Meraih Ampunan di Malam Lailatul Qadar

Meraih Ampunan di Malam Lailatul Qadar

- in Suara Kita
283
2
Meraih Ampunan di Malam Lailatul Qadar

Di penghujung Ramadan, umat Islam semakin intens beribadah dan beramal saleh agar bisa menutup bulan mulia ini dengan sempurna. Terlebih, di hari-hari terakhir Ramadan, ada satu malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan, yakni malam lailatur qadar. Malam di mana Al-Quran diturunkan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Qadr 97:1-.5, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”

Allah Swt menjadikan lailatul qadar menjadi malam yang begitu istimewa dengan menebarkan kemuliaan dan ampunannya kepada siapa pun yang mau datang kepada-Nya dan memohon ampun. Meski begitu, tak ada yang tahu kapan persis datangnya malam lailatur qadar. Malam istimewa ini dirahasiakan Allah mengenai kapan kepastian waktunya, bisa jadi agar kita bersungguh-sungguh mencarinya dengan memaksimalkan ibadah di setiap malam.

Rasulullah Saw. pernah memberi petunjuk kepada para sahabat mengenai datangnya malam penuh kemuliaan ini. “Aku sebenarnya telah diberi tahu tentang kapan tepatnya Lailatul Qadar. Namun aku lupa. Karena itu, burulah “Malam Seribu Bulan” itu pada sepuluh malam ganjil di akhir bulan suci ini..” Karena waktunya dirahasiakan, sudah semestinya kita bersungguh-sungguh mencarinya dengan memanfaatkan sisa-sisa sepuluh hari terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan melipatgandakan amal saleh.

Menghapus kebencian

Berbagai kemuliaan dan keutamaan malam Lailatul Qadar membuat kita semakin terdorong memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan ini. Baik dengan memperbanyak salat malam, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf di masjid, berzikir, berdoa, dan amalan-amalan ibadah lain.

Baca juga : Renungan Jelang Akhir Ramadhan

Namun, di samping ibadah-ibadah ritual tersebut, ada hal yang juga tak boleh dilupakan. Bahwa di samping beribadah, mendekatkan diri dan memohon ampun kepada Allah, hari-hari terakhir Radaman juga menjadi momentum untuk menghapus berbagai bentuk penyakit hati yang selama ini membuat kita bermusuhan dengan sesama manusia.

Di tengah fenomena menguatnya kebenciaan di masyarakat, merebaknya kabar bohong (hoaks), fitnah dan mudahnya orang saling mencaci dan bertikai belakangan ini, jelas kita mesti melakukan evaluasi dan kontemplasi terkait bagaimana kita menjalin hubungan dengan sesama. Sebab, jika kita ingin meraih ampunan dan kemuliaan malam lailatul qadar, salah satu syaratnya di antaranya adalah membebaskan diri dari permusuhan dan kebencian.

Ahmad Rofi’ Usmani dalam buku Pesona Ibadah Nabi (Mizania: 2015) menceritakan suatu ketika Rasulullah Saw menjelaskan kemuliaan malam Lailatul Qadar kepada para sahabat. Beliau menjelaskan, di malam tersebut Allah Swt. membebaskan ruh sebanyak-banyaknya dari neraka dan dimasukkan ke surga. Lantas, malaikan Jibril turun ke bumi bersama serombongan malaikat lain. Malaikat Jibril menyeru kepada malaikat yang lain, “Wahai para malaikat! Berpencarlah!”

Para malaikat bertanya, “Wahai Jibril! Apa yang akan dilakukan Allah Swt berkenaan dengan berbagai keperluan umat Muhammad Saw. yang beriman?”. Jibril menjawab, “Pada malam ini Allah Swt. memandangi mereka dan memafkan mereka, kecuali empat kelompok manusia”. Sejenak, Rasulullah Saw berhenti berbicara.

“Wahai Rasul, siapakah empat kelompok itu?” seorang sahabat bertanya.

Mereka adalah pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, orang yang memutus silaturrahim, dan orang yang saling bermusuhan,” jawab Rasulullah Saw.

Salah satu sahabat bertanya lebih lanjut, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang saling bermusuhan itu?”.

Dan Rasulullah Saw. menjawab, “orang yang saling membenci”.

Dari keterangan tersebut, kita semakin tersadar betapa bahayanya kebencian dan permusuhan pada sesama. Kebencian dan permusuhan membuat manusia jauh dari rahmat dan kemuliaan Allah Swt. Bahkan, orang yang bermusuhan atau saling membenci membuatnya digolongkan menjadi salah satu kelompok manusia yang dikecualikan dari mereka yang meraih ampunan Allah di malam Lailatul Qadar.

Oleh karena itu, hari-hari terakhir Ramadan juga menjadi saat untuk melakukan evaluasi diri; melepaskan diri dari jerat kebencian dan permusuhan dengan sesama. Segala bentuk penyakit hati yang sering merenggangkan, bahkan merusak hubungan kita dengan sesama seperti iri, dengki, sombong, benci, tinggi hati, dan lain sebagainya, mesti kita bersihkan, sehingga hati kita kembali suci dan siap menerima limpahan kemuliaan dan ampunan Allah Swt.

Sepuluh hari terakhir Ramadan tak sekadar mendorong kita memaksimalkan ibadah-ibadah ritual dengan penghambaan sepenuhnya kepada Allah Swt, namun juga bagaimana menghapus kebencian dan permusuhan dengan sesama lewat ibadah-ibadah sosial. Sebab kemurahan pintu maaf Allah Swt tidak diperuntukkan bagi mereka yang saling bermusuhan dan saling membenci. Kini sudah semestinya kita saling memaafkan, meningkatkan empati dan kepedulian kepada sesama, serta merajut kembali tali persaudaraan. Wallahu a’lam..

Facebook Comments