Menjadi Insan Kamil Pasca Ramadan

Menjadi Insan Kamil Pasca Ramadan

- in Suara Kita
229
2
Menjadi Insan Kamil Pasca Ramadan

Bulan suci ramadan sebentar lagi akan pergi. Tinggal beberapa hari lagi, bulan yang dinanti-nantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia akan meninggalkan kita. Pertanyaannya, sudahkan kita memaksimalkan amal di bulan suci ramadan? Sudahkah kita mampu mengendalikan nafsu yang ada di hati? Nafsu benci, nafsu kekuasaan, nafsu saling menjatuhkan dan nafsu-nafsu lainnya.

Ramadan sejatinya adalah madrasah untuk umat Islam dalam mengelola dan mengendalikan nafsu. Simbol berpuasa yang menahan untuk tidak makan dan minum selama sehari penuh dari mulai terbitnya fajar hingga matahari tenggelam sebenarnya memberikan pelajaran berharga kepada umat Islam. Itu salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu! Harapannya, ketika ramadan usai, kita akan menjadi insan kamil (manusia yang sempurna).

Apa itu insan kamil? Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan menggunakan seluruh daya dan kemampuannya untuk kemasalahatan umat, bangsa dan negaranya. Dalam konteks keindonesiaan, insan kamil adalah manusia-manusia yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia serta menghindarkan diri dari nafsu yang merusak seperti adu domba, menyebar fitnah, hoax dan hate speech. Yang itu semua bisa membahayakan bagi keutuhan bangsa dan negara ini.

Sayangnya, bulan suci tahun ini menjadi ternodai oleh aksi kerusuhan tanggal 21-22 Mei 2019 di Jakarta. Mereka mengaku muslim tapi melakukan aksi pengrusakan. Teriak Allahu Akbar, tapi kelakuan bar-bar. Mengaku jihad, tapi menjarah dagangan rakyat. Teriak membela kebenaran, tapi merusak persatuan dan kesatuan. Merasa paling benar, tapi sejatinya sedang mempertontonkan kedunguan. Semua itu dilakukan hanya demi nafsu berkuasa segelintir orang saja. Miris bukan? Kalau sudah begitu ceritanya, maka sejatinya kita belum sama sekali menang melawan hawa nafsu! Memukul mundur nafsu saja tidak, apalagi mengalahkannya! Sungguh itu merupakan ironi bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Mengolah Hati

Imam Ghazali menjelaskan bahwa dalam hati manusia adalah empat atribut yaitu sab’iyyah (binatang buas), bahimiyyah (binatang rakus yang bersumber dari syahwat,) syaithaniyyah (setan) dan rabbaniyah (Tuhan). Empat komponen tersebut diwakili oleh anjing (sab’un: binatang buas), babi (bahimah: binatang rakus dan pengejar syahwat), setan dan juga al-Hakim (Yang Maha Bijak).

Baca juga : Ramadan: Sarana Membentuk Fitrah Manusia yang Beradab

Keempat atribut tersebut tidak pernah terlepas dari kita. Kita bisa berani bertindak melakukan sesuatu dan berani melawan ketika ditindas karena ada sifat syab’iyyah. Sifat ini mampu menjadikan kita berani dan tidak jadi manusia pengecut. Sementara sifat bahimiyyah membuat kita memiliki keinginan-keinginan atau cita-cita yang membuat kita bertindak dan berusaha untuk maju.

Dua sifat lainnya, yakni syaithaniyah dan rabbaniyah  menjadi dua sifat yang bertempur terus-menerus. Dua sifat itu adalah musuh abadi. Jika sifat syaithaniyah yang menang, maka ia akan membuat kita menjadi manusia jahat yang merusak. Termasuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Namun jika sifat rabbaniyah yang menang, maka kita akan menjadi insan kamil yang mengendalikan semua sifat lainnya. Kita berani untuk maju menggapai cita-cita dan ketika sudah tercapai, kita menggunakan seluruh daya dan kemampuan yang ada pada diri kita untuk kemaslahatan orang banyak, termasuk berani melawan hoax, fitnah dan hate speech yang bisa merusak!

Menjaga Rumah Bersama

Indonesia adalah rumah bersama. Sudah sewajarnya kita yang lahir, tumbuh dan mencari penghidupan di negeri ini menjaganya agar tetap utuh dan damai. Jangan sampai kita mewariskan negara yang hancur berkeping-keping kepada anak cucu kita nanti. Pasca ramadan ini, semoga kita menjadi insan kamil. Berani melawan setiap gerakan-gerakan makar yang memiliki niatan menghancurkan tenun kebangsaan di antara kita. Sudah bukan saatnya lagi kita diam dan senang mendapat julukan silent majority (mayoritas yang diam). Karena ketika negara ini hancur karena fitnah, adu domba dan hate speech, maka kita akan susah untuk menyembuhkan dan memulihkannya kembali.

Hari ini fitnah, adu domba dan hate speech paling banyak disebarkan lewat jaringan internet dengan mengandalkan media online, media sosial dan aplikasi pesan. Oleh karenanya, kita juga harus terjun ke “medan peperangan” tersebut. Jika mereka militan, kita juga harus militan menyebarkan gagasan-gagasan kebangsan. Jika mereka beranggapain melakukan jihad, maka kita juga sedang berjihad! Berjihad menjaga negara ini agar tetap damai. Berjihad menjaga negara ini dari tangan-tangan kotor yang ingin merusaknya.

Semoga ramadan tahun ini menjadikan kita insan kamil yang mampu mengendalikan nafsu dan menggunakan seluruh daya dan kekuatan yang ada untuk terus menjaga Indonesia. Seperti kata salah satu karakter dalam manga One Piece yang bernama Portgas D. Ace bahwa tak ada gunanya memiliki sesuatu yang berharga jika kau tidak bisa melindunginya! Maka, mari jaga warisan berharga kita yang bernama Indonesia sebagai rumah bersama!

Facebook Comments