Menyelami Spirit Kebangsaan dari Romantisme Islam dan Nusantara

Menyelami Spirit Kebangsaan dari Romantisme Islam dan Nusantara

- in Suara Kita
198
0

Istilah nama Ibu Kota Negara (IKN) yaitu “Nusantara” tentu tidak hadir di ruang kosong. Melainkan memang sudah dipertimbangkan matang dan mengandung spirit kebangsaan. Islam sendiri mempunyai kisah romantisme di kala masuknya ke tanah air yang kala itu masih dikenal Nusantara.

Ada suatu hal yang sangat menarik jika kita menelusuri jejak langkah Islam dalam romantisme bangsa ini. Islam masuk ke Nusantara merupakan sesuatu yang unik dan khas. Ajaran Rasulullah Muhammad SAW ini, hadir di tengah-tengah masyarakat Nusantara yang heterogen dan plural melalui suatu proses penuh kasih sayang, tanpa adanya kekerasan. Padahal pada saat itu, kebanyakan masyarakat pribumi beragama Hindu atau Budha. Dan bersamaan itu pula kepercayaan Animisme dan Dinamisme telah lama mentradisi serta mengakar kuat. Tapi, karena Islam masuk dengan jalan damai, sehingga Islam dengan mudah diterima.

Menurut M.C. Ricklef penyebaran Islam di daratan Nusantara ini umumnya berlangsung melalui dua proses. Pertama, penduduk pribumi berinteraksi dengan Islam kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang Asia, seperti Arab, Persia, India, dan Cina yang beragama Islam bermukim dan tinggal lama di Indonesia, yang kemudian melakukan perkawinan dengan orang pribumi. Dari proses-proses inilah Islam semakin berkembang luas. Banyak orang-orang pribumi berbondong-bondong masuk Islam. Bahkan raja-raja ataupun para penguasa juga banyak yang dengan kerelaan hati tanpa adanya paksaan memeluk Islam.

Awal Islam Masuk ke Nusantara

Mundzirin Yusuf (2006: 34) menyebutkan bahwa ada empat teori mengenai awal mula Islam masuk ke daratan Nusantara. Pertama, yaitu teori Mekah yang mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad ke-1 H/7 M. Tokoh nasional teori ini yakni H. Abdul Karim Amrullah atau yang sering kita kenal dengan Buya HAMKA. Adapun tokoh barat yang mengenalkan teori ini yaitu Thomas Arnold, Crawfurd, Niemann, dan de Hollander. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith (1913) mengatakan bahwa para pedagang Arab membawa Islam saat mereka menguasai perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 M sambil menyebarkan Islam.

Kedua, teori Gujarat yang mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H/13 M. Gujarat terletak di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab. Tokoh yang mensosialisasikan teori ini mayoritas merupakan sarjana dari Belanda. Adapun sarjana yang pertama kali mengemukakan teori tersebut yaitu J. Pijnapel dari Universitas Leiden. Kemudian disusul oleh Snouck Hurgronje, Moquette, dan Fatimi.

Ketiga, teori Persia yang mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini ialah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan masyhur asal Banten. Dalam memberikan argumentasi, Hoesein lebih menitik beratkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dengan Indonesia. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein dan sejalan dengan Moquetta, yaitu terdapat kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam dan juga karena menganut Mahzab Syafii, sama dengan di Iran.

Keempat, teori Cina yang mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat pribumi Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al-Qurtuby di dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960 M) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan pesisir Cina bagian selatan, telah ada berdiri dan berkembang beberapa pemukiman Islam.

Di samping teori-teori tersebut ada pula saluran atau proses Islam masuk ke Nusantara. Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran Islamisasi yang berkembang di Nusantara ada emam cara yaitu melalui proses perdagangan, perkawinan, politik, pendidikan, tasawuf, dan kesenian. Ada sesuatu yang unik dari saluran Islamisasi melalui kesenian, di antaranya lewat pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang tersebut. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, akan tetapi cerita ini disisipi juga ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain seperti sastra, tembang, serta seni ukir juga dijadikan alat Islamisasi.

Pada perkembangan selanjutnya, Islam mampu beradaptasi dengan cepat termasuk dengan budaya lokal setempat. Islam mengajarkan persamaan derajat di antara sesama manusia dengan tidak membedakan kasta ataupun kelas. Perbedaan suku, ras, golongan, dan kepentingan politik diapresiasi dengan “cerdas” oleh para tokoh penyebar Islam. Bahkan para walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa sangat jenius dalam meramu strategi dakwah tanpa paksaan melalui wayang, tembang, dolanan anak, dan berbagai macam kesenian tradisional yang digemari oleh masyarakat lokal pada saat itu. Hal inilah yang membuat citra positif Islam di mata pribumi sampai akhirnya masuk ke lingkungan kerajaan.

Beberapa cuplikan kisah romantisme Islam dan Nusantara tersebut menunjukkan bahwa keduanya mengusung spirit persatuan dan kesatuan bangsa. Dan kiranya pemerintah mengganti nama IKN dengan Nusantara punya maksud falsafah spirit kebangsaan sebagaimana telah digaungkan Islam dan bangsa ini sejak dulu.

Facebook Comments