Menjernihkan Ayat Jihad dalam Al-Qur’an dari Stigmaisasi

Menjernihkan Ayat Jihad dalam Al-Qur’an dari Stigmaisasi

- in Suara Kita
1128
0
Menjernihkan Ayat Jihad dalam Al-Qur’an dari Stigmaisasi

Ada begitu banyak ayat jihad di dalam Al-Qur’an yang sering-kali dieksploitasi oleh kelompok radikal-teroris. Agar, dengan mudah-nya berbuat kekerasan, bertindak zhalim dan menghancurkan rumah ibadah milik mereka yang berbeda. Mereka membentuk stigma kebenaran-Nya sebagai jalan untuk menghalalkan segala perbuatan mungkar itu.

Maka, dari sinilah kita perlu menjernihkan pemahaman tentang ayat-ayat jihad yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut. Agar, terhindar dari stigmaisasi yang condong menjadikan ayat jihad di dalam Al-Qur’an sebagai dalil kezhaliman. Sebagaimana yang sering-kali dilakukan oleh kelompok radikalisme-terorisme.

Misalnya yang pertama, Al-Qur’an surat (Al-Baqarah:190). Kita menemukan kata perintah “Perangilah di jalan Allah SWT orang-orang yang memerangi kalian”. Ayat ini, sering-kali digunakan sebagai “sentiment sejarah” di mana, orang yang di luar Islam itu masih dianggap musuh yang memerangi umat Islam. Lalu, dengan mudahnya membuat sebuah kesimpulan bahwa memerangi non-muslim dianggap jihad di jalan-Nya. Lantas, Apakah benar begitu?

Tentu, kita perlu lihat terlebih dahulu konteks ayat itu seperti apa dan dalam kondisi seperti apa kata “perintah” itu berlaku. Misalnya, jika kita mengambil argumentasinya Syekh Muhammad Ali As-Shabuni. Beliau memiliki satu keterangan mengenai ayat tersebut dengan membuat satu kriteria. Bahwa, konteks ayat memerangi yang ada di atas tersebut itu “hanya” terjadi di masa lalu.

Karena, di dalam kehidupan kita yang penuh damai dan aman serta saling menghargai di tengah perbedaan keyakinan itu, “haram” hukumnya memerangi mereka yang berbeda keyakinan. Sebab, di satu sisi mereka tidak memerangi umat Islam. Pun, di sisi lain umat Islam memiliki jalan etis untuk menjamin keselamatan mereka. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Karena kita perlu paham bahwa, jalan peperangan itu adalah solusi “terakhir”. Bahkan, bisa dikatakan itu sebagai sesuatu yang “darurat”. Karena konteksnya diperangi, maka wajib hukum-nya membela diri. Jadi, tidak serta-merta ayat jihad tersebut dimaknai bahwa mereka yang dulu pernah memerangi umat Islam, maka sampai kapan-pun mereka lalu dianggap musuh dan perlu diperangi. Lalu dengan sombongnya hal itu dianggap jihad.

Begitu juga dengan yang kedua. Sebagaimana dalam (Al-Qur’an surat Muhammad:4). Di mana, di situ ada kata perintah untuk memerangi ketika bertemu dengan “orang kafir”. Ayat ini, selalu ter-stigmaisasi ke dalam satu jalan untuk bertindak keji, zhalim dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan terhadap mereka yang berbeda keyakinan yang disebut “kafir” itu. Lalu itu disebut sebagai jihad.

Padahal, ayat itu memiliki konteks (di medan peperangan). Jadi, kondisi ayat tersebut perihal peperangan yang berlangsung. Jadi, umat Islam tidak boleh melukai atau berbuat zhalim terhadap rakyat sipil. Karena, Islam selalu menjamin keselamatan dan keamanan mereka.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Muhammad Ali As-Shabuni, ayat tersebut memiliki tiga spektrum. Di mana, umat Islam wajib memerangi ketika diperangi, diusir dari tanah airnya dan dilarang untuk beribadah. Artinya, peperangan atau jihad berperang di dalam Islam itu harus memenuhi tiga syarat itu. Sebab, ketika bertindak zhalim, kasar dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan, lalu menganggap itu jihad, maka hal itu sebagai kesalahan yang sangat fatal.            

Karena perbuatan itu sama saja sebagai kesalahan dan menyalahi prinsip-prinsip yang ada di dalam Al-Qur’an itu sendiri. Maka, point penulis sebetulnya mengacu ke dalam beberapa hal. Bahwa, semua ayat-ayat jihad peperangan di dalam Al-Qur’an itu memiliki konteks sejarah yang sejatinya tidak kita alami dalam kehidupan kita hari ini. Maka dari itulah, konteks jihad kita sebetulnya bukan dalam ranah peperangan. Melainkan jihad berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan di negeri ini.

Facebook Comments