Menghijrahkan Perpecahan

Menghijrahkan Perpecahan

- in Suara Kita
768
1
Menghijrahkan Perpecahan

Fenomena hijrah kini telah menjadi populer di berbagai kelompok masyarakat. Ramai-ramai orang menggunakan istilah ini untuk menunjukkan perubahan menuju kebaikan. Misalnya, banyak artis-artis yang hijrah dari dunia gemerlap menuju kehidupan yang sederhana. Ada juga musisi-musisi yang hijrah dari kehidupan hedonis menjadi keseharian yang penuh kebajikan. Tidak hanya kaum selebritis saja yang terpesona dengan gerakan hijrah. Masyarakat luas pun tertarik dengan berbagai gerakan hijrah ini. Seperti pengendara motor hijrah, pedagang hijrah, mahasiswa hijrah, dsb. Berbagai semangat hijrah ini perlu dipandang secara positif karena menunjukkan kemauan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat.

Berbicara tentang hijrah, ingatan kita akan terlempar pada peristiwa perjalanan rasulullah dari Mekah menuju Madinah. Peristiwa bersejarah dalam Islam yang menjadi tonggak penetapan kalender Islam. Saat itu, dakwah rasulullah tidak mendapat tempat di hati masyarakat. Cercaan dan hinaan selalu diarahkan untuk menolak risalah kebenaran yang dibawa oleh rasulullah. Hingga akhirnya, musuh-musuh nabi ingin melakukan pembunuhan terhadap dirinya. Allah menurunkan malaikat Jibril untuk memberitahukan rencana keji tersebut. Atas perintah Allah, rasulullah akhirnya berhijrah meninggalkan Mekah. Rasulullah ditemani oleh salah satu sahabat terbaiknya yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Dalam perjalanan ke Madinah, beliau menggunakan arah selatan untuk mengelabui kaum kafir Quraisy. Keduanya pun sempat bermalam di Gua Tsur.

Peristiwa hijrah memancarkan berbagai pesan dan pelajaran yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan kontemporer.

Pertama, hijrah mencontohkan pada kita strategi untuk pembauran sosial. Kaum Muslim Mekah yang melakukan hijrah ke Madinah diterima dengan tangan terbuka oleh kaum Anshor. Mereka membantu saudara-saudara mereka agar merasa tenang dan nyaman hidup di Madinah. Interaksi kedua kelompok ini pun diabadikan dalam Al-quran surah Al-Hasry ayat 9 yang berbunyi, “Dan orang-orang yang telah menempati  Madinah dan telah beriman (kaum anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan tersebut. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Baca Juga : Hijrah: Meninggalkan Ujaran Kebencian, Membangun Persaudaraan

Jika kita tarik pesan di atas dalam kehidupan bangsa Indonesia, maka sangat penting diterapkan. Pembauran sosial masyarakat harus selalu didorong tanpa henti. Terlebih lagi, bangsa ini sangatlah majemuk. Berbagai perbedaan di masyarakat semestinya tidak menjadi hambatan untuk saling berbaur. Suku jawa dengan suku Sunda, etnis Madura dengan etnis Minang, suku Batak dengan suku Asmat, semuanya adalah sama dalam konteks Indonesia. Saling menerima perbedaan dengan tulus, sekaligus membantu jika ada yang membutuhkan. Maka, ketika ada tindakan yang melecehkan ras tertentu (seperti kasus di Surabaya), merupakan bentuk penyelewengan terhadap ikatan kebangsaan dan kemanusiaan. Sebab, tidak ada manusia yang berhak merasa lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain. Sekaligus, tidak perlu merasa rendah di hadapan pihak lain. Semuanya adalah setara dan sejajar. Semuanya merupakan anak-anak Ibu Pertiwi.

Kedua, hijrah merupakan proses untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Dari kegelapan, menuju cahaya. Dari penindasan, menuju kebebasan. Dari kebodohan, menuju kepintaran. Tidak stagnan dengan kondisi yang belum ideal. Ada usaha dan keinginan kuat untuk memperbaiki keadaan. Ketika menyadari ada peluang kebaikan saat hijrah, maka harus dilakukan segera. Quraish Shihab (2007:419) menjelaskan bahwa hijrah merupakan upaya menghadapi masa dengan dengan semangat perjuangan dan optimisme.

Dari dua pesan ini, kita bisa melihat bahwa hijrah merupakan peristiwa penting untuk merekatkan persaudaraan bangsa ini. Jika hijrah dalam Islam menjadikan muhajirin dan anshar sebagai saudara atas ikatan keimanan, maka hijrah dalam konteks Indonesia adalah menjadikan kelompok-kelompok yang berbeda sebagai saudara atas ikatan kebangsaan. Ada kesadaran mereka yang berbeda sejatinya memiliki gambaran utuh yang satu tentang Indonesia. Lupakan tentang beragam identitas yang dimiliki oleh individu-individunya. Lupakan suku-suku dan agama-agamanya. Selama mereka mencintai dan rela berkorban untuk Indonesia, kita semua adalah saudara. Oleh karena ini, mari kita menghijrahkan (memindahkan) perpecahan ke tempat yang tidak bisa dijangkau manusia Indonesia. Sehingga negeri ini selalu aman dan damai dalam perbedaan.

Facebook Comments