Menghancurkan Indonesia dengan Menyerang Kearifan Lokal

Menghancurkan Indonesia dengan Menyerang Kearifan Lokal

- in Suara Kita
1252
0
Menghancurkan Indonesia dengan Menyerang Kearifan Lokal

Telah 76 tahun Indonesia merdeka. Selama itu pula rakyat Indonesia telah berhasil mempertahankan kemerdekaannya. Tapi saat ini, ada satu ancaman besar yang tengah dihadapi bangsa ini. Sesuatu yang tidak kasat mata namun memiliki daya penghancur luar biasa. Tidak lain adalah munculnya gerakan ideologi baru yang disebut “ideologi transnasional” sebagai manifesto paham Islam radikal yang bersumber dari Timur Tengah yang bertujuan meraibkan ideologi Pancasila.

Ideologi Transnasional ini bertujuan untuk melakukan perubahan revolusioner dan radikal dengan cara mengganti Pancasila karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan dinilai tidak akomodatif terhadap dakwah Islam. Ideologi “perusak” ini memilikinya visi gerakan keagamaan yang menelusup pada ranah kultural dan struktural. Ditingkat akar rumput berupaya membangun basis kekuatan melalui doktrin manis surga (doktrin jihadis) kepada muslim tradisional yang lemah ilmu agamanya sehingga mudah dikibuli. Demikian pula di wilayah politik praktis, mereka merangsak masuk untuk menduduki jabatan-jabatan strategis sebagai jalan memuluskan visi gelap mereka melalui alat kebijakan.

Ideologi transnasional membayangi beberapa organisasi kemasyarakatan dan partai politik. Ini terlihat dari beberapa ormas dan partai politik yang mendasarkan gerakan dan aksinya di lapangan kepada ideologi transnasional. Awalnya memang terkesan manis, seolah-olah mengayomi, menjanjikan kedamaian, dan harapan tatanan bangsa yang lebih baik. Akan tetapi, janji manis itu sirna tatkala kelompok berideologi transnasional telah mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab, mereka sesungguhnya berorientasi pada wilayah kekuasaan dan kepentingan pragmatis. Tidak murni gerakan agama yang ikhlas dan Lillahi Ta’ala. Lihatlah, banyak negara Timur Tengah yang menjadi korbannya.

Itulah kenapa ideologi transnasional harus diwaspadai. Indonesia saat ini sedang mengalami benturan ideologi global. Benturan itu, khususnya tengah dihadapi oleh NU dan Muhammadiyah yang mengusung konsep moderasi beragama, juga organisasi-organisasi keagamaan yang semisal dengan keduanya yang terbukti mampu merekatkan kesatuan bangsa dengan masyarakatnya yang beragam.

Sebagaimana diketahui bersama, NU dan Muhammadiyah melakukan gerakan keagamaannya dengan cara mengakomodasi budaya-budaya lokal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal agama Islam. Dan hal demikian memang tujuan yang dikehendaki oleh misi “Islam rahmatan lil’alamin” yang digariskan oleh Baginda Rasulullah. Terutama dalam hal menghormati perbedaan agama dalam komunitas suatu bangsa. Piagam Madinah menjadi bukti paling otentik ketika negara Madinah waktu itu bisa hidup damai berdampingan antar pemeluk agama.

Kita bandingkan dengan ideologi transnasional yang mengusung gerakan radikalisme agama dan terorisme. Semuanya harus bercorak Islam dengan wajah yang sangat tekstual. Nama harus kearab-araban, Undang-undang harus berlabel syariat, pakaian juga begitu. Sehingga Pancasila meskipun telah nyata-nyata tidak bertentangan dengan al Qur’an maupun hadis tetap harus diganti.

Tidak sampai di situ saja, kearifan lokal masyarakat Nusantara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam juga harus ditiadakan karena dinilai bid’ah dan tradisi kafir. Padahal, dari dulu, kearifan lokal tersebut yang mampu mengikat erat masyarakat Nusantara dalam satu jalinan persaudaraan kemanusiaan dan menganggap Indonesia sebagai rumah besar bersama, bersama-sama menjaganya, bahu-membahu mempertahankannya dan kedaulatan negara di atas segalanya.

Oleh karena itu, merawat kearifan lokal sangat penting untuk melawan infiltrasi ideologi transnasional yang bertendensi mengancam keutuhan NKRI. Kearifan lokal yang sesuai dengan jalan agama Islam rahmatan lil’alamin yang banyak ditemukan diberbagai daerah harus terus lestari. Falsafah-falsafah hidup yang mengedepankan kemanusia, perdamaian, persaudaraan, dan kebersamaan harus selalu dijiwai kalau tidak ingin Indonesia hancur oleh gerakan ideologi transnasional yang cenderung garang, arogan, intoleran, dan radikal yang mengarah pada terorisme.

Facebook Comments