Menyembuhkan Intoleransi dalam Pusaran Komersialisasi Agama

Menyembuhkan Intoleransi dalam Pusaran Komersialisasi Agama

- in Suara Kita
1124
0
Menyembuhkan Intoleransi dalam Pusaran Komersialisasi Agama

Kemajemukan Indonesia adalah sebuah realitas. Perbedaan agama, suku, dan bahasa merupakan kekhasan dan khzanah kekayaan bangsa. Semua itu merupakan nikmat untuk bangsa ini. Sekian perbedaan tersebut merupakan potensi besar untuk membangun sebuah peradaban modern yang maju. Menjadi pemantik untuk “fastabiqul Khoirot”, berlomba saling di depan dalam kemajuan dan kesejahteraan.

Oleh karena itu keragaman harus dikelola dengan baik. Sebaliknya, apabila tidak dikelola secara baik, perbedaan akan berpotensi merusak dan menghancurkan tatanan baik yang telah ada, bahkan bisa menghancurkan sebuah negara. Terbukti sampai sekarang, kemajemukan mengakibatkan Indonesia selalu diwarnai dengan konflik yang masih cukup potensial.

Budaya Indonesia yang santun, ramah, tepo seliro, gotong-royong, dan, mementingkan kebersamaan tergerus serta mengalami disorientasi dan dislokasi. Konflik terus saja mengalir. Walaupun berusaha diobati, namun tidak kunjung sembuh total. Persatuan dan integrasi bangsa yang diusung bersama-sama sebagai tujuan bersama mengalami ambivalensi. Penuh intrik, paradoks, pertentangan, primordialisme dan sejenisnya.

Menurut saya, paling tidak ada tiga faktor mengapa konflik di Indonesia tidak pernah surut.

Pertama, sesat pikir terhadap kelompok lain, terutama minoritas, yang dipandang sebagai musuh yang harus disingkirkan daripada kenyataan yang harus dirawat. Munculnya kelompok minoritas yang tak sealiran dan seagama merupakan ancaman yang harus dimusnahkan. Sesat pikir ini cenderung akan menyerang ideologi dan keyakinan orang lain. Saban kali ada kesempatan dimanfaatkan untuk menunjukkan hegemoni dan dominasinya.

Kedua, menguatnya mentalitas penyimpangan toleransi. Mental toleransi yang hakikatnya merupakan spirit keimanan dan semangat nilai-nilai kearifan lokal melemah dan hilang dari masyarakat Indonesia. Budaya toleran yang semestinya menjadi karakter luhur bangsa luntur.

Ketiga, politisasi agama. Intoleransi yang acap berbuntut kekerasan SARA merupakan implikasi dari racikan para politikus, pejabat dan tokoh agama untuk meraih kekuasaan. Dalam ranah agama, politisasi gaya ini memainkan perannya dengan melabeli agama dengan “agama resmi” dan “agama tidak resmi”. Untuk meraup  simpati dan suara mayoritas, agama kaum minoritas dibredeli dengan tuduhan sesat, harus dipinggirkan, kediamannya dibakar dan diusir dari kampung halamannya.

Kasus intoleransi berbuntut kekerasan yang berlarut-larut terjadi merupakan ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Apabila dibiarkan kehancuran di depan mata. NKRI hanya akan tinggal cerita. Kalau ingin keutuhan negara tetap terjaga, maka perlu upaya serius menuntaskan problem intoleransi. Solusi preventif sekaligus kuratif untuk meminimalkan kasus intoleransi adalah dialog aktif dan pendidikan multikultur.

Dialog yang dimaksud bukan beradu otot leher mempresentasikan kebenaran, dan kebenaran itu tunggal hanya miliknya, melainkan memberikan ruang bagi semua kelompok untuk berekspresi. Memberikan kesempatan untuk membeberkan tafsir-tafsir dari agama atau aliran yang diyakini, alasan mengapa memilih agama atau keyakinan tersebut, dan seterusnya. Andaipun berbeda dengan keyakinan yang diimani, maka harus menerimanya sebagai kenyataan bahwa perbedaan itu lumrah.

Upaya ini harus bersinergi dengan pendidikan multikultural. Misalnya pada pendidikan kewiraan, sejarah, PPKn, Budi pekerti, dan pendidikan agama. Melalui pendidikan multikultural, seseorang akan melihat perbedaan secara lebih luas. Akan memandang perbedaan sebagai khzanah dan kekayaan bangsa. Masyarakat tidak akan terpenjara oleh perasaan saling menyalahkan, dendam, dan permusuhan abadi yang bisa mengoyak tenun kebangsaan Indonesia di masa mendatang.

Rakyat Indonesia, apapun agama dan keyakinannya, suku dan agamanya, akan paham kalau intoleransi adalah sikap mengangkangi pesan-pesan keimanan dan kemanusiaan. Hanya akan menyengsarakan dan pada gilirannya adalah kehancuran. Bahwa hasutan untuk melakukan persekusi terhadap agama dan aliran kelompok lain yang disuarakan oleh pembesar agama atau kelompok tertentu tak lebih hanya komersialisasi agama untuk tujuan tertentu.

Facebook Comments