Menjadi Smart Netizen Anti Kekerasan dan Perpecahan Virtual

Menjadi Smart Netizen Anti Kekerasan dan Perpecahan Virtual

- in Suara Kita
240
1
Menjadi Smart Netizen Anti Kekerasan dan Perpecahan Virtual

Internet atau dunia maya seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Setiap saat orang mengakses internet serta bermain media sosial. Tiap detik, kita dihadapkan pada lautan informasi. Kita juga mudah berinteraksi dengan orang lain. Namun, era informasi digital ini juga membawa dampak negatif. Lalu lintas informasi yang serba cepat dan tak terbatas memunculkan konten-konten negatif yang sarat kekerasan dan memantik perpecahan.

Jenis-jenis konten kekerasan tersebut tersebar dalam berbagai media, baik dari konten-konten di internet, televisi, bahkan film dan game. Pada gilirannya, penetrasi konten-konten negatif tersebut memunculkan kekerasan dan perpecahan virtual (virtual violence), yakni fenomena tumbuhnya kekerasan yang dialami tidak secara fisik, namun memiliki dampak psiko-sosial yang lama terhadap individu.

Diam-diam, citra kekerasan terbangun dalam benak kita, menciptakan sikap dan pola pikir destruktif, seperti gampang emosional, minim empati, serta mudah membenci dan bertikai dengan sesama. Misalnya, berbagai jenis game dengan begitu vulgar menggambarkan visualisasi dan citra kekerasan. Betapa banyak permainan digital yang menggerakkan anak, remaja, dan anak muda untuk merasakan adrenalin dan kepuasan bersaing, bertanding, dan meraih kepuasan dengan melakukan kekerasan: lewat pukulan, tendangan, tembakan, penggunaan senjata, dsb. Game-game telah mendorong anak semakin agresif, menyuburkan permusuhan dan kebencian.

Di samping itu, gempuran konten kekerasan dan perpecahan juga disebarkan lewat lautan narasi negatif. Banyaknya berita bohong (hoax), provokasi, hingga fitnah, semakin menebalkan sikap dan pola pikir kekerasan dalam benak kita. Kita menjadi gampang berdebat, bahkan mencaci orang lain karena paparan narasi provokatif yang beterbaran di dunia maya. Konten-konten ini kian luas menyebar karena gampang dibagikan di kanal-kanal media sosial, ruang-ruang perbincangan maya, bahkan menjadi viral di jagat maya.

Baca juga : Meredam Radikalisme Digital dengan Ujaran Kebenaran

Di tengah fenomena tersebut, nilai-nilai utama perekat persaudaraan dan perdamaian, seperti kasih sayang, kepedulian, empati, kerja sama, gotong royong, atau dalam bahasa Daniel Goleman disebut kecerdasan emosional (Emotional Intelligence), semakin terancam karena paparan citra-citra kekerasan yang terus-menerus disebarkan game, film, dan konten-konten informasi digital lainnya, terutama di internet. Pada gilirannya, kemampuan untuk berempati tersebut bisa menjadi lenyap karena paparan game dan konten-konten yang justru menekankan agresivitas, destruktivitas, dan persaingan.

Smart Netizen

Menjamurnya konten kekerasan dan perpecahan, yang terus membangun pola pikir dan sikap kekerasan dalam benak kita, jelas menjadi hal yang mesti diatasi. Kita tak ingin kemajuan teknologi informasi justru menjadi boomerang bagi peradaban. Kita tak mau nilai-nilai utama penyokong kemanusiaan, perdamaian, dan keharmonisan hidup bersama menjadi luntur, bahkan lenyap, gara-gara paparan konten kekerasan yang terus dicitrakan di dunia maya.

Tak ada pilihan lain. Kita mesti membekali diri kita dengan kecerdasan. Artinya, menjadi smart netizen atau warganet yang cerdas sudah menjadi keniscayaan. Membekali diri dengan pengetahuan, wawasan, dan kebijaksanaan dalam mengarungi aktivitas di dunia maya, sudah menjadi kebutuhan di tengah derasnya konten negatif yang membanjiri laman-laman media sosial kita. Mengasah sikap kritis dalam menkonsumsi informasi digital juga sudah menjadi kebutuhan di tengah maraknya narasi-narasi kekerasan dan perpecahan.

Pertama, bekal menjadi smart netizen tentu adalah kecakapan literasi digital. Kemampuan memahami, menelaah, dan menganalisis setiap konten atau informasi, menemukan substansi, melacak keabasahan sumber, memverifikasi data, dan menemukan tujuan utama suatu narasi, adalah hal-hal mendasar yang mesti dipelajari sejak dini. Ini menjadi satu pendidikan penting yang mesti ditanamkan kepada anak-anak dan generasi muda kita jika kita ingin membangun suatu generasi di masa depan yang cerdas di tengah era informasi digital.

Kedua, di samping bekal kecakapan literasi digital, kita juga mesti melakukan langkah-langkah praktis untuk mengatasi merebaknya kekerasan dan perpecahan virtual. Di lingkup keluarga, orangtua mesti punya ketegasan lewat peraturan bagi anaknya terkait penggunaan gawai (smartphone) dan berbagai jenis perangkat digital lain. Harus ada batasan dan pengawasan dari orangtua untuk memastikan apa-apa yang diakses, dimainkan, dan disaksikan anak-anak dari gawai adalah aplikasi, konten-konten, dan informasi yang aman atau terbebas dari citra-citra kekerasan dan perpecahan.

Ketiga, untuk menjadi smart netizen juga mesti terus diasah dan didukung dengan kebiasaan-kebiasaan positif dalam keseharian. Paparan kekerasan dan perpecahan virtual tak akan bisa memengaruhi seseorang jika dalam dirinya sudah terbentuk sikap dan pola pikir damai dan bijak, yang dibangun dengan fondasi kuat lewat budaya damai dan harmonis yang dari lingkungan sekitar. Dari lingkup keluarga, sekolah, hingga masyarakat, budaya berdialog, menghargai pendapat berbeda, berpikir terbuka, serta empati serta kasih sayang pada sesama, jelas mesti terus ditanamkan dan dikembangkan. Dengan begitu, kita bisa mengatasi penyebaran kekerasan dan perpecahan virtual secara mendasar dan menyeluruh.

Facebook Comments