Merayakan Toleransi

Merayakan Toleransi

- in Suara Kita
385
0
Merayakan Toleransi

Setiap pergantian tahun, pertanyaan yang selalu muncul adalah apakah negeri ini lebih damai dari tahun sebelumnya? Apakah bangsa ini lebih toleran ke depannya? Pertanyaan ini mencuat, mengingat negeri ini masih saja belum bisa lepas dari konflik, ujaran kebencian, SARA, yang sebagian malah berujung pada konflik horizontal.

Menjawab ke dua pertanyaan itu, saya beranjak dari satu premis utama, yakni bangsa ini sejatinya adalah bangsa toleran, suka damai, dan selalu mengambil sikap tengah. Ini bisa dibuktikan dari berbagai sisi sejak lahirnya bangsa ini.

Terus apa yang salah, jika toh bangsa ini sejak dulu adalah bangsa yang toleran dan cinta damai? Saya kira dalam konsteks saat ini, yang salah adalah kita kurang merayakan toleransi itu sendiri.

Maksudnya bagaimana? Jika dibandingkan dengan yang kaum intoleran, bangsa ini jumlahnya jauh lebih banyak orang yang toleran, menghargai keberagaman, mengutamakan persaudaraan.

Kaum intoleran ini sejatinya hanya sedikit. Meminjam istilah kawan, sedikit tetapi berisik. Kaum intoleran merayakan keintoleransian mereka dengan suka ria. Mereka dengan bebasnya memamerkan itu di media sosial; dan menganggap itu sebagai sebuah kebanggaan.

Sementara anak bangsa yang suka cintai damai, mau bersikap toleran, agak kurang mengekspos dan mempromosikan ketoleransiaan itu. Di lapangan, banyak sekali tindakan-tindakan yang lebih mementingkan persatuan dan kesatuan dari pada tindakan-tindak destruktif yang menghancurkan bangsa ini.

Logika Intoleransi

Logika biner, membagi bangsa ini menjadi dua kelompok yang berlawanan: kami versus kamu, kawan versus lawan, pro versus anti- adalah logika utama kaum intoleran.

Atas nama ideologi kelompok kami, sah untuk mencemarkan nama baik kelompok lain. Atas nama membela agama kami, dianggap absah untuk mencaci dan menghina agama orang lain,

 Untuk memperoleh suara, simpati dan pengikut dalam jumlah besar, adalah hal yang wajar untuk menyebarkan hoax dan memprovokasi lawan. mengintimidasi dan memutarbalikkan isu dan  peristiwa tertentu, seringkali dilakukan.

Kepentingan kelompok sektarian menjadi tujuan. Narasi kebencian bermunculan. Orang-orang yang  dianggap sebagai “penggangu”  kelompoknya, dihina, dilaknat, bahkan diserang.

Berbagai studi menunjukkan bahwa setidaknya ada empat narasi kebencian sepanjang tahun ini yang digunakan dalam konteks provokasi, intoleransi dan kebencian.

Pertama, mengajak masyarakat untuk membenci orang lain yang berbeda agama, ras, ras, pendapat, dan preferensi politik.

Kedua, narasi terzhalimi. Narasi ini sering digunakan oleh pihak oposisi. Strategi kami sebagai pihak yang dizhalimi versus kamu sebagai pihak yang menzhalimi, sangat efektif dalam mendapatkan simpati publik.

Ketiga, intoleransi. Ini digunakan untuk merendahakan pihak lain dengan mencari keburukan, dan kesalahannya. Kesalahan itu diberitahukan kepada publik. Dengan alasan bahwa pihak lain memiliki kesalahan, maka penghinaan dan permusuhan terhadapnya adalah sah.

Keempat, konspirasi. Jika ada kebijakan yang merugikan kelompok mereka, segara dimunculkan teori konpirasi, bahwa itu semua terjadi sebab pemerintah dan pihak-pihak tertentu telah berkonspirasi untuk “menggebuk” mereka.

Keempat narasi itu akan selalu ada. Memasuki tahun baru ini, tentu kita semua seharusnya mempunyai semangat baru untuk menghentikan narasi itu dan membersihkan media sosial kita dari ulah tangan-tangan kotor yang tak bertanggung jawab.

Menjadi Toleran

Sikap dan narasi di atas harus dihentikan. Kita harus lebih giat mempromosikan tindakan-tindakan  toleransi did lapangan. Kita perlu kembali ke identitas nasional. Kembali kepada Pancasila, kita semua adalah saudara dan anak bumi Nusantara.

Merayakan toleransi itu, kita tanggalkan pakaian yang memisahkan kita selama ini, tidak ada lagi istilah saya adalah musuh kalian, kami lawan kamu, kita menentang mereka, semuanya telah melebur ke dalam ikatan persaudaraan.

Menenun perdamaian harus dimulai dari diri sendiri. Setiap orang harus terbuka. Beri ruang untuk orang lain. Kita harus menyadari bahwa bangsa ini bisa mandiri dan eksis hingga saat ini berkat kerjasama antar manusia.

Keterbukaan membutuhkan penekanan. Kita tidak boleh terjebak dalam identitas sektarian kita. Keegoisan harus dihilangkan. Kita melihat ke masa depan bersama.

Dengan membuka diri, keberagaman bukan azab, melainkan berkah yang harus dijaga. Kemajemukan Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus kita lindungi bersama. Amanat itu harus dipenuhi. Jangan biarkan beberapa elemen rusak demi politik pragmatis.

Hidup untuk saling membina dalam hidup menjadi spirit dalam mengelola keberagaman dan perbedaan ras, agama, suku, budaya dan bahasa harus dijunjung tinggi.

Keanekaragaman itu bagaikan pelangi, indah dan menawan karena perbedaannya. Nusantara indah dan menawan karena dihuni oleh dua ratus lima puluh juta orang dari berbagai latar belakang.

Biarkan kami mencintai kamu dalam damai. Di tengah maraknya penegasian satu sama lain, Tenun perdamaian  bagaikan oase di gurun pasir.

Mari kita melepaskan semua bentuk kepentingan ideologis kelompok sektarian. Mari saling berpelukan. Tinggalkan provokasi dan lawan setiap upaya yang memprovokasi. Kita semua adalah anak bangsa. Pancasila adalah payung bersama kita.

Facebook Comments