Mengikat Kebhinekaan dengan Tali Persaudaraan

Mengikat Kebhinekaan dengan Tali Persaudaraan

- in Suara Kita
1349
0
Mengikat Kebhinekaan dengan Tali Persaudaraan

Kebhinekaan adalah sunatullah. Keragaman etnis, aliran, golongan, bahasa, agama, dan budaya adalah fakta sosial yang tak bisa dinafikan. Perbedaan sebagai fakta sosial harus dirawat.

Manusia tidak boleh terjebak pada sektarianisme, suatu sikap/tindakan yang didasarkan pada menguatnya satu kelompok/golongan tertentu yang mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan marginalisasi kelompok/golongan lain. Mengelola keberagaman adalah suatu keniscayaan.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, keberagamaan itu harus dikelola sehingga ia bisa menjadi nikmat dan kekuatan, bukan jadi azab dan sumber dari kelemahan.

Ketiadaan pengelolaan yang bagus akan melahirkan arogansi kelompok, yakni merasa kelompoknya lah yang paling benar, paling baik, serta paling berjasa. Sementara kelompok lain dianggap tak berjasa, dan tidak ada kebenarannya.

Arogansi kelompok bisa melahirkan mayoritasisme, suatu sikap/tindakan yang selalu menjadikan kepentingan mayoritas sebagai rujukan. Siapa yang paling banyak, dialah penentu segala, baik soal kebenaran, kebaikan, maupun soal keindahan.

Inilah yang disebut fanatisme, suatu sikap yang berlebihan terhadap golongan/kelompoknya. Akibatnya, upaya untuk saling memahami dan saling memberdayakan tidak berjalan. Yang ada sikap mau menang sendiri. Solidaritasnya hanya terbatas pada solidaritas kesukuan.

Simpul Kebangsaan

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, solidaritas kesukuan harus digeser kepada solidaritas kebangsaan. Solidaritas kebangsaan ini ditandai dengan rasa sepengalaman, senasib-sepenanggungan.

Kita sama-sama punya pengalaman masa lalu yang sama, berjuang bersama, merebut kemerdekaan secara bersama, dan mempertahankan kemerdekaan juga secara bersama-sama.

Untuk itu, dalam merawat dan mengisi kemerdekaan ini kita juga harus bersama-sama. Tidak boleh ada yang merasa paling berjasa, paling benar sendiri. Semua anak bangsa adalah warga-negara yang setara serta punya hak dan kewajiban yang sama.

Sikap rasisme yang berpangkal dari fanatismeharus dibendung. Adanya gerakan yang mau bermaksud menghidupkan kembali sektarianisme mau membangun ideologi politik tertutup (hizbiyah) harus dilawan.

Kedua gerakan ini sangat merusak tatanan persatuan dan kesatuan bangsa. Kerusuhan dan konflik yang sering terjadi adalah contoh konkrit  ketika perbedaan itu tidak bisa dikelola dengan baik.

Menguatnya fanatisme beragama, dengan menganggap agamanyalah –paling berhak, yang terjadi justru peperangan dan kekerasan. Sektarianisme menguat. Masyarakat terbelah menjadi “Kami” versus “Mereka”.

Kami adalah nomor satu, mereka nomor sekian di bawah. Akibatnya perang sesama warga tak terelakkan. Korban berjatuhan. Peristiwa di negara lain seharusnya menjadi contoh konkrit bagi bangsa Indonesia, bahwa ongkos yang harus dibayar dari munculnya rasismeitu sangat mahal.

Kita harus membayarnya bersama-sama. Fisik rusak, psikis hancur, dan tak ada kehidupan yang harmonis, nyaman, dan damai. Solidaritas kebangsaan adalah koentji.

Sikap saling asah dalam beragama, saling asuh dalam bermasyarakat, dan saling asih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita harus kembali kepada persaudaraan (ukhwah) sebagai tali ikatan kita bersama.

Mengikat Persaudaraan

Dalam tenunan kebangsaan, kita semua adalah saudara. Lahir dan tumbuh dalam satu gerak pengalaman yang sama, yakni sama-sama anak bumi Nusantara. Ikatan persaudaraan harus menjadi modal utama dalam setiap gerak kehidupan kita.

Kita bisa mengambil ilustrasi yang dibuat sendiri oleh Nabi. Persaudaraan itu ibarat satu organ tubuh, jika sakit satu organ (tangan umpamanya), organ tubuh yang lain ikut merasakannya.

Para leluhur kita menerjemahkan hadis ini dengan kata senasib-sepenanggungan. Kita sama-sama dalam satu tarikan nafas. Jika satu bahagia, kita ikut bahagian. Jika satu berduka, yang lain ikut berduka.

Persaudaraan adalah inti dari solidaritas kebangsaan itu. Dengan menganggap bahwa kelompok/agama lain adalah saudaraku, maka tak mungkin kita tega menyakitinya apalagi memeranginya.

Diskriminasi dan intoleransi lahir dari tidak adanya perasaan senasib-sepenanggungan itu. Intoleransi adalah sikap arogan yang lahir dari pikiran bahwa kami adalah paling benar, baik, dan layak. Mereka adalah liyan, orang asing yang tak perlu dihormati.

Persaudaraan dalam segala level –agama, bangsa, dan kemanusiaan –harus jadi pedoman bersama. “Jika kamu bukan saudara seagamaku, maka kamu adalah saudaraku sesama manusia” begitu ungkapan Ali bin Abi Thalib. Ungkapan ini sagat layak dijadikan oleh kita dalam mengelola keberagaman Indonesia.

Facebook Comments