Menutup Pintu Intolerasi bagi Anak dengan Strategi Literasi Perdamaian

Menutup Pintu Intolerasi bagi Anak dengan Strategi Literasi Perdamaian

- in Suara Kita
188
0
Menutup Pintu Intolerasi bagi Anak dengan Strategi Literasi Perdamaian

Virus intoleransi dan radikalisme tidak pandang usia. Ia bisa –bahkan bisa menjadi tujuan utama –menyasar anak-anak. Anak-anak yang masih bersih dan polos, para remaja yang masih mencari identitas diri dengan mudah bisa terperosok kepada tindakan intoleransi dan paham radikal serta terindoktrinasi untuk melakukan tindakan terorisme dengan iming-iming yang keliru.

Beberapa kasus peledakan bom, penyerangan rumah ibadah, dan yang ikut berafiliasi dengan organisasi radikal semacam ISIS umpamanya, banyak melibatkan anak-anak. Tahun 2018 mislanya, masyarakat –bahkan dunia – kaget dengan Peristiwa terorisme yang sempat terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. Sebab, dua di antara pelakunya adalah anak-anak.

Pada tahu yang sama, juga dunia maya sempat heboh dengan peristiwa karnaval anak TK dan PAUD di Probolinggo yang memperingati HUT Kemerdekaan RI. Pasalnya, sebagian group pawai anak mengenakan jubah dan cadar sambil memegang senjata. Media sosial sempat heboh sebab pakaian yang dipakai anak-anak itu mirip dengan pakaian anggota teroris terlarang, ISIS. Pro-kontra muncul. Sebagian besar mengkritik panitia pelaksana, mengapa anak harus diperlakukan seperti itu.

Dalam konteks inilah, hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi adalah perlunya mengampanyekan dan mempraktikkan pendidikan literasi perdamian bagi anak.

Mengapa harus anak? Sebab dunia mereka masih polos, bersih, dan mudah dibentuk. Ingatan mereka masih kuat. Apa yang dilihat, didengar, akan mereka ingat, dan dalam level tertentu mereka dengan mudah mempraktekkannya.

Sebagai asset bangsa, anak-anak adalah tunas yang harus dirawat perkembangannya. Letak maju tidaknya suatu bangsa, tak lepas dari perkembangan anak-anak. Salah satu cara paling penting dalam merawatnya adalah dengan cara pendidikan literasi cinta damai. Literasi yang dimaksud di sini adalah membangun nalar, mental, dan emosi mereka lewat bacaan. Bacaan di sini bisa bersifat verbal, tulisan, maupun visual.

Menutup Pintu Intoleransi

            Dari mana literasi perdamaian itu dimulai? Literasi perdamaian itu dimulai dari institusi yang paling dekat dengan anak, yakni  keluarga.

Penekanan pada peran keluarga merupakan hal yang sangat urgen dilakukan. Seiring dengan perkembangan informasi, dunia digital, penetrasi medsos, dan maraknya game on-line seringkali hak-hak anak tidak terpenuhi. Anak sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan tak jarang enggan dan tidak ada rasa simpati terhadap lingkungan di sekitarnya.

Efeknya, tanpa filterisasi, sang anak dengan gampang bisa mengkonsumsi konten-konte berpaham radikal di dunia maya. Keluarga sebagai sekolah pertama dan utama harus memainkan perang aktifnya. Orang tua harus memberikan pendidikan yang humanis, menanamkan nilai pancasila, dan budaya lokal yang arif nan bijaksana.

Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menutup pintu-pintu yang memungkin paham intoleransi dan radikal bisa memasuki anak. Pintu-pintu itu adalah:

Pertama, buku. Orang tua dan guru harus selektif memilih buku kepada anak. Pilihlah buku-buku yang mengajarkan perdamaian, menghargai perbedaan, dan mengutamakan persaudaraan. Buku yang dibaca sang anak sangat berpotenasi menularkan paham intoleran bahkan radikal jika orang tua tidak selektif dan kritis.

Kedua, musik. Musik yang didengarkan oleh sang anak perlu selalu diperhatikan. Musik bisa menyumbang paham radikal dan intoleran. Banyak lirik lagu dan musik yang mengajarkan radikalisme bagi anak. Pilihlah lirik lagu dan musik yang ramah dengan perdamaian.

Ketiga, media sosial. Media sosial itu layaknya pasar. Apa saja ada di dalamnya. Anak harus dibimbing untuk selektif dan kritis memilih konten, video, dan tokoh yang diikuti di media sosial. Boleh jadi seorang anak menjadi intoleran sebab konten-konten yang dia tonton di media sosial.

Keempat, teman. Orang tua harus selektif memilih teman bagi anak. Anak harus diberikan pemahaman bahwa bertemanlah dengan manusia-manusia yang bisa memahami perbedaan. Bukan manusia yang merasa paling benar dan yang lain salah.

Dengan begitu, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang kritis; yang tidak mudah dipengaruhi oleh paham radikal; bisa menimbang mana mafsadat, mana madarat; mana yang bisa membuat damai, mana yang mengakibatkan kekacauan. Literasi diberikan dengan cara tidak memaksa, melainkan pembiasaan dan contoh teladan di depan mata sang anak.

Pembiasaan dan Teladan

Langkah selanjunya untuk pendidikan literasi cinta damai bagi anak adalah dengan cara pembiasaan dan contoh konkrit. Usia anak adalah usia yang bisa karena biasa, dan terbiasa karena ada contoh teladan konkrit di depan matanya. Sejak dini, anak harus dibiasakan mendengarkan dongeng, cerita, kisah, hikayat, legenda yang berisi tentang pesan-pesan perdamaian. Usia anak adalah usia yang mudah bosan. Jika terus-menerus didongenkan sebelum tidur, lama kelamaan ia akan berontak, maunya dia yang menceritakan, bukan diceritakan lagi. Momen atau fase inilah saatnya orang tua masuk, memberikan mereka buku bacaan yang ramah anak dan penuh pesan moral perdamaian.

Beberapa penelitian menujukkan, anak akan betah bercerita apa yang dia baca, dia lihat, dan dia dengar dari lingkungan sekitarnya. Anak yang sudah terbiasa dengan bacaan, gambar, dan video yang penuh dengan pesan perdamaian, maka akan kecanduan dengan buku-buku model beginian. Pada tahap selanjutnya, ia akan tumbuh menjadi manusia yang berkarakter penuh tanggungjawab dalam menjaga eksistensi perdamaian.

Selain pembiasaan, strategi berikutnya adalah memberikan mereka contoh konkrit. Para orang tua harus membiasakan diri membaca di depan anak-anak. Atau menciptakan kondisi dan ruangan yang bisa merangsang keinginan anak untuk selalu membaca. Anak adalah peniru handal. Anak mempunyai rasa penasaran yang tinggi. Jika orang tua terbiasa membaca, ia akan meniru langsung. Jika orang tua menciptakan iklim ramah literasi anak, sang anak akan penasaran lalu mencontohnya.

Banyak kasus menunjukkan, bahwa anak menjadi radikal, intoleran, dan mudah terkontaminasi virus anti-perdamian, disebabkan oleh kegagalan orang tua dalam memberikan contoh dan pembiasaan akan pentingnya nilai-nilai perdamian. Orang tua di sini tentu bukan dalam pengertian sempit, ia bisa guru, ustad, kyai, bahkan negara. Semua orang tua (dalam pengertian umum tadi) harus hadir memberikan contoh konkrit dan pembiasaan bagi anak-anak Indonesia.

Facebook Comments