Menjalin Toleransi Melalui Dakwah Yang Santun

Menjalin Toleransi Melalui Dakwah Yang Santun

- in Suara Kita
204
2
Menjalin Toleransi Melalui Dakwah Yang Santun

Dakwah adalah kegiatan yang berada di ruang yang nyata, bukan di ruang yang hampa. Oleh karena itulah, para pendakwah seharusnya mampu mengidentifikasi dan menginterpretasi realitas yang dihadapinya. Karena ketika Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk berdakwah kepada umat manusia, salah satunya adalah dengan jalan mengajak mereka melalui cara hikmah dan pelajaran yang baik, dan jika membantahnya juga dengan cara yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah An-Nahl ayat 125.

Dalam konteks Indonesia, dakwah adalah aktivitas yang penuh tantangan. Hal tersebut dikarenakan keadaan plural masyarakat Indonesia di berbagai bidang, sehingga memberikan peluang dan tantangan bagi dakwah, apalagi dalam urusan agama.

Jika dilihat, ketegangan dalam hubungan antar umat beragama yang ada di Indonesia tidak lain berpangkal dari pemikiran dan sikap yang tertanam dalam diri masing-masing umat beragama. Pemikiran dan sikap yang dimiliki umat beragama di Indonesia masih banyak berada pada tingkat eksklusivisme, yang melahirkan pandangan bahwa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya, sehingga ajaran agama lain dipandang sesat dan wajib dikikis.

Dalam batas tertentu, sikap eksklusif mempunyai nilai yang positif, kalau hal tersebut berkaitan dengan kualitas, mutu atau unggulan tentang suatu hal. Namun, yang sering terjadi di tengah masyarakat justru ekskluvisme yang bersifat egoisme kelompok, tidak toleran dan mau menang sendiri.

Sikap-sikap eksklusivisme tersebutlah yang kemudian memunculkan berbagai ketegangan antar pemeluk agama, sehingga muncul sikap-sikap intoleransi dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, upaya mengikis ekskluvisme yang negative di tengah masyarakat merupakan sebuah tuntutan yang mendesak bagi para pemuka agama di Indonesia. Dengan kondisi masyarakat yang plural, dibutuhkan sebuah pemikiran dan sikap yang inklusif  dan santun, yang mempunyai pandangan bahwa di luar agama yang dianut juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh dan sesempurna agama yang dianutnya.

Baca Juga : Papua: Rasialisme dan Kekerasan Virtual

Pandangan seperti ini perlu ditumbuhkan dalam masyarakat Indonesia, karena bila ditinjau dari sisi kebenaran ajaran masing-masing, pandangan inklusif tidaklah bertentangan, karena seseorang masih tetap meyakini bahwa agamanya paling baik dan benar. Namun, dalam waktu yang sama, mereka memiliki sikap toleran dan bersahabat dengan pemeluk agama lain. Oleh karena itulah, seharusnya para pendakwah yang menyebarkan ajaran agamanya, khususnya agama Islam juga harus memiliki pemikiran yang inklusif dan santun, supaya mampu menjalin toleransi yang baik.

Banyaknya kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia, juga tidak bisa lepas dari cara berdakwah para pendakwah yang hanya mementingkan ego kelompoknya masing-masing. Sehingga menganggap kelompok lainnya salah dan layak di hujat, atau kalau perlu diperangi. Di tengah kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang semakin maju, sulit rasanya berdakwah dalam ruang tertutup. Karena semuanya serba bisa dilihat oleh publik, sehingga dengan kemudahan tersebut, seharusnya para pendakwah menyebarkan dakwah yang santun, bukan dakwah yang memprovokasi yang akan menimbulkan ketegangan antar pemeluk umat beragama.

Rasulullah saw sendiri dalam mendakwahkan agama Islam, sudah memberikan banyak contoh tentang bagaimana dakwah yang santun dan menghormati pemeluk agama lain. Misalnya, ketika berada di Madinah, Rasulullah saw tidak langsung memaksa dan memerangi orang kafir supaya masuk Islam. Justru Rasulullah saw mendamaikan konflik antar suku yang terjadi diantara mereka dan merumuskan Piagam Madinah, sebagai upaya menjaga kerukunan masyarakat Madinah yang majemuk pada waktu itu. Contoh lainnya adalah ketika Rasulullah saw berdakwah kepada para raja non muslim, beliau tidak langsung mengirimkan pasukan untuk menyerang pusat pemerintahannya. Tetapi, beliau mengirim surat dan mengajak mereka untuk masuk Islam dengan berbagai nasihat, yang hasilnya diantara mereka ada yang memilih masuk Islam dan beberapa lainnya menolak untuk masuk Islam.

Dakwah adalah menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yaitu memerintahkan untuk melaksanakan sesuatu yang baik dan mencegah atau meninggalkan sesuatu yang munkar atau buruk. Akan tetapi, dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar juga harus dengan cara yang Ma’ruf. Yaitu cara-cara berdakwah yang santun,  karena esensi dakwah adalah merangkul bukan memukul.

Dakwah dengan cara yang santun tersebutlah yang kemudian akan bisa menjalin toleransi antar umat beragama. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw, yang kemudian diteruskan oleh para ulama-ulama sebagai pewaris para Nabi.

Dalam konteks sejarah Islam di Indonesia, Walisongo sudah mencontohkan bagaimana dakwah yang santun. Misalnya Sunan Kudus yang mendakwahkan Islam tanpa menyakiti perasaan penganut agama lain, yaitu agama Hindu. Sebagai penghormatan kepada orang Hindu, Sunan Kudus melarang umat Islam di Kudus menyembelih sapi, karena hewan tersebut adalah hewan yang dianggap suci oleh orang Hindu. Dalam hal ini, Sunan Kudus telah meletakkan dasar-dasar dakwah yang santun untuk menjalin toleransi diantara umat beragama yang ada.

Dakwah yang santun itulah yang kemudian menjadi salah satu cara dalam menjalin toleransi, di tengah pluralitas agama yang ada di Indonesia. Karena salah satu kunci dakwah diterima kalangan luas adalah dengan melihat dan menginterpretasikan realitas yang ada. Atau dikenal dengan sebuah kaidah sebagai berikut;

خاطبوا الناس على قدر عقولهم

Artinya; Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akalnya.

Oleh karena itulah, seorang pendakwah harus bisa melihat dan membaca bagaimana audiensnya. Dengan kemampuan tersebut, seorang pendakwah akan mampu menjaga dan melihat mana yang pantas untuk diucapkan, sehingga tidak menyakiti umat agama lain dan terwujudlah sebuah dakwah yang santun dan mampu menjalin sebuah toleransi di tengah keragaman yang ada.

Dalam konteks negara Indonesia yang majemuk, seorang pendakwah seharusnya tidak hanya bertugas mendakwahkan ajaran agamanya saja, tetapi juga mendakwahkan nilai-nilai persatuan, perdamaian, cinta tanah air dan toleransi di tengah-tengah masyarakat, sebagai wujud dakwah yang santun dalam menjalin toleransi di tengah kemajemukan masyarakat.

Facebook Comments