Menyadarkan Umat dari Bahaya Paham Radikalisme

Menyadarkan Umat dari Bahaya Paham Radikalisme

- in Suara Kita
1384
0
Menyadarkan Umat dari Bahaya Paham Radikalisme

Dinamika radikalisme di Indonesia telah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Ditangkapnya Zain an Najah anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini semakin mempertebal keyakinan bahwa Indonesia darurat radikalisme. Tidak bisa disangkal lagi kalau paham radikalisme telah menelusup dan meracuni hati sebagian umat. Tidak saja yang awam, tapi juga kalangan intelektual terinfeksi virus radikalisme. Tak terkecuali juga mereka yang disebut tokoh agama; kiai, ustad, hafidz atau penghafal al Qur’an, guru, dosen, dan pelajar. Untuk itu, tugas yang masih waras untuk menyelematkan umat dari paham radikalisme.

Secara keseluruhan penyebab utama seseorang dipengaruhi oleh paham radikalisme adalah disebabkan oleh doktrin keagamaan yang menghendaki penyamaan kebenaran seperti versi kaum radikal. Upaya untuk menyamakan agama dan paham keagamaan dalam satu definisi ini mengakibatkan mereka tidak siap untuk menerima perbedaan yang ada di lingkungan sekitarnya. Yang terjadi berikutnya adalah politisasi agama; daya upaya untuk menyeragamkan praktek keagamaan dengan berkiblat kepada interpretasi teks agama tertentu.

Kecenderungan untuk mengikuti penafsiran tunggal dalam pengertian mereka tersebut pada akhirnya menyudutkan mereka untuk selalu berbeda dengan kelompok lain, baik satu agama atau penganut agama yang berbeda. Mereka tidak segan-segan untuk menolak perbedaan itu, bahkan menolak dengan segala cara apapun. Termasuk dengan cara-cara kekerasan seperti terorisme.

Lebih jauh dari itu, akibat tidak bisa menerima perbedaan yang ada, kaum radikal juga beranggapan bahwa pemimpin negara ini melakukan pembiaran terhadap kesesatan dan kesalahan orang-orang yang tidak satu tafsir dengan mereka. Karena itu, pemimpin negara Indonesia adalah kafir karena tidak melarang kemungkaran dan karena hukum-hukum negara tidak sesuai syariat Islam.

Untuk itu, supaya kedamaian, ketenteraman, ketenangan dan kerukunan masyarakat Indonesia yang multi agama, etnis, suku dan kelompok tetap terjalin secara harmonis, maka umat harus diselamatkan dari paham radikalisme dengan menyadarkan bahaya dan risiko paham radikalisme.

Memahamkan umat dari bahaya dan risiko paham radikalisasi untuk saat ini menjadi kewajiban semua umat Islam yang masih paham dan sadar, terutama kalangan para ulama. Karena, adalah fakta masih tidak sedikit orang-orang yang menyetujui tindakan terorisme sebagai aktivitas jihad. Aksi yang mencederai agama itu dikira sebagai perintah agama. Tidak saja kalangan awam yang memiliki cara pandang seperti itu, namun tokoh-tokoh dan pembesar agama juga memiliki nalar yang sama. Dan, mereka tidak menyadari hal itu.

Untuk menyadarkan mereka yang tidak sadar telah terinfeksi paham radikalisme memang tidak mudah. Harus melakukan narasi-narasi tandingan baik di dunia nyata maupun maya. Data-data kebenaran tentang teks-teks keagamaan yang membuktikan kesalahan paham radikalisme harus disajikan kepada publik. Khalayak ramai harus mengetahui kesalahan argumen-argumen kaum radikal.

Untuk menyelamatkan umat dari paham radikalisme kita semua yang masih waras harus aktif melakukan diskusi-diskusi dengan anak-anak muda yang berpendidikan dengan mengungkapkan fakta-fakta tentang kekeliruan ijtihad kaum radikal yang berkeinginan menyeragamkan ajaran agama. Menyamakan interpretasi terhadap teks-teks keagamaan sangat bertentangan dengan ajaran Baginda dan atsar (tradisi) para sahabat. Sejak semula, baik pada masa Nabi sendiri, para sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in perbedaan telah biasa terjadi. Terdapat banyak bukti dalam sejarah Nabi ketika beliau mengajarkan para sahabat-sahabatnya untuk tidak mempermasalahkan perbedaan.

Hal berikutnya untuk menyelamatkan umat dari paham radikalisme adalah memahamkan mereka terhadap ajaran Islam yang sangat menghormati pluralisme dan nilai-nilai kemanusiaan. Menegaskan, sesungguhnya pilar-pilar ajaran Islam tidak menghendaki adanya penistaan terhadap hak-hak manusia. Agama dan keyakinan apapun yang dipilih merupakan hak masing-masing. Perbedaan kelamin, suku, etnis dan kelompok merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Karenanya, membunuh karena gara-gara semua perbedaan tersebut adalah pengangkangan terhadap marwah agama Islam sendiri.

Berikutnya, peran strategis untuk mengingatkan umat akan bahaya paham radikalisme akan lebih efektif bila dilakukan dengan cara dan sistem yang terorganisir. Seperti pada basis-basis pendidikan, organisasi keagamaan, majelis-majelis taklim, dan seterusnya. Ruang-ruang ini diisi mengenai pandangan dan pemikiran dalam mengahadapi radikalisme serta untuk melucuti doktrin ideologi radikalisme.

Satu hal lagi, tidak akan ada pesta yang meriah tanpa sokongan dana yang besar. Radikalisme sebagai hulu dan hilirnya adalah terorisme tidak akan berjalan efektif kalau tidak ada alokasi dana. Ditemukannya ribuan kotak amal yang bertujuan untuk pendanaan terorisme menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak sembrono dalam berinfaq. Apabila masuk kantong-kantong kaum radikal sama saja kita berpartner dengan mereka untuk tujuan kemaksiatan. Kehati-hatian dalam investasi akhirat tersebut juga bagian dari memutus tali radikalisme dan terorisme.

Beberapa upaya menyadarkan umat dari bahaya dan risiko radikalisme tersebut merupakan jihad untuk saat ini. Jihad menyelamatkan agama Islam dan jihad menyelamatkan negara dari kehancuran.

Facebook Comments