Merawat Perdamaian Sejak dalam Media Sosial

Merawat Perdamaian Sejak dalam Media Sosial

- in Suara Kita
280
2
Merawat Perdamaian Sejak dalam Media Sosial

Internet melahirkan kebebasan menyuarakan informasi setiap orang dapat mengakses dan mengiformasikan semua hal yang diinginkan. Kebebasn informasi semangkin meningkat masif dengan kehadiran sosial. Era ini disebut dengan era digital, salah satu tandanya adalah media sosial menjadi kebutuh utama masyarakat. Bahkan penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan. Fenomena ini merupakan konsekuensi perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan media konvensional menuju digitalisasi komunikasi dengan menggunakan berbagai kanal media sosial kekinian.

Di era ini, perkembangan Teknologi Informasi KOmunikasi terus berevolusi, bahkan dalam penyampaian informasi tidak lagi dipengaruhi jarak dan waktu. Seperti awal orang bebas mengirim informasi melalui bluetooth (2001), Mozilla (2002), Skype (2003), MySpace (2003), Facebook (2004), Youtube (2005), Twitter (2006), Apple iPhone (2007), Google Android (2008), Apple iPad (2010), Instagram (2010), Google Glass (2012), Google Driverless Car (2012), Sophia the artificial intelligence robot (2015), Tesla Model 3(2016), ke depan diprediksi akan terus berkembang inovasi teknologi baru lainnya.

Inovasi teknologi  dengan pemanfaatan media sosial menjadikan arus informasi mengalir dengan deras dan cepat. Pola-pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola-pola komunikasi simetris, real time melintas batas ruang dan waktu, dengan mengedepankan kecepatan, sekaligus menandakan pola komunikasi dewasa ini sesungguhnya telah memasuki fase interactive communication era. Sebagaimana kategorisasi Everett M Rogers, fase lebih lanjut dari pengembangan  era telekomunikasi dengan menjadikan   penggunaan  internet sebagai media baru (new media).

Baca juga : Smartphone, Smart User dan Perdamaian di Media Sosial

Kemudahan dalam berkomunikasi tidak hanya mengubah budaya masyarakat, tetapi juga memiliki pengaruh yang negatif bila kemudahan yang dibawa media sosial tidak dirawat pada semestinya. Media sosial dipergunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak sesuaid engan fakta yang ada. Masyarakat akan dibuat bingung mengenai sebuah kejadian. Di mana kebenaran tidak hanya sesuai fakta, tetapi dipengaruhi seberapa orang melihat dan menge-share sebuah berita.

Pada era teknologi ini, kebenaran sudah jauh dari fakta tetapi kebanaran merupakan hidup dalam bayang yang dianggap benar namun sebanarnya itu adalah sebuah kebohongan. Masyarakat tidak lagi peduli lagi mengenai fakta yang sebenarnya, mereka lebih mementingkan seberapa banyak like dan share serta komen, hingga mereka mudah dikendalai cara berpikirnya. Sebab era ini lebih mementingkan emosinal, tanpa berpikir secara sadar apa yang dilakukan. Di era Post-truth yang lahir karena kebebasan tanpa batas merupakan sifat yang berkaitan dengan kondisi atau situasi dimana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan pribadi lebih tinggi, dibandingkan fakta dan data yang objektif dalam membentuk opini publik.

Di era saat ini, cukup mengawatirkan untuk menjadi kedamaian dalam kehidupan masyarakat. Sebab masyarakat akan mudah emosi, kemudian akan terpecah saat apa yang diyakininya dianggap dilecehkan. Masyarakat tidak peduli dengan data atau fakta yang sebenarnya. Sudah banyak kejadian di mana emosi lebih menguasai masyarakat di era sekarang. Tengok saja yang terjadi di Di Ukraina  tumbangnya presiden Ukraina diawali dengan sebuah status di medsos yang dibuat seorang jurnalis di Facebook yang dilanjutkan dengan seruan berkumpul di Lapangan Maidan di Kiev, di Rusia, Presiden Putin memanfaatkan medsos sebagai kampanye terselubung kepada negeri tetangganya seperti Ukraina, Prancis, dan Jerman.

Bahkan Senat Amerika pernah memanggil perwakilan Google, Facebook dan Twitter dalam kasus mengarahkan suara pe­milih dan memecah belah ma­syarakat yang diduga me­libat­kan Rusia. Di Inggris referendum Brexit secara efektif meng­gunakan medsos seperti Face­book untuk memasang iklan. Trump juga menggunakan med­sos untuk kam­panye mempengaruhi pe­milih dengan membuat 50.000-60.000 iklan yang berbeda di medsos, utamanya di Facebook.

Post-truth sengaja dikembangkan dan menjadi alat propaganda  dengan tujuan  mengolah sentimen masyarakat sehingga bagi yang kurang kritis akan dengan mudah terpengaruh yang diwujudkan dalam bentuk empati dan simpati terhadap agenda politik tertentu yang sedang diskenariokan.

Untuk menjaga Indonesia dari hal-hal yang dapat memecah kebhinekaan yang sudah dirajut lebih dari 70 tahun, maka diperlukan kesadaran bersama. Di mana kesadaran bersama harus dimulai dari jemari kita dengan memberikan informasi yang benar-benar faktanya dengan melacak semua informasi yang ada. Dengan menjaga jempol kita untuk like, share atau komen merupakan cara yang sangat mudah bila kita tidak mengetahui mengenai fakta yang sebenarnya.

Saat kita menjaga jemari kita dan kemudian kita mengetahui mengenai fakta sebenarnya, maka kita wajib meluruskan dengan memberikan fakta dan data yang dapat dipertanggu jawabkan. Tindakan litrasi digital ini akan mengurangi informasi bohong yang beredar. Dan tindakan sederhan ini, setidaknya sosial media akan menjadi media komunikasi yang baik. Serta kita dapat menjaga perdamaian sejak dalam media sosial dari jemari kita. Tidak perlu mengangkat sejata, tetapi perlu menjaga jemari kita dalam menciptakan perdamaian di era teknologi ini.

Facebook Comments