Mengikis Intoleransi Sejak dalam Keluarga

Mengikis Intoleransi Sejak dalam Keluarga

- in Suara Kita
1185
0
Mengikis Intoleransi Sejak dalam Keluarga

Keluarga merupakan kunci utama dalam menjaga kerukunan umat beragama. Tidak mengherankan jika ada adigium bahwa bangsa yang baik ditentukan oleh kondisi keluarga yang baik. Keluarga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi sejak anak masih kecil. Sejak dari unit paling kecil ini anak-anak harus diberikan pemahaman bahwa perbedaan bukanlah alasan yang dapat menjadi pemicu permusuhan, namun perbedaan justru sebuah kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, bahkan dalam keluarga pun niscaya ada perbedaan. Setiap anggota keluarga pasti memiliki perbedaan sikap, bahkan tidak sedikit dalam anggota keluarga ada yang memeluk agama berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kesatuan keluarga pun diliputi dengan perbedaan.

Begitupun dengan masyarakat dan negara yang sangat luas. Dalam rumah tangga besar bernama Indonesia, semua warga Indonesia meski memiliki perbedaan keyakinan, suku, bangsa, etnik, bahasa bahkan hoby yang berbeda-beda. Perbedaan tidak bisa dihindari dan disangkal. Karena itulah, penting sejak dini mengenalkan anak tentang perbedaan.

Salah satu pilihan sikap yang terbaik adalah toleransi. Sikap toleransi merupakan sikap saling menghormati perbedaan yang ada dalam diri manusia yang merujuk kepada perbedaan etnis dan agama. Sikap toleransi akan mampu membuat kita mau belajar dari orang lain, menghargai adanya perbedaan yang nantinya akan membawa kita untuk menemukan kesamaan, bahkan toleransi akan mampu menjembatani kita dalam kesenjangan budaya yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah.

4 Cara Mencegah Intoleransi Buah Hati

Penyakit dalam keragaman adalah intoleransi. Anak sejak dini harus dikenalkan tidak hanya persoalan perilaku menyakiti orang lain, sikap kejam, menindas dan mencuri, tetapi bagaimana tidak memandang yang berbeda sebagai musuh.  Norma sosial tentang pergaulan dalam perbedaan harus diperkuat sejak awal. Anak-anak harus banyak dikenalkan dengan keragaman sebagai anugerah.

Ada beberapa pendekatan dalam menanamkan toleransi kepada anak. Pertama, Dengan menanamkan toleransi sejak dini, orang tua bisa mengajak anak untuk berdiskusi tentang toleransi dan rasa saling menghormati. Diskusi seperti ini akan sangat membantu anak untuk mau belajar lebih banyak tentang nilai-nilai yang ingin mereka miliki. Diskusi dengan buah hati adalah cara terbaik untuk membuka wawasan.

Kedua, selain berdiskusi orang tua juga bisa menanamkan sikap toleransi dengan cara berdongeng. Berdongeng tidak melulu masalah dongeng si kancil atau cerita-cerita legenda. Tapi dongeng juga akan mampu menyampaikan pesan dalam cerita yang akan dengan mudah dipahami anak-anak.

Dongeng akan sangat efektif karena kita menyampaikan pesan moral saat anak sudah mulai tertidur dan itu membuat alam bawah sadar sang anak akan menyimpan memori tersebut. Pendekatan dongen penting saat ini digalakkan dalam menanamkan pendidikan toleransi kepada anak. Kekuatan dongeng mampu menjadi pelajaran berharga yang mudah diingat dan dipegang lama.

Ketiga, mengajarkan kembali permainan tradisional untuk menghargai keragaman lokalitas. Selain itu, permainan tradisional mampu membiasakan anak untuk bermain dan belajar dengan anak-anak lainnya tanpa melihat latar belakangnya. Tindakan ini akan membuat anak-anak belajar secara langsung bahwa setiap anak memiliki persamaan dan perbedaan yang tidak perlu dipermasalahkan.

Keempat, mendidik dengan keteladanan. Dalam mengajarkan toleransi kepada anak, penting diingat jika seorang anak adalah peniru yang ulung. Orangtua yang ingin mengajarkan anak agar menghargai keragaman harus peka terhadap budaya yang mungkin telah mereka pelajari. Pastikan orang tua juga mencontohkan sikap menghormati orang lain di depan anak-anaknya.

Tunjukkan bahwa orang tua dapat menerima kemampuan dan minat sang anak dengan saudaranya yang mungkin berbeda. Hargai keunikan setiap anggota keluarga di rumah. Dan jangan lupa selalu mengingatkan pada anak bahwa toleransi tidak berarti menoleransi perilaku yang tidak dapat diterima. Artinya setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat dan harus memperlakukan orang lain dengan hormat juga.

Facebook Comments