Menjadi Militan Bukan Berarti Harus Intoleran

Menjadi Militan Bukan Berarti Harus Intoleran

- in Suara Kita
1146
0
Menjadi Militan Bukan Berarti Harus Intoleran

Islam pada satu sisi mengajarkan umatnya untuk mempunyai sikap militan dalam mendalami agama dan mendakwahkan agama serta semangat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka yang getol dan semangat membela agama dan aktif di kegiatan nahi munkar adalah sebuah pilihan. Itu adalah bagian dari perintah agama.

Namun, satu sisi Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghargai perbedaan. Memiliki sikap toleran kepada kelompok yang memiliki perbedaan keyakinan dan pendapat. Artinya, sekedar militan saja tidak cukup dalam beragama. Islam mengajarkan untuk bersikap toleran.

Persoalannya saat ini terkadang orang tua memilih anak-anaknya takut jika tidak militant. Seolah menjadi muslim itu cukup dengan mengajarkan praktek keislaman yang rigid, tetapi melupakan aspek sosial Islam. Islam itu kaffah yang tidak hanya mementingkan peribadatan tetapi melupakan dimensi sosial Islam.

Menjadi diri yang agamis dengan semangat militant bukan berarti menghilangkan karaktter Islam yang toleran. Begitu pun ketika mendidik pribadi yang toleran tidak mesti melupakan aspek militant dalam beragama. Menjadi toleran dan militant bukan dua hal yang saling bertentangan.

Lihatlah karakter dan jati diri ajaran Islam. Islam mendeklarasikan diktum “Islam paling benar”, namun sisi lain Islam menyerukan “tidak ada paksaan dalam agama”. Satu Islam mengajarkan untuk mendakwahkan dan mengajak mereka masuk Islam, tetapi sisi lain Islam mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hanya memberikan peringatan bukan memberikan hidayah.

Apakah berarti Islam tidak konsisten dalam mengajarkan ajarannya? Ataukah Islam itu berarti tidak konsisten dalam mengajarkan umatnya? Di sinilah sebenarnya kata kuncinya bahwa menjadi muslim yang baik tidak boleh berlebihan dan ekstrem. Termasuk dalam pilihan yang militant dan toleran. Umat terbaik harus berada di antara nilai militansi dan toleransi.

Washatiyah : Militan dan Toleran

Jika kita berada pada pojok yang hanya berpegang pada militan akan terjatuh pada lobang sikap ekstrem, sementara hanya berpijak pada posisi toleran jatuh pada sikap kemunafikan. Lalu sesungguhnya sikap pertengahan yang diambil Islam adalah bagian dari cara pandangan yang tawasuth sebagaimana Allah menjadikan umat Islam sebagai  ummatan  wasathan. Islam mengajarkan berada pada posisi militan dan toleran yang tidak bisa dibentukan antara satu dan lainnya, tetapi tidak bisa ditanggalkan salah satunya. Islam harus bersikap adil dan seimbang dalam kutub yang militan dan toleran.

Begitu pula ketika mengajarkan dan mendidik anak dan generasi muda tidak cukup hanya mengembar-gemborkan milintasi, tetapi tidak dibarengi dengan toleransi. Baik militan dan toleran itu adalah karakter muslim yang harus ditanamkan kepada generasi muda dan tidak boleh berat sebelah.

Menjadi muslim harus mempunyai semangat menyala dalam mendalami islam, mendakwahkan Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar bahkan membela Islam. Namun, jangan dilupakan bahwa menjadi muslim harus mempunyai sikap yang menghargai perbedaan dan melaksanakan perdamaian, bahkan harus militant pula dalam membangun perdamaian.

Facebook Comments