Menjadi Umat Beragama yang Shalih dan Senang Bersaudara

Menjadi Umat Beragama yang Shalih dan Senang Bersaudara

- in Suara Kita
1129
0
Menjadi Umat Beragama yang Shalih dan Senang Bersaudara

Saya sering-kali mengidentifikasi para manipulator agama itu sebagai “subjek”. Yaitu para pelaku yang memanfaatkan agama untuk memecah-belah umat. Tentu, sebagai seorang subjek, mereka memiliki sasaran yaitu “objek”. Maka, sasarannya adalah umat beragama yang saya sebut sebagai “objek” tadi. Agar, umat beragama bisa berpecah-belah dan penuh dengan konflik berlabel agama.

Maka, sebetulnya yang menjadi “penentu” gagal atau tidaknya seorang pelaku atau “subjek” dalam menyasar seorang “objek” atau umat beragama tadi, itu sebetulnya tergantung pada objek itu sendiri. Apakah dia mampu menghindar atau mampu melawannya. Bahkan, bisa saja sebaliknya.  

Misalnya secara paradigmatis. Jika umat beragama itu shalih secara keagamaan, artinya baik secara spiritualitas, sekaligus senang bersaudara. Niscaya kegagalan itu akan didapatkan oleh seorang subjek tadi. Sebab, misi seorang subjek untuk memecah-belah umat itu “gagal”. Karena, seorang “objek” memiliki “spirit” yang membangun mentalitas dirinya. Karena senang dengan persaudaraan tanpa permusuhan atau-pun perpecahan dalam beragama.

Dari rumusan yang semacam ini, kita sebetulnya akan sadar. Betapa pentingnya membangun keshalihan diri secara spiritual. Dengan mengimbangi perilaku diri yang senang bersaudara itu. Sebab, puncak spiritualitas tertinggi dalam diri manusia itu (cinta). Yaitu cinta kepada-Nya. Maka, secara otomatis, ketika seseorang mendapatkan pengalaman esoteris yang demikian, itu tidak mungkin ada kekotoran yang bersifat (kebencian dan ingin bermusuhan) itu.

Sebab, menjadi umat beragama yang shalih sekaligus senang bersaudara itu sebetulnya (inti) dari ajaran agama. Dalam maksud pemahaman, ujung dari perjalanan manusia dalam beragama itu sebetulnya mendapatkan (pencerahan) dan terbesihkan dari segala (kekotoran sifat diri) yang melekat.

Sebab, keshalihan spiritual yang mapan sejatinya akan berkorelasi khusus dengan dirinya yang akan senang bersaudara. Cobalah kita renungkan bagaimana keteladanan Nabi Muhammad SAW. Di mana, puncak spiritualitas atau keshalihan beliau ditampakkan sebagai jalan rahmat dan senang bersaudara.

Maka, sebagaimana rumusan tadi. Bahwa, menjadi seorang umat beragama, itu menanamkan kadar spiritualitas yang shalih sekaligus senang bersaudara. Sebab, sebagai seorang “objek” yang sering-kali disasar oleh para manipulator agama “subjek”, agar umat beragama berpecah-belah itu akan mengalami kegagalan untuk menghasut kita. Selama, dalam diri kita ada wilayah spiritualitas beragama yang shalih dan senang bersaudara tadi.

Menjadi umat beragama yang demikian, sejatinya akan kebal dan anti terhadap hasutan para manipulator agama. Meskipun, mereka selalu membawa agama sebagai alat untuk menghasut umat beragama agar berpecah-belah. Maka, di sinilah sebetulnya titik penting dalam menghadapi para manipulator agama yang selalu menjadikan umat beragama sebagai sasaran.

Yaitu, gagal atau tidaknya seorang manipulator agama di dalam menghasut umat agar berpecah-belah, itu sebetulnya tergantung kondisi kesadaran dan keadaan umat itu sendiri. Sebagaimana, ketika umat beragama itu shalih secara spiritual sekaligus senang bersaudara, niscaya hasutan itu tidak akan pernah sukses. Sebab, hasutan para manipulator agama selalu sukses ketika umat beragama mengalami kondisi spiritualitas yang “kurang shalih” dan penuh dengan kebencian.            

Dari sinilah kita sebetulnya menemukan satu paradigma penting secara (internalisasi beragama). Bahwa, menjadi umat beragama yang shalih dan senang bersaudara itu adalah penangkal. Dari segala hasutan para manipulator agama yang ingin mencoba memecah-belah umat dengan dalih keagamaan.

Facebook Comments