Menyambut Kemuliaan Ramadhan dengan 5 Hal

Menyambut Kemuliaan Ramadhan dengan 5 Hal

- in Suara Kita
248
0
Menyambut Kemuliaan Ramadhan dengan 5 Hal

Ada lima hal pokok bagi kita. Guna sebagai bekal menyambut kemuliaan bulan suci Ramadhan, yang sebentar lagi akan kembali tiba di tengah-tengah kita. Pertama, membiasakan diri untuk selalu bersikap santun. Kedua, belajar menahan hawa nafsu dan ego. Ketiga, menghindari ucapan atau-pun tindakan yang membenci atau-pun merusak. Keempat, belajar memahami realitas sosial. Kelima, optimalisasi sabar dan konsisten berbuat baik secara (spiritual-sosial).

Pertama, kemuliaan bulan suci Ramadhan ini harus kita sambut dengan perilaku kita yang (santun). Sebagaimana, Ramadhan adalah bulan suci dan penuh kemuliaan di dalamnya. Maka, sangat tidak etis ketika kita menyambut dengan perilaku diri yang kurang sopan atau tidak mengedepankan kesantunan. Jadi, kita harus santun dalam berucap, bertindak atau-pun menyikapi segala hal dalam kehidupan sosial ini.

Sebab, bulan suci Ramadhan dalam konteks berpuasa, sejatinya tidak hanya soal menahan minum dan makan. Tetapi, kita juga bisa menahan diri agar tidak sembarangan berbicara terhadap orang lain, berkata kasar atau-pun menyakiti perasaan orang lain. Hingga, berujung pada konflik atau perpecahan. Maka, di situlah puasa kita seperti tidak ada nilainya.

Kedua, menyambut bulan suci Ramadhan dengan menahan hawa nafsu dan ego merupakan hal penting. Sebab, sumber dari kemudharatan itu selalu datang dari hawa nafsu dan ego yang tidak terkontrol. Misalnya, dalam aktivitas kehidupan sosial, hawa nafsu dan ego kita selalu ingin merasa paling benar, merasa ingin dihargai, tidak mau dirinya disalahkan dan lain sebagainya.

Sehingga, kebiasaan buruk yang semacam ini jika dibiarkan merajalela atau menguasai diri kita, maka secara otomatis kita seperti “menodai” kemuliaan dan kesucian Ramadhan itu tadi. Sehingga, jalan etis kita untuk tetap menjaga kemuliaan dan kesucian Ramadhan adalah dengan mengontrol ego dan hawa nafsu kita agar tidak semaunya dan sebisanya mengambil sebuah keputusan yang bisa berujung ke dalam keburukan.

Ketiga, menghindari ucapan atau perbuatan yang penuh kebencian atau yang merusak. Sebagaimana halnya, kebiasaan kita yang terkadang “tidak terkontrol” seperti di sosial media. Kita kadang berdebat atau melihat posting-an yang tidak sesuai dengan alur pemikiran kita. Sehingga, di sinilah kadang muncul sebuah ucapan dalam bentuk (chatt atau komentar) yang dilumuri dengan kebencian. Atau, ketika di jalan misalnya. Kadang kita tidak terkontrol lalu tiba-tiba emosi dengan pengendara yang lain.

Semua perilaku yang semacam ini harus kita hindari. Yaitu ucapan atau perilaku buruk dan merusak. Karena, barometer puasa kita bulan hanya soal “mulut kita” tidak makan atau tidak minum. Tetapi, bagaimana kita bisa menjaga jari-jemari (di sosial media) dan tindakan kita di ruang nyata, agar tidak penuh kebencian dan membawa kerusakan bagi tatanan ini.

Keempat, kita harus belajar peka terhadap realitas sosial yang majemuk. Sebagaimana inti dari tujuan puasa, pada hakikatnya agar kita bisa lebih peka. Baik terhadap diri kita sendiri atau terhadap lingkungan. Sehingga, di sinilah kita akan semakin tahu dan sadar. Akan pentingnya sebuah toleransi dan kehidupan sosial yang harmonis di tengah perbedaan. Karena, semakin kita belajar peka, semakin kita akan sadar bahwa kemajemukan akan terjadi konflik dan kerusakan sosial jika tidak disikapi dengan baik.

Kelima, optimalisasi sabar dan konsisten berbuat baik secara (spiritual-sosial). Hal ini sangat penting untuk terus menjaga kemuliaan dan kesucian Ramadhan. Sebab, menyambut bulan suci Ramadhan dengan sabar adalah kunci keselamatan kita dalam segala hal. Juga, memperbanyak berbuat baik secara sosial atau-pun spiritual itu merupakan bekal bagi kita kelak di akhirat.            

Maka, dari sinilah pentingnya lima hal pokok yang saya sebutkan di atas. Sebagai bekal, guna menyambut kemuliaan bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi akan segera tiba. Karena, bulan suci Ramadhan adalah tempat bagi kita untuk terus belajar mengikat hubungan baik kepada-Nya sekaligus menjaga hubungan baik terhadap sesama.

Facebook Comments