Mengobati Candu Teknologi

Mengobati Candu Teknologi

- in Suara Kita
206
3
Mengobati Candu Teknologi

Kemajuan teknologi dan informasi yang kian masif menyebabkan fenomena baru terhadap cermin kehidupan masyarakat. Tak bisa diingkari bahwa pesatnya pertumbuhan teknologi juga berfungsi untuk menciptakan role model baru pada efisisensi dalam berbagai kehidupan, tetapi dampak yang ditimbulkan dari adanya kemajuan teknologi tersebut memberikan candu—efek negatif—pada generasi muda. Menyikapi fenomena demikian, Marc Prensky mengklasifikasi generasi menjadi dua kutub, yaitu generasi digital immigrants dan digital native.

Istilah digital immigrants adalah generasi yang lahir sebelum tahun 1990-an. Generasi ini dilahirkan dengan tanpa bersentuhan dengan teknologi. Bertolak belakang dengan generasi immigrants, maka generasi digital native yang dilahirkan pada sekitar abad ke-20 sudah sejak lahir bercengkerama dengan teknologi. Dari pembagian generasi menurut Marc Prensky, jika diambil dari segi kelahiran era 1990-an, maka bisa digolongkan generasi Y atau yang biasa disebut generasi milenial. Istilah tersebut berasal dari millennial yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberpa bukunya.

Kecenderungan adanya generesi digital native lebih berkecimpung pada dunia maya. Adanya kehidupan yang lebih diorientasikan pada dunia maya yang secara selintas juga berdampak pada pola disiplin terhadap lingkungan dan kontrol diri pada jiwanya. Inilah sebenarnya masalah yang mengkhawatirkan generasi milenial, yang dikatatan sebagai generasi yang produktif menjadi menyimpang. Permasalah yang sudah lama tapi tidak kunjung mereda adalah adanya efek “global phobia” yang secara perlahan tapi pasti menjangkiti generasi saat ini (Moh Nurul Huda: 2018).

Baca juga : Lailatul Qadardan Meraih Fitrah Kemanusiaan

Terlepas dari adanya dampak buruk demikian, harus diakui bahwa pertumbuhan teknologi dan informasi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi kehidupan. Fungsi teknologi semakin memberikan kemudahan untuk mengerjakan kegiatan yang berhubungan dengan kepraktisan di era milenial. Tentu hal ini berbanding terbalik kepada kehidupan generasi immigrant karena kemudahan semacam ini justru masih dianggap sebagai kemewahan tersendiri.

Sejajar dengan kenyataan demikian, adanya kepraktisan yang semakin terasa justru banyak  dislahgunakan oleh generasi digital native. Tengoklah kebanyakan anak zaman sekarang ini yang lebih mementingkan bermain gadget daripada menenuaikan kewajibannya. Generasi tersebut justru tidak memanfaatkan fasilitas sesuai dengan kebutuhan. Hal ini terlihat jelas dengan terjadinya ketimpangan berupa tidak terkontrolnya kehidupan anak kebanyakan yang justru setengah hidupnya digunakan untuk bermain gadget dan menyusuri dunia maya, hingga menghiraukan ceramah dan perintah orang tuanya.

Adanya dampak-dampak seperti itu,  semakin meunjukkan bahwa diperlukan adanya literasi media untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang bermedia secara tepat dan benar. Kenyataan ini semakin menunjukkan betapa kekhawatiran Neil Postman yang menyebutkan tentang kehidupan manusia yang hanya akan diperbudak oleh teknologi. Dalam pandangannya yang tertuang pada buku “Technopoly; The Surrendur Of Culture to Technology”, Postman mengatakan bahwa “jika para pelajar mendapatkan pengajaran cukup tentang sejarah, efek sosial, dan dampak psikologis dari teknologi, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mengetahui bagaimana menggunakan teknologi dan bukan sebaliknya, generasi yang diperbudak teknologi.”

Beranjak dari pernyataan tersebut, seharusnya bisa dijadikan renungan dan menjadi temparan keras bagi pemerintahan dan orang tua, khususnya diri sendiri. Hal ini disebabkan karena kurangnya wawasan terhadap pengaplikasian teknologi mengenai segala dampak baik dan  buruknya  akan mengakibatkan generasi-generasi selanjutnya akan memaknai tekonologi secara salah kaprah. Oleh sebab itulah, diperlukan adanya solusi-solusi yang cerdas tentang beragam kebijakan yang seharusnya bisa membatasi generasi digital native untuk menggunakan teknologi secara baik dan benar (Baca: Mendidik Anak di Era Digital).

Adanya aturan-aturan tersebut bisa berkiblat pada peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan di luar negeri. Seperti peraturan pemerintah Prancis yang melarang keras anak-anak SD dan SMP menggunakan gadged. Tidak jauh berbeda dengan Perancis, Jerman dan Finlandia juga membatasi penggunaan gadget bagi anak-anak.

Melihat kenyataan demikian, maka diperlukan adanya pengukuhan untuk mendeklarasikan pertumbuhan semangat literasi media agar bisa dilaksanakan kepada semua lapisan. Sebenarnya wacana tentang literasi media sudah lama dan sudah banyak yang mengaplikasikan, akan tetapi hanya bersifat sementara dan masih minim progresifitas yang bersifat  berkelanjutan.

Perlunya pengaplikasian yang lebih menjanjikan agar perbaikan litersasi media selalu ditampakkan, menjadi peristiwa yang harus digelar secara intensif dan masif. Dalam situasi seperti ini, setidaknya kita perlu mencontoh negara Kanguru. Seperti yang telah di implementasikan di sana, literasi media menjadi bagian paling utama didalam kurikulum setiap sekolah. Oleh karena itulah perlunya anak-anak diajari beragam hal tentang dampak positif dan negatif teknologi, begitu juga cara mengakses internet yang sehat dan bermanfaat (Agus Sudibyo: Menyelamatkan Generasi Digital).

Tidak sampai di situ saja, peran dari orang tua untuk mengawasi setiap anaknya juga sangat penting, agar si anak mengetahui secara positif fungsi teknologi sehingga tak digunakan sesukanya. Demikian pula, pengawasan ini juga dapat digunakan sebagai sarana edukasi kepada anak-anak agar mengetahui manfaat teknologi. Selain itu, hal ini juga dapat mengajarkan kepada generasi digital supaya tak terjebak pada informasi-informasi yang mengarah pada berita bohong, terorisme, dan perihal negatif lainnya yang mengarahkan kepada kebencian. Dan setelahnya, ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dan harus dijaga, sebab mereka tidak bisa lepas dari genggaman teknologi, dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Facebook Comments