Menjadikan Bulan Syawal Sebagai Titik Pijak Baru Membangun Trilogi Ukhuwah

Menjadikan Bulan Syawal Sebagai Titik Pijak Baru Membangun Trilogi Ukhuwah

- in Suara Kita
222
0
Menjadikan Bulan Syawal Sebagai Titik Pijak Baru Membangun Trilogi Ukhuwah

Berapa tahun belakangan ruang keberagamaan kita layak dikatakan tidak sehat. Fitnah berhamburan tak karuan, prasangka buruk menjadi tontonan, caci maki menjadi kebiasaan, hate speech menjamur begitu menyeramkan. Terutama di media sosial, di beranda-beranda online semua itu sangat mudah diketemukan. Menjamurnya kebiasaan buruk tersebut menjadi problem serius keberagamaan sekaligus problem serius kebangsaan kita.

Potret ini kemudian di perparah dengan kehadiran kelompok radikal yang terang-terangan menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap tradisi keberagamaan di Nusantara yang memegang teguh prinsip moderasi beragama. Beragama secara santun dan ramah dalam pandangan mereka hanya menampakkan kelemahan agama Islam. Kemudian kelompok radikal ini melakukan provokasi dengan cara menyalahkan tafsir agama yang tidak sama dengan pemahaman mereka. Hal ini memunculkan konflik, permusuhan, bahkan perpecahan bangsa dan memberikan dampak negatif yang signifikan.

Dalam pandangan agama Islam sendiri potret ini bukan prestasi beragama yang baik. Bukan amaliah terpuji yang dianjurkan. Sebaliknya, merupakan penyakit kejiwaan yang mengotori hati dan sangat dilarang.

Akankah pasca Ramadhan semrawut keberagamaan seperti itu terus berulang?

Kalau ia, berarti ada masalah dengan puasa Ramadhan yang telah dijalaninya. Puasa melarang hal tersebut dan menganjurkan sebaliknya. Di hari Idul Fitri Islam memerintahkan untuk saling memaafkan dan meminta maaf. Kembali menjadi manusia fitrah atau suci semestinya menghilangkan kesimpulan-kesimpulan keliru yang selama ini diimani sebagai suatu kebenaran mutlak sehingga menafikan kebenaran kelompok lain.

Pada bulan Syawal serta bulan-bulan setelahnya semestinya menjadi lebih baik pasca didikan Ramadhan. Hari kemenangan sejatinya bukan hanya saat Idul Fitri, tapi seluruh hari di sepanjang tahun. Sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali: “Hari kemenangan bagiku adalah hari dimana aku tidak bermaksiat kepada Allah”. Apabila dipahami mendalam ungkapan Sayyidina Ali hendak menteladankan kepada kita semua tentang pentingnya istiqamah atau meluzumkan ajaran-ajaran Ramadhan untuk dipraktekkan di bulan Syawal dan bulan-bulan yang lain.

Melatih, memupuk, memelihara serta mengembangkan esensi tujuan puasa Ramadhan adalah indikasi diterimanya puasa kita. Menghilangkan sifat ke-aku-an dalam beragama, menghormati kelompok lain, tidak mencaci maki, provokasi dan permusuhan merupakan tanda-tanda puasa Ramadhan seseorang diterima oleh Yang Maha Kuasa.

Sehingga sejak tanggal satu Syawal sampai sampai tanggal tiga puluh Sya’ban kita bahagia dengan kemenangan setelah sebulan puasa Ramadhan. Di setiap pagi selama setahun kita selalu menyambut fajar kemenangan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih toleran, lebih bijaksana dan menjadi manusia yang sempurna. Menjadi pribadi yang mengalahkan rasa amarah, dendam, perkataan yang tidak baik serta menghindari menyakiti perasaan orang lain. Sejak Idul Fitri menjadi muslim yang siap menjalani kehidupan baru dan bersih untuk seterusnya, sesuci di hari raya Idul Fitri.

Syawal Momentum Mengurai Benang Kusut Keberagamaan

Apa yang selama ini terlihat tentang carut marut keagamaan dan kebangsaan kita mestinya mengikis, kalau tidak bisa dihilangkan semuanya. Kalau sebelumnya ruang keberagamaan kita dipenuhi caci maki, umpatan, ujaran kebencian, intoleransi dan semua sikap buruk, maka bulan Syawal menjadi momentum terbaik sekaligus penentu awal untuk menilai keberhasilan Ramadhan.

Preferensi madhab dan semua referensi hujjah amaliah kita bukan alasan untuk menyalahkan kelompok lain. Khilafiyah adalah “rahmat”. Bila kita bersikeras tidak menerima realitas khilafiyah itu maka nyata-nyata telah bersiap diri menerima laknat.

Tentu semua Islam tidak menginginkan menjadi pribadi yang terlaknat. Semuanya ingin mendapatkan rahmat. Seluruhnya mendambakan puasa Ramadhan menjadikannya lebih bertakwa dan beriman. Tidak satupun umat Islam yang tidak berharap pada hari raya Idul Fitri tidak meraih fitrah.

Karenanya, di bulan Syawal ini, mari kita jaga kefitrahan jangan sampai dirusak oleh hal-hal sepele seperti kebencian, dendam, saling menyalahkan, hasud, dengki, provokasi dan saudara-saudaranya.

Bulan Syawal yang berarti peningkatan selayaknya dijadikan titik pijak baru keberagamaan dan kebangsaan kita yang sedang rusak. Dijadikan sebagai titik pijak baru untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Sejak bulan Syawal tahun ini, mari kita tingkatkan silaturahmi antar sesama umat Islam, menjalin keakraban dengan saudara sebangsa dan memupuk keharmonisan dengan sesama umat manusia. Kadar ketakwaan kita diukur sejauh mana kita berhasil meningkatkan tiga ukhuwah tersebut, yang oleh KH. Ahmad Siddik disebut “Trilogi Ukhuwah”.

Facebook Comments