Menjadikan Pahlawan sebagai Inspirasi dalam Menjaga NKRI

Menjadikan Pahlawan sebagai Inspirasi dalam Menjaga NKRI

- in Suara Kita
744
0
Menjadikan Pahlawan sebagai Inspirasi dalam Menjaga NKRI

Tanggal 10 November selalu kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Momentum tersebut lahir untuk mengenang heroisme para arek Suroboyo yang berjuang dalam peperangan melawan tentara Sekutu pada tahun 1945. Tentu saja, hal tersebut tidak akan terjadi tanpa semangat nasionalisme dan patriotisme yang kokoh.

Para arek Suroboyo ini, dan orang-orang yang turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia, merekalah sosok yang pantas kita sebut pahlawan bagi NKRI. Mereka rela mengorbankan segalanya demi kepentingan bangsa. Pertanyaannya, bagaimanakah makna kepahlawanan dalam konteks kekinian? Apakah masih dibutuhkan untuk menjaga NKRI? Tentu saja, harus dijawab dengan sangat tegas, sangat dibutuhkan.

Kepahlawanan dalam konteks kekinian bukanlah mereka yang secara fisik bertempur di medan perang sebagaimana aksi para leluhur bangsa dalam meraih kemerdekaan. Namun, maka kepahlawanan kini lebih tepat dimaknai untuk menjaga NKRI. Manifestasi kepahlawanan masa kini harus disematkan pada tindakan melawan hoaks, hate speech, fitnah, adu domba, narkoba, radikalisme, terorisme, intoleransi, kekerasan terhadap anak dan perempuan, selain kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial.

Pahlawan bukan saja yang mengusung kemerdekaan RI, mereka yang berkontribusi untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional layak untuk disebut pahlawan. Mereka yang rela menolong sesama warga negara Indonesia yang sedang terkena musibah juga bisa disebut pahlawan. Mereka yang berupaya mengedukasi masyarakat agar bersama-sama melawan radikalisasi demi keutuhan bangs dan negara juga layak disebut pahlawan. Mereka yang aktif memerangi korupsi juga bisa disebut pahlawan.Pahlawan adalah sebutan bagi mereka yang mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan untuk kepentingan yang lebih besar, yakni bangsa dan negara.

John F Kennedy pernah berujar, kita harus berpikir tentang apa yang bisa kita berikan buat bangsa dan negara, bukan apa yang dapat bangsa dan negara berikan pada kita. Prinsip inilah yang semestinya dapat mengantarkan kita untuk meneladani heroisme pahlawan sehingga bisa berkontribusi untuk kepentingan bangsa dan negara. Mindset ini jangan pernah dibolak-balik karena dapat mengantarkan pada perilaku oportunis dan suka mencari untung atas segala situasi. Baginya, kepentingan bangsa dan negara tidak lebih penting dari kepentingan pribadi atau golongan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah cara generasi sekarang untuk meneladani kepahlawanan? Pertama, harus memiliki wawasan kebangsaan yang baik. Itu penting sebagai modal. Bagaimana mungkin seseorang akan berkontribusi positif bagi bangsa sendiri kalau tidak pernah mengenal bangsanya sendiri. Hal ini karena dari situlah sikap nasionalisme dapat tumbuh dan tertanam kuat di dalam hati. Sikap yang sangat dibutuhkan agar upaya-upaya membangun bangsa tidak akan pernah mudah runtuh karena memiliki tekad yang kuat.

Kedua, meng-upgrade skill yang sesuai dengan minat dan bakat. Tantangan ke depan, bukan lagi penjajahan kolonial, tapi lebih pada penjajahan ekonomi dan politik. Maka, agar tidak kalah dalam persaingan tersebut, kita butuh sumber daya manusia (SDM) kompeten yang dapat memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara di kancah lokal, nasional dan internasional. Tanpa SDM kompeten, kita akan selalu gagal dalam persaingan global. Dengan SDM kompeten, kita bisa sejajar dengan negara-negara lain di dunia; berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan.

Ketiga, membangun kolaborasi dan jejaring untuk bersama-sama mengembangkan setiap potensi daerah dan nasional. Generasi kekinian sangat identik dengan kemudahan teknologi dan akses informasi. Se per sekian detik, mereka bisa saling berkomunikasi dengan siapa pun yang sedang berada dimana pun. Dalam konteks tersebut, gadget sebagai teknologi yang akrab bagi milenial harus dioptimalkan fungsinya sebagai instrumen perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan.

Dari situ, sungguh kita bisa berjejaring dan membentuk ikatan yang kuat untuk mewujudkan kepentingan nasional. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Bersama-sama, saling menguatkan perjuangan. Mencerminkan bangsa yang memegang teguh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Lagipula, bukankah pertempuran Surabaya yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan adalah manifestasi dari ikatan persatuan antarsesama rakyat yang kuat? Dengan persatuan dan jejaring yang kuat, sungguh mudah bagi kita untuk bisa mencetak sejarah penting bagi keutuhan dan kemajuan bangsa dan negara.

Keempat, generasi sekarang harus turut berperan aktif dan membangun bangsa melalui bidang-bidang yang diminati dan dikuasai. Ini penting karena hanya melalui bidang-bidang tersebutlah, mereka dapat mencurahkan seluruh kecapakan yang ia miliki untuk berkontribusi kepada negara. Tidak sedikit warga negara Indonesia (WNI) yang sudah mengharumkan bangsa dengan kecapakan dan skill yang dipunyai. Gresia Poli dan Apriyani Rahayu yang mampu memenangkan turnamen badminton ganda putri dalam Olimpiade Tokyo 2020 kemarin, merupakan salah satu contoh kontribusi generasi sekarang yang sesuai kecakapan mereka. Jika upaya ini terus dilakukan dan diperhatikan bersama, perlahan namun pasti, posisi Indonesia akan semakin dipertimbangkan di kancah geopolitik internasional disebabkan semakin nyatanya kesuksesan para generasi bangsa dalam membangun negara.

Jadi, sudah sepantasnya pahlawan menjadi inspirasi bagi kita untuk menunjukkan seberapa banyak hal yang bisa kita berikan kepada negara.  Namun, meneladani mereka tidaklah harus dengan melawan penjajah dan gugur di medan perang untuk menjadi pahlawan. Berkontribusi lewat kecakapan yang kita miliki juga menjadi bentuk perjuangan untuk menjaga dan memajukan NKRI. Wallahu a’lam.

Facebook Comments