Menilik Persoalan Identitas Daring Demi Persatuan

Menilik Persoalan Identitas Daring Demi Persatuan

- in Suara Kita
207
2
Menilik Persoalan Identitas Daring Demi Persatuan

Indonesia dikenal dengan bermacam kemenarikannya. Salah satu hal yang menonjol dari bangsa ini adalah identitas budaya dan keagamaan yang melekat bahkan saling kalin-kelindan satu dengan yang lain dalam beberapa hal. Bahkan dalam beberapa kesempatan, menonjolnya identitas ini menjadi daya pikat tersendiri bagi peningkatan perekonomian hingga dukungan terhadap berjalannya demokrasi di negara ini.

Meski begitu, persoalan identitas tidak lantas melulu menghadirkan keuntungan bagi bangsa ini. Pesona identitas tak disangka mampu menghadirkan persoalan kebangsaan belakangan ini. Representasi hal ini bahkan bisa dirasakan semua pihak tanpa perlu lagi menyebutkannya satu per satu.

Terlebih lagi bila identitas yang dimaksud bersoal tentang agama. Kekisruhan atau perdebatan yang alot yang sesekali menginstrumentalisir sikap-sikap vandalisme seolah mendapatkan penguatan atau semacam daya pendobrak lebih kuat tatkala dunia dalam jaringan (daring) menjadi katalisnya. Kita tak dapat memungkiri bahwa berlatar hal ini jelas menghadirkan kerentanan terhadap kohesifitas kita sebagai bangsa yang majemuk.

Ruang internet, dunia maya, cyberspace, atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengenalnya dengan sebutan Daring perlahan telah menjadi ruang akitivitas bersosialisasi yang sangat hidup. Bila meminjam istilah dari Juergen Habermas, maka konsepsi yang relevan untuk menggambarkan wilayah daring adalah sebuah ruang publik. Di mana ruang komunikasi dan interaksi dalam bentuk apa pun dapat tercipta sebagai wujud partisipasi masing-masing pihak.

Baca juga : Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

Sampai di sini tentunya konsepsi ruang publik yang ideal mengantarkan pemahaman kita pada sebuah interaksi yang positif. Layaknya sebuah ruang interkasi yang memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk terlibat, ruang publik dalam wilayah daring di mana kebebasan dalam beropini dan membagi informasi bergeser menjadi arena pertarungan dalam memoderasi pendapat publik.

Kontestasi yang terjadi tidak jarang sampai menginstrumentalisir tindakan-tindakan negatif seperti penggunaan hoax, umpatan, ancaman hingga tindakan kekerasan langsung. Dalam beberapa kesempatan, ekses negatif dalam ruang publik daring bahkan sampai menyebabkan kematian. Contohnya saja dapat kita lihat dalam aksi terorisme yang menggunakan agama, di mana banyak dari para pelakunya mendapat indoktrinasi ideologi tersebut melalui dunia maya tersebut.

Budaya kematian yang hadir akibat instrumentalisasi politik identitas seperti agama dalam ruang publik daring, mungkin sulit ditemukan di negara-negara Eropa. Namun berbeda halnya bila fenomena tersebut dikontekskan di negara ini. Sebagai negara yang pada 2015 lalu dikategorikan oleh Pew Research Centre menjadi negara ketiga teratas di mana agama memiliki tempat penting dalam kehidupan, Indonesia tak bisa disangkal menjadi magnet penarik aksi vandalisme hingga teror yang berselubungkan ajaran agama.

Setidaknya penglihatan terkait hal tersebut semakin menguat tatkala kita mencoba mengelaborasi temuan seorang akademisi bernama Erich Fromm. Seorang Erich Fromm pernah bersoal mengenai hal-hal demikian tatkala mengupas fenomena pada rezim NAZI-Jerman. Di masa Adolf Hitler berkuasa, negara Jerman bertumbuh menjadi negara fasisme, di mana kebencian terhadap pihak lain dihadirkan guna memompa semangat ras Aria dalam mengkolonisasi banyak hal. Di bagian ini, Erich Fromm melihat bahwa hal ini terjadi sebagai akibat dari adanya persoalan psikologi (ia menyebutnya psikopatologis) yang bertalian erat dengan masyarakat yang fanatik (Fromm, 1997).

Entah disadari atau pun tidak, letak kesamaan yang dapat dibaca dalam fenomena yang disajikan Erich Fromm dan fenomena instrumentalisasi agama untuk menghadirkan gesekan dan konflik dalam ruang publik adalah hadirnya kemunculan para pemegang kepentingan yang mengedepankan identitas tertentu untuk dapat membangkitkan semangat rasisme. Tujuannya adalah menghadirkan semangat banyak pihak untuk turut serta mengaminkan gagasan yang dikemukakan pemilik kepentingan tanpa perlu menakar sisi positif atau negatif gagasan yang dilontarkan si pemilik kepentingan tersebut.

Umumnya langkah yang digunakan adalah dengan penyebarluasan semangat perbedaan sebagai sebuah langkah awal dalam memandang pihak liyan sebagai lawan. Dalam banyak kesempatan pemunculan, semangat populisme semacam ini sangat digemari oleh masyarakat terlebih lagi karena seolah-olah mendapatkan dukungan dari beberapa ayat teks kitab suci yang sengaja dikutip untuk mendukung gagasan tersebut. Yang pada gilirannya menciptakan dualitas dalam pemikiran baik pemilik kepentingan, pemilik kapital agama hingga masyarakat yang termoderasi untuk saling dukung-mendukung ide memandang yang liyan sebagai musuh.

Bila secara jujur kita melihat ulasan di atas dalam konteks berbangsa dan bernegara, maka sewajarnya kita patut mewaspadai ekses negatif ruang publik yang hari ini mampu memoderasi siapa pun. Pihak yang mampu dimoderasi lewat politisasi agama dalam ruang publik bukan semata publik luas saja. Melainkan juga hingga merambah dunia akademisi.

Tak heran bila hari ini pun banyak kita lihat para intelektual organik atau pun publik yang larut dalam persoalan politik agama ketimbang melihat agama yang ber-kemanusiaan. Kita mesti belajar dari apa yang telah terjadi selama ini. Melalui sikap mawas diri atas ancaman yang ada, merupakan sebentuk langkah preventif yang baik demi mengarus-utamakan kemanusiaan dan persatuan bangsa.

Facebook Comments