Merawat Persaudaraan Melalui Silaturahmi Kebangsaan

Merawat Persaudaraan Melalui Silaturahmi Kebangsaan

- in Suara Kita
1156
0
Merawat Persaudaraan Melalui Silaturahmi Kebangsaan

Di era modern ini, modal penting sebuah negara untuk meraih kemajuan setidaknya ada tiga. Pertama, kualitas sumber daya manusia yang mumpuni dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas SDM akan menentukan daya saing sebuah negara dalam percaturan global. Kedua, kekayaan alam dan ketahanan ekonomi nasionalnya. Tidak dipungkiri bahwa faktor finansial sangat menentukan maju-tidaknya sebuah negara. Terakhir, namun justru sangat penting ialah kondisi masyarakatnya yang aman dan damai. Sekaya apa pun sebuah negara, dan sebaik apa pun kualitas SDM-nya, namun jika negara itu dilanda konflik maka mustahil bisa meraih kemajuan apalagi membangun peradaban.

Perdamaian merupakan prasyarat penting bagi sebuah negara untuk bisa membangun peradaban. Perdamaian hanya bisa diciptakan di atas fondasi persaudaraan. Membangun persaudaraan, terutama di negeri majemuk seperti Indonesia selalu tidak mudah. Beragam tantangan harus dihadapi. Terlebih belakangan ini, ketika fanatisme keagamaan, sindrom primordialisme dan nalar sektarianisme kian mendominasi relasi sosial kita. Ketiga hal itulah yang membuat tenun kebangsaan kita sempat koyak.

Dalam beberapa tahun belakangan, kita menyaksikan sendiri bagaimana relasi persaudaraan kita kian hari kian melemah. Ada semacam upaya sistematis untuk memecah-belah bangsa dengan hoaks, provokasi dan ujaran kebencian. Satu gejala yang paling mengkhawatirkan ialah upaya menarik agama ke ranah politik. Ketika agama yang sakral atau suci itu berkelindan dengan politik yang profan dan berorientasi pada kekuasaan, maka yang terjadi kemudian ialah terjadinya eksploitasi perbedaan identitas.

Banyak riset menyebutkan bahwa di masa depan, Indonesia akan tumbuh menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Dan di tahun 2035 sampai 2040 Indonesia juga akan menikmati bonus demografi, yakni jumlah penduduk produktif yang jauh lebih banyak ketimbang anak-anak dan lansia. Fenomena itu memiliki dua sisi; yakni peluang sekaligus tantangan. Jika kita bisa memanfaatkan peluang dengan baik, besar kemungkinan imaji tentang kemajuan itu terwujud. Selain membangun sumber daya manusia yang mumpuni, kita juga wajib memperkuat persaudaraan.

Silaturahmi Kebangsaan

Di titik inilah, gagasan tentang silaturahmi kebangsaan kiranya bisa dielaborasi lebih lanjut. Silaturahmi kebangsaan ialah istilah untuk menggambarkan bagaimana masing-masing entitas bangsa yang berbeda suku, agama, bahasa dan budaya saling bertemu, berinteraksi dan berkomunikasi dalam iklim persaudaraan. Sebagai sebuah gerakan, silaturahmi kebangsaan kiranya tidak hanya melibatkan individu, namun juga kelompok masyarakat, serta lembaga. Ruang lingkupnya pun harus komprehensif, mulai dari ranah sosial, politik dan tentunya agama.

Di ranah sosial, harus tercipta relasi silaturahmi yang bersifat horisontal dan vertikal. Silaturahmi horisontal ini penting untuk mempertemukan berbagi suku, ras, dan budaya yang ada di Indonesia agar saling mengenal dan bekerjasama. Sedangkan silaturahmi vertikal ialah relasi antara masyarakat dan pemerintah. Silaturahmi vertikal ini sangat penting untuk membangun mutual-trus antar-kedua pihak.

Di ranah politik, diperlukan silaturahmi antar faksi-faksi politik yang berbeda demi memberikan teladan bagi masyarakat bahwa kontestasi di alam demokrasi tidak harus menjurus pada perpecahan bangsa. Selama ini harus diakui bahwa di level akar rumput, kontestasi politik kerap berujung pada polarisasi dan perpecahan. Fanatisme politik di masyarakat yang kuat telah menyumbang andil pada merenggangnya ikatan kebangsaan.

Terakhir di ranah agama, silaturahmi harus terjalin di internal agama masing-masing dan tentunya juga antar-agama yang berbeda. Di tengah pluralitas agama, hubungan silaturahmi antar-aliran dan kelompok agama jauh lebih efektif dalam membina kerukunan ketimbang debat-debat teologis yang kerap mensegregasi umat. Tali silaturahmi keagamaan ini akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat persaudaraan kebangsaan.

Keberadaan teknologi digital yang marak belakangan ini kiranya harus dimaksimalkan fungsinya untuk menjalin silaturahmi kebangsaan. Jangan sampai, teknologi digital justru menjadi sarana memutus silaturahmi. Disinilah pentingnya kita bijak dalam bermedia sosial. dan berinternet. Teknologi digital sudah seharusnya mempersatukan bangsa, bukan memecah-belah.

Facebook Comments