Menguji Efek Puasa dengan Indikator Perdamaian

Menguji Efek Puasa dengan Indikator Perdamaian

- in Suara Kita
196
0
Menguji Efek Puasa dengan Indikator Perdamaian

Ketika hendak berjumpa dengan penghujung Ramadhan, sewajarnya kita bertanya, sudahkah berdampak efek puasa terhadap perilaku kita? Apakah puasa selama hampir satu bulan lamanya, benar-benar mampu membangun empati dan menjadikan sosok muslim yang sesungguhnya? Muslim yang sesungguhnya adalah muslim yang mampu memberi rasa aman kepada orang lain, baik dengan lisan, sikap, dan tindakan. Dengan kata lain, sebagai muslim kita memiliki kewajiban untuk mampu mewujudkan perdamaian.

As Sayid (2017) menguntai pesan indah bahwa pada dasarnya, arti muslim dan hakikat persaudaraan merupakan curahan iman dan dan perasaan yang paling dalam di antara mereka. Sehingga, setiap muslim merasa bahwa hidup hanyalah untuk mereka dan karena mereka. Seakan-akan mereka adalah ranting dari pohon yang satu. Mereka tak ubahnya bagaikan satu jiwa dalam tubuh yang banyak.

Seorang muslim memiliki misi kemanusiaan yang agung, yaitu mewujudkan perdamaian. Hal ini tampak sepele, namun tidak mudah. Meski demikian, rangkaian ibadah yang dilakukan seorang muslim, akan mengantarkan pada sikap dan kebiasaan untuk hidup damai, mulai dari diri, keluarga, umat, dan juga dalam lingkup hidup berbangsa dan bernegara.

Misi mewujudkan perdamaian harus dimulai dari diri sendiri. Jika seseorang mampu menghadirkan sikap damai dalam alam internalnya, maka ia akan mudah untuk menghadirkan perdamaian dalam lingkungan eksternalnya. Salah satu cara mewujudkan perdamaian internal adalah dengan tidak berlebihan menanggapi ujaran kebencian, dan bahkan sebaliknya; kita mampu menahan diri dan berusaha membagi kasih sayang kepada sesama.  Al Fudhail bin Iyadh pernah mencontohkan bahwa pandangan muslim dengan saudaranya dengan wajah yang menggambarkan perasaan cinta dan kasih sayang adalah suatu ibadah.

Baca juga : Jihad Puasa: Mengendalikan Hawa Nafsu Kekuasaan

Puasa, menjadi salah satu ibadah yang istimewa. Puasa menjadi rahasia antara kita dengan-Nya. Selain itu, puasa juga menjadi olah mental bagi setiap muslim untuk mencapai predikat taqwa. Dengan hanya berniat puasa, menahan makan dan minum dan juga tidak melaksanakan hal-hal yang membatalkan puasa, maka puasa kita sudah sah. Namun, sah saja tidak cukup. Dalam ajaran agama, agar puasa mendapatkan limpahan pahala dari-Nya, maka hendaknya kita mampu menjaga puasa.

Orang yang sedang berpuasa, tidak diperbolehkan melakukan ghibah, memfitnah, memprovokasi, melontarkan ujaran kebencian, dan hal-hal lain yang merusak perdamaian, baik dalam level individu atau massa. Ketika sedang disakiti atau bahkan diganggu oleh orang lain, orang yang puasa hendaknya menahan diri. Muara puasa adalah, menjadikan hati menjadi damai, sekalipun bertebaran ujaran kebencian dan fitnah menerpa. Rasulullah Saw bersabda:

“Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa,             maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak        bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya,         hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR.         Bukhari)

Menahan diri demi terciptanya perdamaian karena mengharap ridha-Nya, merupakan salah satu inti utama dari puasa. Puasa hendaknya membuahkan keshalihan sosial, bukan hanya secara sosial atau virtual semata. Sekarang merupakan momen yang tepat untuk menguji, apakah puasa kita sudah mampu membekaskan perdamaian di hati kita? Apakah puasa mampu melembutkan hati, sikap, dan tutur kata? Apakah puasa kita mampu menjadikan diri kita sebagai agen perdamaian?

Jika sudah, maka kita akan berbahagia. Sebab, hati yang damai dan mendamaikan akan memberikan energi positif dan psikis yang terwujud dalam aktivitas yang produktif. Jika pun kita belum mampu menjadi pribadi yang lebih damai dan mendamaikan, masih ada waktu untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan diri. Hakikatnya, puasa merupakan trainning kejiwaan bagi kita. Sebab hanya dengan hati damai dan nafsu yang tak terkotori kerusuhan, kita akan mampu menyongsong kesucian, di hari kemenangan; di dunia hingga akhirat. Wallahu’alam.

Facebook Comments