Menghalau Intoleransi dan Takfirisme dari Mimbar Akademik

Menghalau Intoleransi dan Takfirisme dari Mimbar Akademik

- in Suara Kita
581
1
Menghalau Intoleransi dan Takfirisme dari Mimbar Akademik

Sifat radikalisme di dunia modern itu bersifat acak, global, dan sulit dideteksi aktor, lokus, dan sebab-sebabnya. Bukan rahasia umum lagi, virus radikalisme sudah masuk –bahkan menjadi tempat persemaian di beberapa kampus di Indonesia. Takfirisme dan intoleransi sebagai benih radikalisme bersemayam dan merasuki sebagian para mahasiswa.

Intelektual millennial yang selama ini dianggap sebagai manusia-manusia yang berpendidikan, yang lebih kebal terhadap paham-paham ekstremisne dan radikalisme ternyata dalam beberapa kasus terakhir menunjukkan banyak yang ikut serta dan berafiliasi dengan ideologi radikal. Tentu ini sebuah ironi.

Gagasan kampus –sebagai mimbar akademik –harus steril dari kedua penyakit ini. Sebab jika tidak, di mana lagi kita menaruh harapan, dan tempat kita berjuang melawan virus takfiri dan radikal itu. Jangan sampai, benteng terakhir itu juga ditaklukkan oleh teologi yang anti terhadap perbedaan dan keberagaman.

Untuk itu, kerja-kerja kolektif harus menjadi fokus dan perhatian bersama. Intelektual millennial harus menghalau dan mengusir virus-virus yang bisa membawa manusia terjerumus ke dalam pintu-pintu ideologi takfirisme.

Memproteksi Kegiatan Ekstra

Penelitian terakhir menunjukkan, bahwa benih-benih radikalisme dan segala turunannya muncul dari kegiatan-kegiatan ekstra kampus. Sikap intoleran, tidak menghargai keragaman, merasa paling benar dan suci, menganggap pihak lain salah (takfiri), sebagian besar dikonsumsi oleh calon intelektual millennial itu dari kegiatan-kegiatan di luar kampus.

Baca Juga : Jadilah Intelektual yang Agamis Tanpa Mengkafirkan Sesama

Selama ini, pihak kampus dalam beberapa hal lebih concern mengurus bagian dalam kampus, mulai kelas mengajar, proteksi dosen yang dicurigai berpaham radikal, membuat kurikulum yang lebih inklusif, sampai kepada acara-cara seminar, workshop, dan sejenisnya. Sementara kegiatan-kegiatan ekstra kampus dalam beberapa kasus, justru terabaikan. Banyak mahasiswa di ruang kelas bersikap dan bertindak seperti biasanya, tetapi karena pengaruh komunitas, organisasi dan pengajian yang berafiliasi dengan ideologi radikal yang dia ikuti di luar kampus menjadikan dia bertindak di luar batas.

Kegiatan ekstra kampus tentu bukan satu-satunya jalan yang membuat seorang mahasiswa menjadi radikal atau ekstrem. Kedua penyakit ini adalah permasalahan kompleks yang sampai sekarang di setiap negara belum mendapat solusi yang manjur. Upaya yang dilakukan hanya sebatas meminimalisir, sementara menyelesaikan sepenuhnya butuh cara dan kerja keras dari semua pihak.

Sekalipun kegiatan ekstra kampus bukan satunya-satunya, akan tetapi sebagai pihak yang ikut menyumbang terjadinya radikalisme dan ekstremisne, ini perlu mendapat perhatian dari pihak kampus, pemerintah juga masyarakat, baik dalam bentuk regulasi, sanksi, maupun controlling dari warga.

Menumbuhkan Budaya Kritis

Menyelatkan mimbar akademik dari penjarahan oknum-oknum yang berpaham radikal tidak ada cara lain selain membudayakan nalar kritis. Kritis terhadap apapun, tak terkecuali paham keagamaan. Budaya kritis bisa menggunakan kerangka Kemanusiaan, Keindonesiaan, dan Kebhinekaan sebagai tolak ukur. Jika ada yang berseberangan dengan ketiga nilai ini, maka harus ditolak.

Kemanusiaan adalah realitas filosofis yang menuntut manusia untuk saling menghormati dan menghargai sesama layaknya manusia. Keindonesiaan adalah realitas historis, rumah kita bersama yang wajib kita jaga dan kita lindungi. Kebhinekaan adalah realitas sosial, di mana manusia-manusia di dalamnya secara aktual memang berbeda-beda, yang wajib kita rawat.

Menjadikan ketiga nilai ini sebagai tolak ukur dalam nalar kritis akan bisa menghalau virus-virus radikalisme berupa intoleransi, takfirisme, dan sikap mau benar sendiri. Apa pun yang bertolak belakang dari ketiga nilai itu harus ditolak dan dilawan.

Intelektual sebagai manusia terdidik dan mempunyai daya kritis harus  kebal dari bahaya kedua penyakit ini. Maka yang paling mendesak dilakukan sebenarnya adalah menumbuhkan daya kritisisme mahasiswa.

Selain membudayakan daya kritisisme kaum intelektual millennial, membumikan nilai-nilai juga perlu mendapat perhatian yang serius. Upaya ini tentu sudah dilakukan oleh Pemerintah dengan mensosialisasikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tuggal Ika. Dalam beberapa kegiatan acara ini mendapat respons yang serius dan antusias dari mahasiswa sebagai calon intelektual. Ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang berbondong-bondong mengikuti acara ini.

Sekalipun demikian, ajaran yang didapat mahasiswa di kegiatan ekstra dan luar kampus justru lebih efektif dan lebih berpengaruh terhadap pola pikir, bertindak dan bersikap dari mahasiswa. Ini terjadi, selain waktu yang mereka dapat di kampus lebih sedikit ketimbang di kegiatan ekstra kampus, juga materi yang didapat di luar/ekstra kampus lebih banyak ketimbang di dalam ruangan kelas.

Tentu apapun itu, radikalisme dan ekstremisne tentu merupakan musuh bersama, bukan hanya pihak kampus, apalagi hanya dibebankan kepada pejabat kampus dan dosen. Kedua penyakit ini adalah musuh dunia. Dibutuhkan kerja kolektif dan gandengan tangan untuk menghalau  dan mengusir paham yang membawa kepada ekstremisne dan radikalisme yang mewujud dalam sikap intoleran dan takfirisme.

Facebook Comments