Menguatkan Persaudaraan dengan Hijrah Kebangsaan

Menguatkan Persaudaraan dengan Hijrah Kebangsaan

- in Suara Kita
145
1
Menguatkan Persaudaraan dengan Hijrah Kebangsaan

Penetapan peristiwa hijrah sebagai awal tahun dalam kalender Islam seakan ingin mengatakan bahwa kelahiran Islam bukan dilacak dari kelahiran seorang tokoh pembawa risalah, tetapi dari kelahiran sejarah peradabannya. Dan itu dimulai dari momentum Hijrah. Setiap tahun umat Islam diajak untuk memperbaharui semangat untuk lahir dan bangkit sebagaimana peristiwa hijrah.

Hijrah bukan sekedar peristiwa sosial sebagai bagian dari strategi politik yang dilakukan oleh Nabi. Dalam Islam hijrah dimaknai sebagai perintah dan kewajiban. Tentu saja hijrah merupakan tindakan yang berat pada saat itu untuk meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan keluarga. Namun, umat Islam percaya hijrah adalah perintah Tuhan dan janji kemenangan yang akan diraih. Fakta pun memang menegaskan hijrah adalah awal mula kelahiran sekaligus kemenangan Islam untuk membangun sebuah peradaban.

Maka dari itu, hijrah tidak bisa hanya dimaknai dengan artian berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Akan tetapi, hijrah merupakan perpindahan yang lebih substansial. Dalam konteks bernegara hijrah semestinya dimaknai sebagai perubahan perilaku untuk menuju masyarakat yang madani, rukun, dalam menerima setiap peradaban.  Sejalan dengan itu, ketua forum kerukunan umat beragama Prof Syafii Muhfid  juga menegaskan konsep hijrah dengan memetik perjalanan Rasulullah Saw semasa hidupnya, semestinya dimaknai sebagai penerimaan terhadap kelompok yang berbeda demi membangun sebuah perdamaian sebagaimana yang contohkan Rasulullah saat menyatukan kaum Anshar dan Muhajirin.

Menyelaraskan dengan konteks saat ini, seharusnya hijrah dimaknai sebagai proses transformasi dari kondisi kehidupan yang gelap menuju peradaban yang terang dan mencerahkan, baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun dalam kemasyarakatan dan kebangsaan. Hijrah harus memberikan perubahan pada masyarakat bangsa, dari masyarakat Jahiliah menuju masyarakat madani, yaitu masyarakat yang beriman, maju, mandiri, bahagia, lahir batin, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum dan norma susila, serta jujur, adil, setara atau demokratis, beradab dab berakhlak mulia.

Baca Juga : Memenangkan Kemanusiaan dalam Realitas Maya dan Himpitan SARA

Dari situ, semangat untuk merajut perdamaian merupakan energi dari hijrah yang sangat relevan kontenstualisasikan dalam kondisi berbangsa dan bertanah air saat ini. Keragaman budaya, suku, etnik dan bahasa di Indonesia merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihapus dan dinafikan. Inilah corak dan karakter bangsa. Tugas masyarakat adalah merawat perdamaian tersebut untuk selalu menjadi energi pemersatu bangsa melalui semangat hijrah.

 Hijrah mengandung energi perubahan, persaudaraan dan perdamaian. Dan sudah semestinya ini selalu menjadi spirit untuk membingkai kerukunan, agar bangsa ini selalu berada pada tatanan yang mendamaikan dan menyenangkan. Karena bisa hidup berdampingan tanpa adanya sekat-sekat yang memisahkan. Dan sudah seharusnya ini dijaga, dirawat dan kemudian disebarluaskan sebagai ajaran persaudaraan.

Sudah seharusnya hijrah kebangsaan didengungkan dan disebarkan ke seluruh masyarakat. Tujuannya agar aset kita yang tidak terlihat sebagai bangsa, yakni persaudaraan dan persatuan terus terjaga dan tidak mengalami perpecahan. Dengan demikian, maka benih-benih konflik satu sama lain dapat di pupus guna merajut kembali Indonesia sebagai bangsa pelangi yang mesti hidup berdampingan satu sama lain dalam suasana harmoni, penuh kasih sayang dan selalu menjunjung tinggi rasa toleransi.

Selaras dengan itu, setiap komponen masyarakat juga perlu memahami sekaligus memaknai hijrah sebagai salah satu momentum untuk menjaga persatuan  dalam kepentingan berbangsa. Sehingga kita memiliki modal yang kuat untuk membangun negeri ini. Melalui hijrah ini pula kita harus introspeksi diri, bagaimana menjadi Insan yang siap untuk menjaga keutuhan bangsa ini dengan mengedepankan semangat kerukunan dan persatuan.

Untuk itu, Indonesia yang memang di dalamnya terdapat banyak perbedaan, diajak untuk memaknai momentum hijrah ini sebagai semangat untuk kembali pada rasa kemanusiaan. Dengan kata lain konsep hijrah harus dimaknai sebagai penerimaan terhadap kelompok yang berbeda demi membangun sebuah kerukunan dan persaudaraan. Yang menjadi sebuah kesadaran bersama bahwa perbedaan yang ada merupakan fakta kehidupan.

Facebook Comments