Mengorbankan Egoisme, Meneguhkan Kepedulian Sosial

Mengorbankan Egoisme, Meneguhkan Kepedulian Sosial

- in Suara Kita
146
2

Hari Raya Idul Adha merupakan momentum mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam membuktikan keimanannya. Keduanya sosok hamba terpilih, seimbang nafsu dalam diri langsung tunduk di hadapan wahyu Allah SWT. Nabi Ibrahim benar-benar ta’at kepada wahyu yang sampai kepadanya. Sementara Ismail juga ta’at atas wahyu yang diterima ayahnya, sekaligus wujud baktinya kepada orang tua.

Nabi Ibrahim mengajarkan kepada umat manusia untuk tulus dalam mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan kemanusiaan. Peristiwa kesediaan Ismail untuk disembelih sang ayahanda merupakan bentuk kekuatan iman yang kuat dan simbol berserah diri kepada Allah secara total. Demikian juga sang ayah. Dengan mematuhi perintah-Nya, walaupun dengan sedih, Nabi Ibrahim tetap teguh, tegar, dan yakin bahwa yang dijalankan adalah sebuah kebenaran.

Allah mengabadikan kisah Ismail dalam QS Ash Shaaffaat ayat 102.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102).

Keyakinan sang ayah dan sang anak tersebut merupakan modal awal seseorang mengabdikan dirinya kepada Allah. Keimanan yang dimiliki Ismail mampu mematahkan berbagai ego pribadinya dan ayahandanya. Apa yang dilakukan Ismail inilah yang kemudian Idul Adha juga dinamakan Idul Qurban. Pengorbanan kedua Nabi di atas merupakan bukti bahwa totalitas ketaqwaan mereka bukanlah untuk ‘diri sendiri’, namun berimplikasi positif terhadap kemaslahatan sosial. Ketaqwaan sosial jugalah yang dijadikan spirit Nabi Musa dan Muhammad membebaskan kaumnya dari bencana penindasan.

Baca juga : Berkurban: Meyembeli Sifat Kebinatangan untuk Perdamaian

Spirit Idul Adha sesuai dengan makna historisnya, merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu di maknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal agama. Dalam Islam, makna kontekstual suatu ibadah tidak bisa dilepaskan dari tiga hal, yakni aspek horisontal (hablun mi al-nas), aspek vertikal (hablun min Allah), dan aspek diagonal-frontal. Ketiga aspek ini tidak bisa dilihat secara parsial, namun harus dipandang secara integral, utuh, dan menyeluruh. Panggilan berkurban hendaklah disikapi secara multidimensional yang penuh keterpaduan, paling tidak dia mencakup dua aspek; horisontal dan vertikal.

Dalam aspek vertikal, Idul Qurban jelas merupakan langkah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini sesuai dengan makna kurban sendiri yang berarti dekat. Namun kedekatan kepada Allah saja tidaklah cukup. Maka pemaknaan kurban harus juga dimaknai secara horisontal. Pengorbanan yang dilakukan Ibrahim dan Ismail tidak saja mendekatkan mereka kepada Allah, namun juga mengantakan mereka untuk selalu mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan umat manusia.

Sedangkan simbol kambing yang menjadi pengganti Ismail adalah simbol kekayaan bangsa Arab ketika itu. Orang yang mempunyai kambing dikatakan sebagai orang yang memiliki kekayaan berlimpah ruah. Maka dengan mengorbankan kambing, seseorang seolah elah mengorbankan segala yang dimiliki. Dalam konteks sekarang, berkorban seharusnya melampaui dari pada sebatas kambing saja. Sudah seharusnya kita berani mengorbankan apa yang kita senangi untuk kepentingan umat manusia. Dalam hal ini, Nabi Muhammad adalah salah satu contohnya. Beliau telah mengorbankan usianya untuk menyebarkan risalah agama kepada umatnya. Apa yang beliau berdua miliki diserahkan sepenuhnya kepada agama. Artinya, pengorbanan yang kita lakukan harus mampu menerobos semua aspek dan mampu memberikan jangkauan dan harapan kepada orang lain.

