Menjadikan Media sosial sebagai Pemersatu Bangsa

Menjadikan Media sosial sebagai Pemersatu Bangsa

- in Suara Kita
449
2
Menjadikan Media sosial sebagai Pemersatu Bangsa

Media sosial kini merambah setiap golongan manusia tanpa mengenal usia. Dimulai dari yang muda hingga orang tua yang memiliki smartphone. Kemudahan untuk  mendapatkan smartphone dan didukung harga yang murah memberikan dampak setiap orang bisa memilikinya. Salah satu fungsi smartphone adalah untuk bermedia sosial dimanapun mereka berada.

Smartphone dan media sosial memberikan kemudahan setiap orang untuk dapat melihat apapun di dunia maya sesuai keinginan pemiliknya. Dalam perjalanannya, bermedia sosial dengan smartphone menjadi kebutuhan primer setiap orang, jika energi batrei dari smartphone tersebut habis maka orang akan terlihat bingung seperti ada yang hilang dari hidupnya.

Candu masyarakat dalam menggunakan smartphone untuk mengakses media sosial menyisakan banyak celah. Media sosial yang awalnya bertujuan untuk mendekatkan yang jauh, kini tujuan tersebut berputar 160 derajat menjadi menjauhkan yang dekat. Fakta ini banyak bisa kita saksikan di tempat-tempat berkumpul seperti warung kopi, kafe dan tempat makan.

Awalnya mereka berkumpul, saling sapa hingga foto bersama, namun setelah itu kebanyakan mereka akan disibukkan dengan gadgetnya masing-masing mengunggah foto di akun medsosnya. Seolah-olah dunia maya lebih menarik dari pada dunia nyata. Keasikan dalam dunia maya menjadikan lupa akan interaksi sosial dengan yang benar-benar nyata di depannya.

Baca juga : Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

Penawaran dan kecepatan dalam media sosial untuk berkomunikasi dengan dunia luar membuat ketertarikan tersendiri. Perkembangan media sosial kini tidak hanya berbagi secara virtual tetapi juga informasi. Kemudahan berbagi informasi ini berakibat secara luas dan bebas dalam bersosial di dunia maya. Hal ini dikarenakan informasi yang beredar berupa banyak hal seperti jualan (bagi mereka yang mempunyai toko online), asumsi tentang fakta yang terjadi, prasangka bahkan kebencian beredar bebas dalam media sosial.

Dalam konteks terakhir “kebencian” biasanya mereka akan membagikan kepada orang lain karena ingin apa yang dirasakan bisa dirasakan orang lainnya juga dalam bentuk provokasi dan fitnah. Sehingga orang yang terpengaruh provokasi tersebut dan sepaham akan men-share kembali kepada orang lain, dan terus seperti itu.

Kepercayaan dan kefanatikan terhadap informasi yang diterima dari media sosial membuat penyaringan informasi kita sedikit longgar. Sehingga tanpa cek dan ricek informasi yang beredar di media sosial gampang dipercaya. Pada masa pemilu 2019 ini misalnya, berita bohong atau yang disebut hoax banyak beredar di media sosial seperti tujuh kontainer suara yang sudah tercoblos untuk memenangkan salah satu paslon.

Berita itu cukup mengencarkan di jagat media sosial untuk beberapa waktu, bahkan beberapa tokoh men-share berita tersebut tanpa cek dan ricek kebenarannya. Dan satu hal yang sangat disayangkan adalah mereka menambahkan redaksi provokasi untuk memperkeruh suasanya pemilu 2019. Padahal setelah dicek oleh pihak yang berwajib tidak ada satupun kotak suara tersebut dilokasi. Akhirnya mereka yang men-share hanya meminta maaf karena kecerobohan yang dilakukan.

Tidak sampai disitu, kemajuan tekhnologi dan media sosial juga berdampak berkurangnya rasa hormat kepada orang lain. Kasus ini menimpa pada salah satu kiai sepuh di Rembang yaitu Gus Mus. Ada seorang pemuda dari Batam yang mengedit video Gus Mus untuk mendiskreditkan salah satu paslon di pilpres 2019.

Video tersebut di unggah dalam akun instragamnya dan mendapatkan tanggapan yang begitu banyak dari netizen. Pada akhirnya pelaku meminta maaf dan menyatakan menyesal karena ceroboh dalam mengedit dan menggunakan media sosial sabagai alat untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap salah satu paslon capres 2019. Jika dulu ungkapan mulutmu adalah harimau mu maka kini berlaku bahwa jarimu adalah harimau mu. Jejak digital tidak bisa hilang begitu saja, jika tidak cerdas dan bijak dalam bermedia sosial maka kita akan  bernasib sama dengan kasus-kasus yang terjadi di atas.

Cerdas Bermedia

Kebebasan berekspresi dengan konstruksi wacana negatif telah memberikan kesadaran kepada kita untuk bermedia sosial dengan cerdas dan membangun keutuhan bangsa.  Media sosial seharusnya memberikan informasi yang bisa membuka pengetahuan baru dan rangsangan kontruktif yang positif guna membangun pondasi yang kuat untuk bangsa Indonesia.

Pengguna media sosial harus mampu membangun keutuhan bangsa bukan perpecahan bangsa. Pengguna media sosial harus mampu merajut persaudaraan bangsa bukan membuat kerusuhan bangsa. Pengguna media sosial harus mampu menjaga keutuhan bangsa bukan untuk menghujat bangsa.

Manusia memiliki norma yang harus ditaati guna menjaga keutuhan dan menghindari gesekan antar bangsa. Maka dari itu pemerintah Indonesia telah menerbitkan UU ITE No. 19 tahun 2016 mengatur pengguna media sosial agar tidak menyebarkan hoax, fitnah dan melakukan ujaran kebencian terhadap sesama manusia.

Dalam agama Islam telah memperingatkan bahaya fitnah, seperti yang tertera dalam surat Al Baqoroh ayat 191 “…dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pada pembunuhan”. Aturan-aturan tersebut menegaskan kepada pengguna medsos agar menjadi pengguna medsos yang cerdas dan menebarkan konten-konten yang konstruktif-inspiratif membangun persatuan bangsa. Jadikan media sosial sebagai instrumen penguat ukhuwah wathoniyah, ukhuwah islamiyah serta penguat sesama manusia.

Facebook Comments