Merdeka dari Radikalisme, Menuju Indonesia Damai

Merdeka dari Radikalisme, Menuju Indonesia Damai

- in Suara Kita
235
1
Merdeka dari Radikalisme, Menuju Indonesia Damai

Indonesia sebagai negara berdaulat sudah memproklamirkan kemerdekaanya pada 17 Agutus 1945 lalu. Pertanda segala belenggu penjajahan sudah lepas. Pasca proklamasi, tugas utama anak bangsa adalah mengisi kemerdekaan. Mempertahankan agar dinding-dinding pertahanan itu jangan sampai jebol dari ancaman.

Ancaman bersifat fisik: penyerangan, revolusi, kudeta, dan perang –dalam sejarah Indonesia masih bisa ditangkal. Akan tetapi, ada ancaman bersifat non-fisik berupa ajaran, paham, atau doktrin radikalisme yang tidak kalah berbahayanya dengan ancaman fisik itu. Virus radikalime itu menjalar secara pasti, merasuki otak para sebagian  masyarakat, diorganisir secara massif dan terstruktur.

Inilah salah satu ancaman terbesar yang menghantui Indonesia. Belum lagi, virus radikalisme dan aksi terorisme itu bersifat acak, sulit dideteksi lokus, aktor, sebab-musabbanya, ditambah agama sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia sering dibawa-bawa sebagai alat legetimasi. Jika kita berhasil dalam perang fisik, seharusnya hal yang sama juga  dalam perang melawan radikalisme.

Dalam konteks memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-74, salah satu refleksi yang harus dijadikan tugas bersama adalah membebaskan diri dari belenggu virus radikalisme. Tugas ini merupakan tugas dan tanggung jawab bersama. Kerja-kerja kolektif untuk menangkal virus ini harus dijalankan dalam semua lini.

Dua Macam Kemerdekaan

Kemerdekaan sejatinya adalah kebebasan (freedom). Bebas untuk berpikir, bertindak, menentukan nasib sendiri; bebas menikmati hidup, lingkungan yang damai, keluarga yang guyup dan harmonis. Artinya inti terdalam kemerdekaan adalah adanya kebebasan. Tidak ada kebebasan sama dengan tidak ada kemerdekaan.

Immanuel  Kant (1724-1804), seorang filsuf besar dari Jerman, membagi kemerdekaan kepada dua kelompok, yakni freedom from (bebas dari) dan freedom to (bebas untuk). Dalam tahap selanjutnya, gagasan ini dikembangkan oleh Isaiah Berlin (1909-1997).

Freedom from (bebas dari) merupakan kebebasan paling hakiki, yang setiap manusia selalu mendambakannya. Freedom from artinya bebas dari campur tangan dan intervensi orang lain. Dalam konteks negara, bebas dari campur tangan dan intervensi negara asing. Freedom from adalah kebebasan negatif, artinya menegasikan segala macam –apapun itu –yang bisa merusak diri, individu, atau negara.

Baca Juga : Mewujudkan Indonesia Damai dengan Konsep Hari Bebas Kebencian

Manifetasi dari freedom from adalah negara dan warganegara harus bebas dari segala kelaparan, kemiskinan, ganguan keamanan, aksi terorisme, penghinaan, ujaran kebencian, hoax, dan segala macam bentuk kejahatan yang bisa merusak kesejahteraan umum.

Virus readikalisme dan aksi terorisme adalah ancaman terhadap freedom from. Jika tidak ditanggulangi sejak dini, akan merusak kemerdekaan bangsa ini untuk menikmati kehidupan yang nyaman dan suasana yang aman.

Jika freedom form sudah terlaksana maka freedom to (bebas untuk) bisa diwujudkan. Freedom to adalah kebebasan untuk bertindak, berpikir, dan hidup sesuai dengan keinginan kita. Freedom to merupakan kebebasan bersifat positif. Artinya segala macama hak yang kita miliki bisa kita afirmasi.

Kebebasan untuk menimati hidup damai, akses sekolah, lingkungan yang aman, dan menentukan masa depan yang cemerlang adalah bagian dari bentuk kemerdekaan kedua ini.

Dari Merdeka Menuju Damai

Radikalisme adalah salah satu perusak dan penghancur dua macam kemerdekaan (dari dan untuk). Ia sacara diam-diam bisa menggerogoti rasa nasionalisme setiap anak bangsa. Dengan paham, bahwa orang yang berseberangan dengan dirinya adalah musuh; dengan keyakinan bahwa pemerintahan dan sistem politik sekarang adalah taghut; dengan doktrin bahwa pancasila dan UDD 1945 tidak sesuai dengan hukum Tuhan, seseorang bisa saja menyerang, membuat terror, dan menyebar ketakutan.

Kemerdekaan tanpa dua kebebasan di atas itu bukanlah kemerdekaan. Dengan aksi terorirme orang tidak dengan nyaman bekekerja; dengan ada ancaman, orang tidak bisa mencicipi kehidupan yang damai; dengan menyebar kekatukan, manusia tidak bisa beraktifitas dengan aman.

Mewujudkan Indonesia damai tidak bisa kecuali melawan radikalisme dan segala turunannya. Memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 merupakan momentum yang pas untuk kembali memupuk semangat kita bersama melawan radikalisme demi terwujudnya Indonesia damai. Ini adalah tantangan bagi kita semua. Indonesia mungkin sudah terbebas dari belenggu penjajahan, akan tetapi kita belum sepenuhnya terbebas dari belenggu virus radikalisme dan aksi terorisme.

Facebook Comments