Menjadi Netizen Cerdas, Menjadi Influencer Anti Adu Domba

Menjadi Netizen Cerdas, Menjadi Influencer Anti Adu Domba

- in Suara Kita
246
3
Menjadi Netizen Cerdas, Menjadi Influencer Anti Adu Domba

Era digital hari ini benar-benar telah melingkupi kehidupan kita. Beberapa dari kita bahkan lebih banyak yang menghabiskan hidupnya dalam dunia maya tersebut ketimbang di dunia nyata. Segala pergulatan hidupnya mulai dari keinginan untuk mengetahui sesuatu, mencari nafkah hingga mencari hiburan benar-benar diupayakan melalui media yang familiar disebut juga dalam jaringan (daring). Seperti kita ketahui bersama juga bahwa dampak ikutan dengan adanya hal yang demikian berpotensi untuk mengalihkan dunia dan habitus masyarakat kita. Kisah mengenai orang muda yang terbawa arus game-game kekerasan, cuplikan sejumlah kisah orang muda yang terseret arus radikalisme beragama hingga yang paling sederhana adalah hilangnya adab dalam bertutur dengan orang yang berbeda usia belakangan menjadi kerisauan banyak pihak. Kesemuanya itu hadir karena dampak ikutan yang hadir akibat akibat terbukanya akses digital berupa internet. Namun menyerahkan semuanya ke tangan pemerintah untuk diselesaikan nampaknya bukan sikap yang bijak pula, mengingat tren perkembangan hoax yang menjadi salah satu pemantik hadirnya fenomena-fenomena di atas semakin tahun malah semakin menguat.

Setidaknya upaya untuk mereduksi peredaran budaya kekerasan yang beredar marak belakangan bisa dijajaki dengan dua hal yang diarahkan pada langkah mereduksi peredaran berita bohong (hoax) terlebih dahulu. Yang pertama adalah pelibatan serta para influencer dengan menggandeng serta keterlibatan para Vloger dan Bloger dunia maya. Kita tahu bersama bahwa salah satu fenomena dunia maya yang mampu menyedot perhatian banyak pihak saat ini, termasuk para milenial adalah hadirnya para pembuat konten tersebut di dunia maya. Aktivitas yang mereka lakukan sangatlah beragam, mulai dari membuat konten lucu, inspiratif, kritik, gaya hidup, hobi dan lain sebagainya. Bahan konten untuk hal tersebut pun mereka dapatkan dari banyak tempat. Mulai dari sesuatu hal di sekitar mereka, dukungan dari pihak lain hingga menyoroti segala realitas yang ada. Bila kita memperhatikan secara holistik hal yang mereka lakukan, maka secara sederhana kita bisa mendapati simpulan bahwa hari ini persoalan popularitas dalam penyampaian sebuah pesan tidak lagi memerlukan tahapan yang sulit seperti masa-masa sebelum internet melingkupi hidup kita.

Sampai di bagian itu, kita mestinya bisa melihat adanya peluang guna meng-amplifikasi upaya perjuangan memerangi hoax yang hari ini mewabah bak cendawan di musim hujan. Selain itu bila kita memperhatikan, sebenarnya banyak sekali para influencer yang memiliki banyak penggemar. Umumnya mereka biasa disebut sebagai followers. Bila hal tersebut dapat diarahkan dengan baik, maka sebenarnya proses amplifikasi perjuangan guna menolak pembodohan yang terjadi karena hoax, bisa semakin menggema di banyak tempat. Dengan pelibatan semacam ini pun tentu semakin banyak pihak yang terjangkau. Bahkan dengan hal demikian, sebenarnya potensial untuk meng-efektifkan kerja melawan pertumbuhan dan persebaran hoax. Setidaknya semakin digaungkan dibanyak tempat, rasa kepekaan dan mawas pun dapat lebih hidup dalam benak masyarakat kita.

Baca juga : Menjadi Smart Netizen Anti Kekerasan dan Perpecahan Virtual

Langkah kedua bisa dilakukan secara individual dengan penanaman pemahaman kepada siapa pun, termasuk ke dalam diri sendiri bahwa rekam jejak dalam dunia maya tidak akan bisa dihapus. Adagium yang belakangan beredar yaitu “Jejak digital Itu Kejam, bung!!,” haruslah kita pahami bersama sebagai sebuah peringatan kepada semua pihak. Sebuah pernyataan, aktivitas penyebarluasan hingga bentuk respon-respon negatif terhadap segala sesuatu yang belum jelas validitasnya hanya akan merugikan pihak yang bersangkutan. Sebab rekaman pernyataan tertentu yang tidak jelas kebenarannya dan memiliki kecenderungan merugikan akan tersimpan rapi dalam ruang penyimpanan dunia maya. Contoh hal ini sudah banyak kita temui belakangan – terkait aksi-aksi negatif penyebarluasan ungkapan kekerasan, ancaman hingga seruan yang berangkat dari hoax. Ancaman yang potensial mengenainya pun bukanlah sebuah dongeng tidur semata, melainkan sebuah ancaman serius yang nyata.

Langkah penyadaran masing-masing individu merupakan langkah yang tidak bisa dianggap remeh. Langkah kedua ini sama mendesakknya dengan langkah yang pertama. Sebab justru fungsi rem atas peredaran informasi hoax, berita bernada kebencian, hasutan dan perpecahan terjadi pada langkah yang kedua ini. Sehingga dengan mengkombinasikan kedua langkah tersebut harapannya kita bisa meminimalisir peredaran laju informasi hoax, hasutan, kebencian dan hal-hal yang tidak berguna bagi persatuan dan keutuhan bangsa ini.

Penggunaan segala ruang dalam media guna mengupayakan pencerdasan menjadi tanggung jawab semua pihak. Artinya bila hoax hadir menggunakan narasi, maka narasi pula-lah yang menjadi senjata perjuangan untuk mengupayakan hadirnya kewarasan berfikir, menghindarkan pembodohan massal yang dilakukakan terus-menerus dan pelecehan terhadap rasionalitas manusia. Perang narasi yang melibatkan semesta sepertinya sudah tidak dapat dielakkan lagi di tengah era yang disebut post-truth hari ini. Sebab hoax pun bisa saja menyasar materi-materi apa pun.

Facebook Comments