Menjernihkan Sejarah dan Ajaran Khilafah-Jihad

Menjernihkan Sejarah dan Ajaran Khilafah-Jihad

- in Suara Kita
821
7
Menjernihkan Sejarah dan Ajaran Khilafah-Jihad

Secara sosiologis, khilafah itu sejatinya fakta sejarah dalam Islam yang tidak bisa kita buang. Dia adalah sistem pemerintahan yang digunakan oleh Al-khulafa’ Al-Rasyidun. Sedangkan jihad, adalah ajaran yang mempokokkan seseorang kepada (kesungguhan) untuk berjuang di jalan agama-Nya. Sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Nabi dan termaktub dalam Al-Qur’an.

Namun, keduanya perlu kita (jernihkan). Baik secara fungsi, substansi dan konteks perannya. Agar tidak mudah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu. Lalu dengan mudahnya membawa simbol khilafah dan jihad lalu dijadikan alat untuk membangun kekuasaan yang brutal dan bertindak radikal. Karena ada begitu banyak kelompok yang memanfaatkan simbol khilafah dan jihad untuk menghalalkan segala cara.

Misalnya tentang khilafah. Tentunya, ini adalah bentang sejarah umat Islam. Baik tentang sistem kekuasaan dan sistem kepemimpinan yang sesuai dan relevan di masa itu. Karena, di masa lalu, umat Islam masih belum menjalani kehidupan sosial yang berada dalam naungan negara-negara bangsa. Jadi, sistem kekhilafaan pada saat itu sangat memungkinkan sekali. Tetapi, bagaimana ketika saat ini berada dalam payung negara-negara bangsa? Tentu secara fungsi, sistem kekhilafahan sangat kurang relevan.

Jadi, yang perlu kita ambil dari (sistem khilafah) ini bukan label atau simbol-simbol-nya. Melainkan substansi dan nilai-nilai yang dibangun pada saat itu. Untuk memperkuat dan mempertahankan negara yang kita miliki NKRI. Karena, mereka yang selama ini selalu menyuarakan tentang khilafah itu hanya memanfaatkan label dan simbol untuk menguasai tatanan.

Maka, sangat penting saya kira mempelajari sungguh-sungguh tentang sejarah kekhilafahan tersebut. Agar, kita bisa menilai dan bisa memahami dengan benar. Bahwa, sistem kekhilafahan itu relevan pada era-nya dan sangat tidak relevan di era kita hari ini. Maka, di sinilah kita tidak boleh mudah dibodohi oleh kelompok tertentu yang selalu menjadikan khilafah sebagai alasan politik kejayaan umat Islam saat ini.      

Begitu juga dengan jihad. Tentu kita perlu mengacu ke dalam konsep pemahaman jihad baik secara fungsi, konteks, situasi, kondisi dan perannya. Sebagaimana alur dari peran jihad itu mengacu kepada ajaran yang mempokokkan seseorang kepada (kesungguhan) untuk berjuang di jalan agama-Nya. Sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Nabi dan termaktub dalam Al-Qur’an.

Dari sini, ada (benang merah) yang perlu kita pahami. Sebagaimana, ajaran-Nya selalu mengakomodasi kepada nilai-nilai yang mengacu kepada (rahmatan, maslahat, manfaat dan tidak menimbulkan mudharat dan keburukan). Maka, benang merah yang semacam itu kita perlu pegang sebagai jalan untuk (menjernihkan fungsi) dari jihad itu sendiri.

Misalnya, tidak ada jalan jihad yang selalu mengarah ke dalam perbuatan untuk menyakiti, merusak tatanan atau bahkan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, prinsip jihad mengacu kepada ajaran-Nya yang sebagaimana telah dipraktikkan oleh Nabi yang terkandung dalam Al-Qur’an. Maka, Nabi tidak pernah mengacu ke dalam pelanggaran-pelanggaran yang semacam itu.            

Maka, pemahaman yang demikian perihal jihad sebetulnya perlu kita jadikan argumentasi penting. Untuk menolak dan menghindari segala motif jihad yang sering-kali mengarah ke dalam kekerasan, tindakan zhalim dan merusak tatanan yang ada. Karena, jalan jihad tidak pernah mengarah ke dalam wilayah yang semacam itu dan tidak pernah membenarkan hal itu.

Facebook Comments