Kepedulian Sosial

Dalam konteks bangsa Indonesia sekarang ini, makna pengorbanan Ismail harus kita ambil spiritnya. Khususnya terhadap saudara-saudara kita yang terpa beragam krisis. Pengorbanan untuk mereka janganlah membawa kepentingan golongan, agama, partai politik, dan vested interest lainnya. Jangan sampai terjebak dalam dalam transformasi force majure, meminjam istilahnya Prof. Mochtar Buchori (2004: 54). Yakni kondisi perubahan yang drastis dipaksakan oleh suatu kekuatan besar. Perubahan yang muncul dari transformasi force majure adalah perubahan yang tidak pernah kita kehendaki sebelumnya, tetapi juga tidak pernah kita tolak.

Empati menggebu-gebu dalam membenatu saudara dalam konteks transformasi force majure, hanyalah sebuah sebuah dampak sepintas (a transient impach) yang akan segera memudar, dan bukan suatu dampak permanen (permanen impact) yang membangun semangat solidaritas yang tak pernah putus. Kalau kita terjebak dalam a transient impach maka kita gagal memihak suatu keluhuran kemanusiaan. Kita hanya akan berkorban disaat momentum dengan berbagai ekspos dan pemberitaan dari media massa. Namun bila kita terjebak dalam permanen impact, maka kita selalu merenung dan berderma untuk meringankan beban sesama di manapun kita, dan kapanpun kita berada tanpa membedakan asal-usulnya.

Semangat Toleransi

Pengorbanan yang dilakukan Ibrahim, Ismail, dan Muhammad merupakan bentuk permanen impact. Sampai sekarang, pengorbanan mereka selalu dijadikan refleksi umat seluruh dunia untuk membangun toleransi antar sesama. Dan tugas kita, sebagai penerus perjuangan para Nabi tersebut adalah menjadikan posisi agama dalam menjawab gerak perubahan jaman mampu memberikan aura dan elan viral transformatifnyadalam bertoleransi. Pertama, memainkan peran agama dalam memberi inspirasi dan spirit bagi proses tumbuhnya transformasi sosial. Keyakinan agama harus mampu mendorong tindakan jangka panjang, disiplin, sistematis, dalam tugas pekerjaan sekuler sebagai suatu kewajiban agama.

Makhluq beriman harus mampu mendongkrak kembali kebekuan masyarakat. Mereka yang mengaku telah beriman harus mampu memelopori perubahan sosial, khususnya yang berada di grass rootKedua, memberikan nilai dan norma atau pedoman dalam proses perjalanan transformasi sosial sesuai dengan prinsip-prinsip etis. Pengorbanan para Nabi, merupakan sebuah nilai etis agama yang bila dimaknai secara kontekstual akan memberikan daya gerakan baru dalam transformasi sosial. Maka, menumbuhkan civil society harus sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sesuai dengan moralitas agama, sehingga gerakannya akan membawa semangat baru kebergamaan.

Menerjemahkan elan transformatif makna pengorbanan tersebut harus segera direalisasikan, sehingga sebagai manusia beriman, kita mampu menjalakan misi profetik agama dalam membela kaum lemah guna menumbuhkan semangat kebersamaan, kesetaraan, dan kesejahteraan.

 Inilah tugas besar kita, karena “orang beriman,” kata Muhammad Iqbal, “ialah bayang-bayang Tuhan. Tiap detik kehidupan melahirkan kemenangan.” Ilahi, kata Iqbal, berarti terus diputi kekuatan, tidak pasif, tidak menunggu. Kaum beriman harus kreatif, inovatif, dan bersegera mengorganisir kaum lemah di tengah bencana untuk diberdayakan dengan potensinya.

Facebook Comments