Mengimplementasikan Pesan Pancasila untuk Melawan Ideologi Anti-NKRI

Mengimplementasikan Pesan Pancasila untuk Melawan Ideologi Anti-NKRI

- in Suara Kita
1159
0

Tanggal 30 September 1965, sejarah kelam pertumpahan darah terjadi di Indonesia. Rezim Soekarno diruntuhkan dan Jenderal-jenderal dibunuh oleh upaya yang terstruktur, sistematis dan masif yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kepentingannya hanya satu, yakni mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis. Namun, sejarah juga mencatat, sekalipun Pancasila dihadapkan secara vis a vis dengan praktik radikalisme ideologi kiri pada saat itu, Pancasila masih tetap eksis sebagai ideologi bersama yang kita sepakati dan diterima oleh seluruh rakyat Indonesia.

Setelah setengah abad berlalu, nyatanya konflik ideologi masih saja terjadi di Indonesia. Kini, musuh ideologi yang nyata tumbuh bukan lagi ideologi kiri sebagaimana dalam G30S/PKI sekalipun isu komunis yang tanpa bukti terukur itu masih saja terus dipakai. Musuh yang kita hadapi adalah radikalisme ideologi kanan, yang menghendaki ideologi Pancasila menjadi beridiologi salah satu agama di Indonesia. Sebagai negara majemuk yang memiliki keragaman ras, agama, suku dan budaya, hal tersebut jika dilakukan tentu akan menyebabkan konflik dan kecemburuan sosial yang luas di seluruh Indonesia.

Tentu saja, kita tidak menghendaki hal tersebut terjadi. Kita tidak pernah menghendaki pertumbahan darah kembali terjadi di NKRI atas nama konflik ideologi yang sebenarnya sudah final. Karena selain membuat situasi NKRI tidak tenteram untuk dihuni, juga berpotensi merusak keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lihat saja, kehadiran ideologi transnasional yang sering menyebar ancaman teror melalui bom bunuh diri atau lonewolf. Bahkan mereka juga tak segan-segan mengangkat narasi agama dan pemarjinalan pemeluk agama lain untuk melegalkan tindakan antikemanusiaan tersebut. Maka itu, segala bentuk upaya penggantian ideologi tersebut harus dihentikan.

Perlu dipahami, sungguh konflik ideologi tersebut akan menghambat kemajuan NKRI.  Lihat saja, negara kita masih kalah jauh dibanding negara-negara lain yang telah memiliki peradaban yang lebih maju dan berdikari. Ini karena konflik ideologi hanya akan membuat kita hanya sibuk bertengkar dengan bangsa kita sendiri, bukan memperbaiki negeri. Sungguh. para Founding Fathers NKRI pasti akan menangis dan mengutuk kita sebagai anak-cucu generasi penerus yang durhaka. Lagipula, bukankah para Founding Fathers NKRI telah merumuskan Pancasila yang menjadi alat pemersatu bangsa? Dan, bukan pemecah-belah bangsa.

Dalam konteks tersebut, ketika kita mengaku warga negara Indonesia, maka kita harus gotong-royong menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Pancasila adalah gagasan abstrak sebagai kristalisasi pikiran dan perasaan segenap warga bangsa ini. Sebagai alat pemersatu dan harmonisasi masyarakat, ideologi itu tidak hanya perlu dikenal, tetapi juga perlu dihayati dan diamalkan.

Goenawan Mohammad pernah menyatakan, ”Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan rumusan yang ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan…. Kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi—yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Kita membutuhkan Pancasila kembali karena merupakan proses negosiasi terus-menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa ”eka”, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan, dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha benar. Kita membutuhkan Pancasila kembali: seperti saya katakan di atas, kita hidup di sebuah zaman yang makin menyadari ketidaksempurnaan nasib manusia.” Ungkapan tersebut sejatinya menegaskan bahwa kita membutuhkan Pancasila sebagai titik temu. Ini karena, Pancasila adalah jalan pemersatu keberagaman kita bersama.

Mengenai ini, setidaknya ada dua hal agar Pancasila dapat diletakkan sebagai dasar pengukuh kebersamaan dalam mengentaskan NKRI dari segala problematika kebangsaan. Pertama, bagaimana menempatkan diri bersama orang lain yang berbeda latar belakang identitas. Kedua, bagaimana memperlakukan orang lain yang sedang khilaf dan menyikapi dengan bijaksana demi terjalinnya rasa kesetiakawanan dan semangat persatuan.

Dari narasi-narasi di atas, jelas bahwa ketika kita menghendaki adanya kehidupan yang damai dan jauh ideologi anti-NKRI, kita semua perlu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengimplementasikan Pancasila secara utuh, kita tidak akan memberi ruang untuk ideologi-ideologi lain yang anti-NKRI tumbuh subur di negara kita. Kita bisa membuat NKRI sebagai rumah kita bersama yang aman, nyaman, dan tenteram. Bukan penuh permusuhan dan pertikaian. Sehingga, tidak ada lagi ideologi dan perilaku radikal/terorisme yang selalu mengancam kita dimanapun berada.

Maka, dalam kondisi ini, kita perlu menahbiskan komitmen utuh kita kepada Pancasila. Jangan sekali-kali kita goyah kepada Pancasila. Sekali kita goyah, niscaya kebhinnekaan kita akan terancam. Karenanya, jangan menyalahkan Pancasila kalau terjadi carut-marut di NKRI yang kita huni sekarang. Yang salah adalah implementasi Pancasila (Yunanto, 2017). Artinya, sejauh mana implementasi Pancasila untuk memperbaiki friksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sejauh itu pulalah kesaktian Pancasila bagi sebuah bangsa.

Pancasila tidak akan mungkin bisa menjadi sakti dengan sendirinya, karena itu, kita harus terus berjuang menjadikan Pancasila sakti. Yaitu Pancasila yang hidup dalam kenyataan atau meminjam istilah Bung Karno, Pancasila dalam realiteit. Maka, kesaktian Pancasila harus dimaknai sebagai tuntutan bagi negara dan warganya untuk membumikan nilai-nilai instrinsik-fundamental Pancasila dalam ranah praksis-konkret. Jadi, kita harus bermusabah diri, apakah Pancasila sudah benar-benar terimplementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita jalani.

Itulah mengapa kita harus mengusahakan bersama dan bahu-membahu agar NKRI ini damai, dengan berupaya membangun kehidupan yang penuh tepo sliro, tenggang rasa, toleransi dan moderasi antarsesama. Satu-satunya jalan ialah, yakinlah, Pancasila itu ideologi yang paling relevan untuk mempertemukan keberagaman yang sekaligus bisa juga menjadi solusi setiap masalah bangsa apabila benar-benar kita rawat dengan implementasi terhadap nilai-nilai yang ada di dalamnya!. Wallahu a’lam.

Facebook Comments