Mensterilkan Layar Media Sosial dari Risalah Kebencian

Mensterilkan Layar Media Sosial dari Risalah Kebencian

- in Suara Kita
415
0

Akankah tradisi mencela, menghina, adu domba dan provokasi menjadi wajah bermedia kita atas nama kebebasan berekspresi? Kalau ia, moral beragama di tanah air ini telah punah. Wabah narasi kebencian, penghinaan dan caci maki menjadi penyakit akut dikalangan umat beragama. Agama menghilang sekalipun namanya masih terbilang.

Melihat perkembangan konten-konten di media sosial yang yang semakin asyik mempertontonkan narasi kebencian, penghinaan dan sejenisnya, menjadi tanda bahwa identitas keberagamaan penduduk Indonesia telah mengalami senjakala. Krisis akhlak dan krisis moral. Agama seakan tunduk di bawah ketiak “atas nama kebebasan berekspresi”. Paling anyar adalah kasus emak-emak berjilbab di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara yang menghina Iriana Jokow Widodo sambil meludah.

Apa penyebab manusia saling membenci? Apa karena faktor sakit hati? Over dosis prasangka? Ketidaksukaan? Atau ketidaksamaan selera? Atau karena merasa diri lebih baik?

Terlebih di masa sekarang, ada saja ujaran-ujaran kebencian yang kita temukan, khususnya di media sosial. Fenomena tersebut selalu menyisakan pertanyaan kenapa manusia harus membenci. Kalau dikatakan sebagai sifat alamiah atau peristiwa psikologis, memang benar. Tapi, sifat manusia ada yang timbul dari “nafsu ammarah”, nafsu yang selalu mengajak untuk berbuat kesalahan. Dan, hal ini dilarang oleh agama.

Maka, sebagai penganut agama Islam tak layak menuruti nafsu tersebut karena merupakan ekspresi kejahatan yang melanggar norma agama. Kemerdekaan berekspresi tidak bisa diartikan sebagai sebuah kebebasan tanpa batas. Sebab, hak kita dibatasi oleh hak orang lain.

Kata Allah dalam al Qur’an, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”. (Al Humazah:1)

Imam Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulumuddin (III: 164) menyebut “Humazah” adalah “nammam”, yaitu adu domba.

Beberapa hadits yang dikutip oleh Al Ghazali tentang nammam menyimpulkan bahwa tidak ada tempat bagi pelakunya kecuali neraka. Salah satu hadits yang dikutip Al Ghazali adalah “Tidak akan masuk surga si pengadu domba”. (HR.Bukhari dan Muslim). Adapun untuk orang yang suka menghina dan mencela disinggung oleh al Qur’an, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menebar fitnah”. (Al Qalam: 10-11)

Tidak mencela, menebar kebencian, adu domba dan pecah belah merupakan nilai-nilai yang disepakati oleh al Qur’an. Tapi nilai-nilai itu sekarang telah bergeser cukup jauh. Terutama di layar dunia maya, apa yang dilarang oleh teks-teks keagamaan itu malah dipertontonkan.

Seharusnya layar media sosial mencerdaskan kita semua. Dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai-nilai ajaran agama, bukan untuk arena menebarkan kebencian, adu domba, provokasi dan melonggarkan ikatan persatuan. Media sosial selayaknya menjadi media untuk memperbaiki hubungan antar sesama dan sebangsa.

Kita perlu ingat, hampir semua konflik sosial kemanusiaan masa kini sumbernya adalah kebencian. Oleh karena mudharat kebencian yang sangat besar, maka jauh-jauh hari al Qur’an telah mengingatkan supaya hal itu tidak dilakukan. Tidak main-main, kitab langit paling paripurna tersebut menyebut neraka sebagai tempat paling pantas bagi pelaku yang menyebarkan narasi kebencian, adu domba dan provokasi.

Karenanya, selaiknya kita bersama-sama hijrah dari memori bermedia sosial yang pengap, bernuansa kebencian, pencelaan, adu domba, pemecah belah, dll. menuju alam media sosial yang beradab dan penuh kesantunan.

Bersih-bersih Kotoran Ruang Media Sosial

Risalah kebencian di layar media sosial bisa hilang kalau ada itikad baik. Menggunakan argumen yang baik ketika akan menilai seseorang di media sosial sehingga dapat menjadi bahan perbaikan kedepannya.

Status yang kita buat, video yang diunggah dan komentar yang ditulis jangan sampai membuat orang lain tidak nyaman, memilih kata-kata yang sopan dan santun supaya tidak meninggalkan rekam jejak digital yang tidak baik. Bahasa simpelnya adalah “akhlakul karimah”. 

Hal ini penting agar setiap individu tidak kehilangan identitas dan jati dirinya yang sebenarnya. Sehingga identitas masyarakat Indonesia yang santun dan ramah serta menghargai antar sesama dan sebangsa selalu melekat tak lekang oleh masa.

Kita semua harus mengevaluasi pola pemikiran untuk tidak melakukan segala perbuatan buruk, semisal ujaran kebencian yang bisa merusak tatanan damai yang telah berlangsung cukup lama.

Dalam bermedia sosial kita harus mengenal batasan-batasan antara yang layak dan tidak, baik dan buruk. Dalam menggunakan media sosial kita harus dapat memberikan dampak yang baik terhadap segala aktifitas di layar media sosial. Tidak memancing emosi, merentankan perpecahan, memantik permusuhan dan segala akibat buruk yang lain.

Sebagai individu beragama, aspek maslahat harus selalu menjadi bahan pertimbangan dalam bermedia sosial. Selalu melakukan aktifitas kegiatan positif dan bermanfaat bagi orang lain. Bukankah “sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi nilai manfaat kepada orang lain”?

Facebook Comments