ini, takbir menjadi pemersatu; merekakatkan hubungan antara satu sama lain; meleburkan sekat-sekat perbedaan yang ada.

Takbir bisa kita jadikan sebagai basis konsep teologi kemerdekaan. Takbir artinya mengagungkan Tuhan. Hanya Tuhan (satu-satunya) Yang Maha Besar. Cuma Ia yang berhak mengemban sifat itu. Konsekuensinya, selain dari Dia, –artinya semua makhluk –adalah setara. Manusia sama dan setara, tidak ada yang patut membesarkan diri dan tidak ada yang layak dianggap besar.

Kesetaraan (equality) adaalah salah satu –sebagaimana digagas Ali Asghar Engineer (2015) –pokok dari teologi pembebasan (baca: kemerdekaan). Dengan anggapan bahwa semua manusia setara, sama-sama mungkin benar, mungkin salah, sama-sama makhluk cipataan,  maka seseorang bisa terbebas dari permusuhan, kefanatikan, merasa paling benar, dan aksi terorisme.

Dari Takbir Menuju Kemerdekaan

Pembebasan dengan takbir sudah terbukti dalam sejarah bangsa ini. Perang yang digelorakan oleh para pejuang bangsa ini selalu diawali dengan pekikan takbir. Begitu Allahu Akbar diteriakkan, semangat pantang mundur, gelora perjuangan tanpa takut mati tak terbendung lagi.

Baca Juga : Merdeka dari Radikalisme

Perlawan kepada penjajah dilakukan sebagai protes bahwa manusia adalah makhluk yang setara. Tidak ada pihak yang pantas menjajah dan tidak ada pihak yang layak dijajah. Semua manusia seharusnya sama-sama saling membantu, menghormati, dan menjaga martabatnya masing-masing. Lagi-lagi, takbir mengajarkan kesetaraan itu.

Puncak takbir sebagai teologi kemerdekaan adalah ketika terjadi revolusi jihad yang diinisiasi oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, yang mewajibkan kepada segenap anak bangsa untuk berjihad melawan penjajah yang mau datang kembali merebut tanah air tercinta. Fatwa jihad itu segera disambut oleh Bung Tomo. Dengan pekikan takbir di radio, Bung Tomo berhasil memobilisasi para anak bangsa untuk bangkit melawan penjajah. Hasilnya bisa dilihat sendiri, Indonesia tetap tegak.

Implementasi takbir sebagai teologi pembebasan adalah spirit manusia untuk mengagungkan Allah lewat ciptaan-Nya. Menghargai manusia, menolak eksploitasi lingkungan, melawan buta huru, menangkal terorisme, dan memarangi wabah penyakit kecandua narkoba bagi generasi muda, merupakan upaya untuk mengagungkan Tuhan.

Para sufi berkata, kita bisa mengagungakan Tuhan bukan sekadar beribadah mahdah semata atau melakukan zikir ritual sekian bilangan, melainkan yang paling mulia adalah menghargai hak-hak manusia sebaga sesama ciptaan Tuhan. Pendek kata, mecintai ciptaan, sama dengan mencitai sang pencipta; menghina ciptaan, sama dengan menghina sang pencipta. Dalam koteks takbir sebagai teologi pembebasan, memposisikan manusia setara, sama dengan memposisikan sang pencipta manusia saja satu-satunya yang layak diagungkan.

Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indodensia ke-74 ini merupakan memontom yang tepat untuk merefleksikan kembali bagaimana takbir tidak sekadar zikir lafziyah di mulut saja, tetapi bisa jadi teologi progresif yang membawa bangsa ini pada titik kemerdekaan.

Jika para pendahulu kita bisa dengan semangat takbir, maka kita juga bisa merawat persatuan ini dengan prinsip kesetaraan yang terdapat pada makna takbir. Kita sama-sama warga negara yang punya hak dan kewajiban yang setara, tidak ada pihak tertentu yang paling superior dan mendikte yang lain. Semuanya saling bahu-membahu dalam mewujdukan Indonesia yang unggul.

Facebook Comments