Menghadirkan Hijrah Inklusif Bagi Perempuan dan Semua

Menghadirkan Hijrah Inklusif Bagi Perempuan dan Semua

- in Suara Kita
743
0
Menghadirkan Hijrah Inklusif Bagi Perempuan dan Semua

Tatkala periodisasi reformasi bergulir, keterbukaan untuk banyak hal menjadi semacam lampu hijau bagi semuanya, tak terkecuali paradigma yang menghadirkan semangat ke-Islaman. Intrusi pemikiran yang dikategorikan sebagai pemahaman fundamentalis pun tidak ketinggalan turut serta. Perlu diketahui bahwa kategorisasi ajaran Islam yang masuk dalam kelompok fundamentalis pun sejatinya masih sangat umum.

Ada banyak aliran yang berangkat dari madzhab tertentu yang kemudian menghadirkan pemahaman fundamentalis tersendiri. Contohnya saja seperti kelompok Hizbut Tahrir yang ditolak di Indonesia jelas memiliki perbedaan dengan kelompok Jama’ah Islamiyah. Begitu juga seperti kelompok ISIS memiliki perbedaan pandangan politik dengan Ikhwanul Muslimin yang ditolak keberadaannya di beberapa negara Timur Tengah karena dianggap berbahaya.

Meskipun begitu, ada beberapa kesamaan dalam cara kerja beberapa kelompok tersebut. Salah satunya adalah banyak dari kelompok tersebut yang menuntut perubahan sikap bila hendak masuk menjadi bagian dari kelompok tersebut. Umumnya ungkapan Hijrah menjadi padanan kata yang menjelaskan perpindahan yang dimaksud.

Banyak sekali informasi mengenai ajakan hijrah (segera sadar) dari cara hidup yang sebelumnya dianggap kurang Islami menjadi lebih Islami. Tentu dalam konteks kebutuhan spiritualitas setiap individu, hal ini tidak jadi masalah. Persoalan muncul tatkala urgensitas hal ini mulai memunculkan arogansi dalam perwujudannya. Bahkan karena hal ini, pemaksaan ideologi dengan menggunakan kekerasan pun mulai banyak terjadi di masyarakat.

Belakangan, hal ini malah bukan lagi semata menjadi domain laki-laki. Mulai bermunculannya wajah-wajah kelompok “hawa” yang turut serta menjadi penggerak sikap radikal, menjadikan banyak dari kita sulit mengenali dan memaknai gerakan-gerakan ini – Meskipun sudah banyak para akademisi dan praktisi keberagaman yang mencoba menghadirkan pemaparan mengenai hal ini.

Perempuan dan Fenomena Hijrah dan Quasi Kapitalisme

Perlu diketahui bersama meskipun dalam penampilannya para perempuan ini seolah berposisi sebagai motor utama gerakan yang ada, namun kita tidak bisa abai dengan adanya faktor pendukung dan pemicu hal tersebut terjadi. Faktor-faktor tersebut memiliki ragam wujud, salah satunya adalah individu atau agen yang memiliki kepentingan. Sehingga, kita pun harus berbesar hati bila kita mulai menaruh curiga bahwa adanya potensi bila para perempuan tersebut hanya menjadi semacam capital (modal).

Baca Juga : Hijrah Menuju Imajinasi Konstruktif

Modal di sini bermakna sebagai alat yang digunakan pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau hanya sekedar upaya untuk mewujudkan kepentingan. Sekilas kepentingan yang menyusup dibelakang penggunaan perempuan sebagai modal ini adalah kepentingan para kaum islam radikal yang memiliki kecenderungan kuat untuk memaksakan ideologi islam puritan melalui agenda syariah Islam dan gagasan khilafah di negara ini. Namun siapa sangka bahwa ternyata ideologi quasi kapitalisme pun memiliki peranan.

Belakangan gerakan yang ada telah mentransformasikan diri ke dalam gaya berwajah menyerupai kapitalisme (quasi kapitalisme). Dengan mempergunakan agama sebagai alat, para perempuan yang kebanyakan berasal dari kaum muslim urban dibentuk sebagai modal baru untuk mengkampanyekan dan memperjuangkan langsung ajaran ini di semua lini.

Melalui pelibatan para perempuan dalam aktifitasnya, kelompok ini berhasil menuai cukup banyak keuntungan dari langkahnya ini. Sebab melalui perempuan, banyak ruang yang mampu mereka jangkau untuk mengkampanyekan pemahaman semacam ini. Ruang-ruang seperti keluarga, lingkungan masyarakat hingga media sosial akhirnya mampu dijangkau dengan sangat smooth. Tidak heran bila belakangan kita menemukan banyak peredaran orang, opini, iklan hingga kebijakan pemerintah yang seolah berpihak pada ajaran ke-islaman namun sejatinya hanya sebentuk komodifikasi dari spirit quasi kapitalisme.

Hijrah Inklusif: Harapan Berbangsa di tengah Kebingungan

Bila keinginan mempertahankan dan menjaga kemerdekaan bangsa ini memang menjadi semangat yang masih ingin terus diperjuangkan bersama, maka interpretasi hijrah seperti tergambar di atas haruslah dipinggirkan. Atas nama memanusiakan manusia dan menjaga keberagaman yang merupakan keniscayaan dari sang Khalik, maka interpretasi hijrah mesti mulai hadir dalam konteks menjaga keutuhan bangsa. Universalisasi nilai-nilai kemanusiaan di mana nilai-nilai keberagaman mendapat penghargaan yang tinggi mesti menjadi hal yang mendasar dalam memaknai hijrah.

Hijrah haruslah mulai disarikan sebagai sebuah langkah inklusif di mana perspektif yang dipakai tidak lagi hanya berhenti pada cara pandang sektarian. Upaya melihat manusia lain juga sebagai manusia serta mengupayakan jalinan persatuan guna merawat kehidupan di muka bumi haruslah menjadi lensa baru dalam melihat kehidupan ini. Kita tidak bisa lagi melihat sesama manusia semata dari identitas yang sejatinya pun sangatlah cair. Kita sebagai warga negara Indonesia mestinya mulai melihat potensi yang mendukung kohesifitas kita dalam berelasi satu dengan yang lain agar tidak malah menjadi “santapan” kapitalisme pihak (bangsa) lain

Pemaknaan yang demikian memungkinkan kita meningkatkan daya ikat kita dalam berbangsa dalam kondisi ketidak-pastian belakangan ini. Bahkan lebih dari pada itu, kemungkinan untuk kita menghadirkan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa lain dalam meningkatkan kualitas hidup jelas mendapat afirmasi. Sebab jalinan relasi yang terjalin dengan baik karena pemahaman fundamental mengenai hijrah yang inklusif sangat potensial meningkatkan semangat perjuangan sesama anak bangsa dalam mewujudkan visi dan misi kita sebagai bangsa Indonesia.

Facebook Comments