Menjadi Nitizen Cerdas, Hindari Hiper-Informasi Adu Domba

Menjadi Nitizen Cerdas, Hindari Hiper-Informasi Adu Domba

- in Suara Kita
257
3
Menjadi Nitizen Cerdas, Hindari Hiper-Informasi Adu Domba

Sebagian informasi yang kita konsumsi saat ini tidak lagi dipergunakan untuk mengangkat sebuah peristiwa tetapi informasi telah mendaulat dirinya sebagai peristiwa itu sendiri. Kondisi yang demikian mengarahkan informasi lebih fokus kepada tindakan komunikasi dibanding pesan-pesan dan makna yang dikandungnya. Peralihan ini tentu membuat unsur-unsur informasi menjadi berubah, medium jadi lebih penting dibanding isi dan citra lebih dipentingkan dibanding kebenaran informasi itu sendiri.

Efeknya, kekacauan dan ketidakpastian menghantui tujuan dan makna informasi. Lebih dari itu, setiap orang akhirnya hanyut dalam mekanisme teknologi media yang menjauhkan mereka dari kedalaman makna. Pergerakan informasi terasa cepat namun dangkal dan bermuara pada kegemukan informasi. Sayangnya, pergeseran orientasi dari sebuah informasi, yang tak obahnya seperti parasit ini, tumbuh dan berkembang di benak warga dunia maya, khususnya Indonesia.

Tidak salah bila dikatakan bahwa banyak dari nitizen yang merasa pahlawan bila menjadi orang yang pertama kali membagikan sebuah informasi. Merasa berjihad jika mengupload foto-foto tertentu yang ia temukan tanpa mengetahui asal usul dan kronologinya. Tidak sedikit pula dari nitizen di Indonesia, lebih mempercayai isu ketimbang informasi dari media-media yang memiliki kredibilitas dan otoritas untuk memberitakan. Bahkan rumot dianggap lebih benar daripada kebenaran.

Epilepsi Informasi

Kegemukan informasi kemudian mengakibatkan penyakit mental (epilepsi informasi) dan menyisakan gejala-gejala negatif dalam kehidupan sosial. Pengidap penyakit ini menyerap apapun yang diinformasikan kepada mereka, makna apapun yang ditanamkan selama yang diinformasikan itu menarik, mempesona dan sesuai pandangan-pandangan yang mengilhami dirinya. Apalagi  dalam iklim politik yang tak kunjung berhenti seperti sekarang ini.

Baca juga : Milenial Cerdas Pengawal Propaganda Antikekerasan Virtual

Dalam kondisi yang seperti demikian, dapat dibayangkan, informasi akan selalu menampilkan parasnya dalam bentuk kejutan (surprise). Kemudian lenyap seketika digantikan kejutan-kejutan berikutnya tanpa dapat dicerna dan diinernalisasi apa tujuan dan hikmah dari kejutan yang dimaksud. Dalam pada itu resistensi pikiran ketiak bersentuhan dengan berita jadi melentur tanpa daya kritis dan penyaringan.

Petanyaannya kemudian, langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghindari kegemukan informasi tersebut, setidaknya untuk dapat meningkatkan kewaspadaan nitizen dan wawasan dalam bermedia sosial. Akan dijelaskan seperti di bawah ini.

Menghindari Hiper-Informasi Adu Domba

Tidak mudah untuk merumuskan dan mencari cara agar keluar dari kegemukan informasi ketika kebanyakan nitizen saat ini sudah mengidap epilepsi informasi yang akurt. Jensen memberikan patokan untuk menghindari kerancuan dari kegemukan informasi. Setidaknya, menurutnya ada beberapa resep yang perlu diperhatikan oleh seorang nitizen di antaranya,

Pertama, memperhatikan konteks ruang dan waktu dari sebuah informasi. Membaca informasi yang mengomentari sebuah kejadian perlu melihat konteks ruang dan waktunya. Tanpa melihat konteks ruang dan waktu, seseorang bisa gagal paham terhadap pristiwa. Dengan tidak memerhatikan konteks sebuah berita dapat berakibat fatal karena akan menggiring pembaca pada kesimpulan general padahal sebuah berita tidak terlepas dari konteknya.

Kedua, memahami secara utuh rangkian berita. Informasi yang tidak dipahami secara utuh bisa menimbulkan keos dari segi isi dan tujuan yang diingini berita. Membaca berita sepotong-sepotong hanya mengantar pembacanya untuk mengambil kesimpulan yang melompat-lompat (jumping conclusion). Pada akhirnya, misslink dengan berita yang disajikan pun tak terelakkan. Pada tahap tertentu dapat merugikan diri sendiri dan oarng lain.

Ketiga, meninggalkan berita yang tidak masuk akal. Berita yang bergelimang di dunia maya saat ini banyak yang menyodorkan judul yang bombastis sementara peremis-premis yang dibangun di dalamnya tidak masuk akal. Informasi yang tidak masuk akal perlu untuk ditinggalkan dulu sebelum menemukan titik rasionalitasnya. Apalagi melihat berita dengan narasi yang bertolak belakang antara satu sama lain. Karena informasi semacam ini bukan hanya membunuh kebenaran bahkan tak ada kebenrannya sama sekali.

Keempat, membaca berita yang memiliki kemanfaatan sosial. Azas manfaat dalam berita adalah pertimbangan yang sangat penting. Karena berita yang tidak memiliki banyak mengandung manfaat lebih baik untuk ditinggalkan. Berita yang minim kandungan manfaat merupakan salah satu penyumbang yang paling dominan dalam menciptakan kegemeukan informasi. Bukan hanya itu, azas manfaat dalam memilih berita berfungsi menghidupkan nalar kritis untuk menyaring mana berita yang berfaedan dan unfaedah. Dengan begitu, diharapkan nitizen tidak asal shar dan membuatnya memahami berita dengan baik.

Facebook Comments