Merawat NKRI dalam Himpitan Medsos dan Isu SARA

Merawat NKRI dalam Himpitan Medsos dan Isu SARA

- in Suara Kita
176
2
Merawat NKRI dalam Himpitan Medsos dan Isu SARA

Majunya dunia digital juga memberi tantangan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Usia 74 tahun bagi NKRI saat ini rentan dengan isu SARA yang terbawa di media sosial (Medsos). Baru-baru ini ada kasus Ustadz Abdul Somad yang menyinggung Umat Kristiani, tragedi bendera di Asrama Papua Surabaya yang berujung keluarnya kata rasisme dan berakibat beberapa kelompok orang Papua tidak terima, lalu melakukan demo dan pembakaran tempat publik di Papua. Tidak sampai disitu, saat ini warga Papua sengaja dibentur-benturkan dengan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) via medsos.

Memang mempertahankan Indonesia yang beragam suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) itu tidak mudah. Persatuan NKRI yang terhimpit medsos yang selalu bawa-bawa isu SARA tentu mengkikis keutuhan bangsa. Seolah-olah warganet ini belum dewasa dalam bermedsos. Warganet seharusnya sadar pentingnya keutuhan NKRI dengan cara bermedsos secara bijak tanpa membawa isu SARA.

Bola api medsos kecepatannya melampui kecepatan cahaya, sehingga jangkauanya luas. Para warganet harus cerdas ketika ada postingan hoax, fitnah, ujaran kebencian dan isu SARA. Warganet kalau menemui hal seperti itu harus mencari kebenarannya dulu dan jangan asal ikut membagikan. Bila perlu konten itu terlalu sensitif warganet bisa mengirim url link yang diemailkan ke [email protected] supaya bisa langsung ditindak. Tindakan ini penting sebagai wujud kontribusi warganet dalam menjaga persatuan.

Penting bagi penceramah, motivator dan orator jangan sampai menyampaikan materi yang menyinggung SARA. Andai kata ceramah itu dilakukan hanya lingkup golongan, kemudian ada guyonan SARA, maka jangan sampai terpublikasikan, baik secara tulisan, foto serta video. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan benturan-benturan SARA.

Baru-baru ini Malaysia menindak Zakir Naik. Zakir Naik sudah tinggal di Malaysia 3 tahun, tetapi malah memberikan komentar yang berbau SARA di Malaysia. Komentar Zakir Naik menyatakan bahwa pemeluk Hindu di Malaysia memiliki hak 100 kali lebih banyak dibandingkan minoritas Muslim di India. Padahal menurut Naik, muslim di India lebih percaya pada pemerintah India dibandingkan pemeluk Hindu di Malaysia.

Baca Juga : Tolak Provokasi SARA: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

Indonesia dan Malaysia ataupun negara-negara lain SARA menjadi isu sensitif. Komentar Zakir Naik seperti itu akan membawa dampak negatif hubungan baik Malaysia dan India, keutuhan Malaysia dan hubungan Muslim dan non Muslim. Ranah komentar Zakir Naik bisa-bisa mengusik perdamaian dunia, apalagi dengan arus digital yang cepat informasi menyebar begitu luas, kemudian ada yang membumbui biar semakin panas. Warganet harus sadar ketika ada isu SARA, bahwasanya ada oknum yang menginginkan perpecahan.

Indonesia begitu kompleks terkait SARA, apalagi sekarang banyak oknum begitu suka membawa bara api SARA ke medsos. Orang-orang yang menginginkan perpecahan seperti ini, berarti tidak tahu perjuangan pahlawan dalam menyatukan Nusantara dalam mewujudkan kemerdekaan. Jangan sampai Indonesia terpecah-pecah. Sebab kekuatan bangsa ini terletak pada persatuan yang utuh. Hal inilah yang mendasari kata persatuan dimasukkan dalam Pancasila ke 3 yaitu Persatuan Indonesia.

Banyak upaya-upaya para pahlawan dalam mewujudkan persatuan. Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 berupaya mewujudkan persatuan sebelum kemerdekaan dengan mendirikan Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan. Tamansiswa yang didirikan Ki Hadjar berbasis kebangsaan, harapannya dengan pendidikan bangsa ini bisa disatukan untuk merebut kemerdekaan. Wal hasil Tamansiswa menjadi promodel pendidikan nasional. Hal ini membuktikan kontribusi Ki Hadjar dalam mewujudkan  persatuan dengan bekal ilmu.

Pada tahun 1928 para pemuda mengupayakan persatuan. Kala itu dilakukan Kongres Pemuda ada 27-28 Oktober 1928 yang menghasilkan ‘Sumpah Pemuda’. Sumpah Pemuda ini menegaskan cita-cita akan ada tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia. Dari Sumpah Pemuda perkumpulan pemuda semakin terbentuk, antara lain Jong Java, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islaminten Bon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan masih banyak lagi.

Sejarah upaya mempererat persatuan ini menjadi pengingat memori anak bangsa. Bahwasanya persatuan ini penting dalam utuhnya NKRI. Era digital saat ini perlu ada upaya persatuan warganet untuk menumpas segala upaya perpecahan. Misalnya pemuda harus cerdas, tidak mudah termakan hoax, fitnah, ujaran kebencian dan isu SARA. Saat ini bangsa Indonesia harus cerdas dan tidak mudah baper (bawa perasaan) dalam bermedsos. Upayakan bermedsos dengan santun, berbagi ilmu dan jangan menyakiti hati sesama.

Terkadang postingan hanya sekedar lucu-lucuan tetapi karena menyenggol SARA malah jadi runyam. Kalaupun warganet tidak sengaja harus mau melakukan klarifikasi, minta maaf dan membangun rekonsiliasi. Sebab kalau sudah bermain medsos urusanya bukan hanya pribadi dengan pribadi, tetapi menyangkut kalayak publik. Memang berat mempertahankan persatuan 1.340 suku dengan 6 agama yang dianut di Indonesia. Tetapi, Persatuan Indonesia ini penting demi berlangsungnya kehidupan yang damai di NKRI. Marilah kita jaga dan rawat bersama-sama Persatuan sebagai warisan paling berharga bagi bangsa ini.

Facebook Comments