Menyelami Esensi Idul Adha dalam Membentuk Keluarga Sakinah

Menyelami Esensi Idul Adha dalam Membentuk Keluarga Sakinah

- in Suara Kita
206
1
Menyelami Esensi Idul Adha dalam Membentuk Keluarga Sakinah

Idul Adha yang salah satu rangkaiannya ialah ibadah Kurban merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, juga sebagai pengamalan dari firman Allah SWT Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang artinya “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah”. Melalui ibadah Kurban kita mengenang kembali serta mencoba meneladani perjuangan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As.

Rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim As yang puncaknya dirayakan sebagai Hari Raya Idul Adha harus mampu mengingatkan kita bahwa yang dikurbankan tidak boleh manusianya, tetapi menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Sifat rakus, ambisi yang tidak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum atau norma apapun harus dibunuh.

Untuk menghilangkan sifat-sifat kebinatangan tersebut manusia haruslah dididik. Melalui pendidikan inilah diharapkan dapat mengangkat derajat manusia agar bisa menjadi makhluk bermartabat. Kalau kita selami secara mendalam esensi dari Idul Adha ada banyak nilai-nilai pendidikan karakter, diantaranya peran pendidikan karakter dalam keluarga. Kita bias meneladani bagaimana pendidikan dalam keluarga Nabi Ibrahim As. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah ayat 4 yang artinya, “Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”

Adapun di antara keteladanan dari praktik pendidikan keluarga Nabi Ibrahin As ialah karakter kesabaran. Pola pendidikan dalam keluarga Nabi Ibrahim As yaitu bahwa Nabi Ismail As tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya yakni Siti Hajar. Dan Siti Hajar tidak akan menjadi seorang penyabar jika tidak dididik oleh Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As pun tidak akan dapat sabar jika tidak mendapat bimbingan dari Allah SWT melalui wahyu-Nya.

Baca Juga : Membumikan Teologi Kurban

Dengan adanya lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal di masyarakat kita, saat ini ada kecenderungan banyak para orang tua pasrah tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada lembaga pendidikan. Padahal, sebenarnya esensi tanggung jawab pendidikan yang utama dan pertama sebagai pondasi atau landasan adalah oleh orang tua dalam keluarga. Sementara lembaga pendidikan lainnya seperti sekolah hanyalah bersifat membantu tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya. Bahkan khusus pendidikan karakter sangat dianjurkan ditanamkan sejak dini oleh orang tuanya melalui pendidikan dalam keluarga. Kita bisa berkaca dari keteladanan pendidikan keluarga Nabi Ibrahim As yang mendidik anaknya Ismail As melalui perintah berkurban.

Berbagai lembaga pendidikan formal ataupun non formal dewasa ini telah menawarkan fasilitasi serbah wah dan lengkap. Namun, pendidikan keluarga tidak boleh terlupakan. Mengingat lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan paling utama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan serta bimbingan dalam hidupnya.

Keluarga tak ubahnya sebagai sekolah pertama yang menjadi pondasi pokok dalam tumbuh kembang karakter anak. Keteladanan orang tua bagi anak-anaknya sangatlah penting. Karena itulah, orang tua musti menjaga tutur kata dan tindakannya dalam mendidik anak. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dalam pendidikan keluarganya.

Gambaran keluarga Nabi Ibrahim ini setidaknya memberikan tiga keteladanan pendidikan karakter penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap anggota keluarga.

Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Dalam hal ini secara tidak langsung Nabi Ibrahim As mengajarkan musyawarah ketika mengambil keputusan dalam keluarga.

Ketiga, pelajaran yang tak kalah penting yaitu menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan.

Ketiga pelajaran pendidikan karakter ini saling kait mengait tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dan inilah awal dari terciptanya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT dalam Q.S. al-Rum [30]: 22, yang pada akhirnya nanti akan menentukan nasib agama dan bangsa.

Facebook Comments