Merdeka dari Teror, Hate Speech, dan Hoax

Merdeka dari Teror, Hate Speech, dan Hoax

- in Suara Kita
193
1
Merdeka dari Teror, Hate Speech, dan Hoax

“Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.” (Soekarno)

Penggalan kalimat di atas adalah bagian dari pidato Soekarno saat hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno membakar semangat seluruh rakyat dan meyakinkan mereka bahwa hari itu adalah hari kemerdekaan bangsa. Semenjak hari itu dan seterusnya, Indonesia telah bebas dari segala bentuk penjajahan oleh bangsa lainnya dan Indonesia bebas menentukan arah pemerintahannya sendiri.

Kini, kemerdekaan yang telah diproklamirkan sejak 1945 tersebut, masih terus bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat bisa berdikari atas kekuatan sendiri dan tidak disetir bangsa lain. Segala lini pembangunan, baik dimensi jasmani maupun rohani, juga bisa berjalan tanpa direcoki musuh-musuh bangsa. Cita-cita kebangsaan yang diimpikan oleh seluruh rakyat, lambat laun bisa terwujud. Dan puncak dari segala ikhtiar kebangsaan, yakni perdamaian sesama anak bangsa, pun bisa terjaga dengan baik.

Meski demikian, sebagai bangsa yang besar dan terus berkembang, tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Kemerdekaan yang telah lama diraih pun tidak luput dari rongrongan. Bukan hanya agitasi dari bangsa-bangsa lain yang terus menghujam, namun masalah-masalah di internal kebangsaan kadang bermunculan dan bisa menggoyahkan kemerdekaan. Benar kata Soekarno, bahwa dulu bangsa ini berperang melawan bangsa lain. Setelah merdeka, bangsa ini akan berperang sesama anak bangsa lainnya. Hal inilah terjadi saat ini, dimana sesama anak bangsa justru saling bersitegang.

Tiga musuh kemerdekaan

Banyak chaos sesama anak bangsa yang bisa merusak makna kemerdekaan. Diantaranya, pertama, aksi teror. Teror yang dimaksud adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan; sebagaimana dijelaskan di dalam KBBI. Aksi teror selama ini selalu menjadi hantu yang membuat resah banyak orang. Apalagi ketika aksi teror sudah terwujud dalam tindakan brutal, sungguh semakin meresahkan. Aksi teror yang dilakukan kaum teroris, adalah contoh nyata betapa keji kejahatan ini. Nyawa orang tak berdosa menjadi tumbal dan tontonan kengerian.

Baca Juga : Kemerdekaan, Rekonsiliasi dan Imajinasi Kolektif

Aksi teror di Indonesia sampai hari ini terus saja berdatangan. Data dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri telah menangkap 68 terduga pelaku terorisme sepanjang Januari – Mei 2019. Jika satu orang saja dari komplotan tersebut berbuat teror, bisa dibayangkan betapa kacaunya stabilitas nasional Indonesia. Suasana mencekam datang dari penjuru tanah air. Kemerdekaan yang mencita-citakan perdamaian, pun akan kandas.

Kedua, ujaran kebencian (hate speech). Seolah merupakan persoalan sepele, tetapi jika dibiarkan bisa mengoyak persatuan bangsa. Terutama jika kebencian ditujukan kepada agama lain, suku lain, kebudayaan lain, dan identitas masyarakat lain. Di tengah masyarakat yang plural, ujaran kebencian bisa menjadi sumbu peledak yang bisa mengakibatkan perang saudara. Kemerdekaan yang merekatkan persatuan pun akan hancur akibat ujaran kebencian tersebut.

Sampai saat ini, kasus ujaran kebencian masih saja bercokol dan eksis. Sebagaimana laporan dari Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, bahwa pada periode Januari-Juni 2019 (6 bulan), perkara tindak pidana ujaran kebencian yang ditangani Polri ada 101 perkara. Kasus ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2018, yang mencapai 255 perkara selama setahun penuh. Kasus ujaran kebencian tahun 2019 tetap tinggi angkanya karena berbarengan dengan tahun politik kemarin.

Ketiga, hoax atau berita bohong. Kabar yang manipulatif tanpa disadari bisa meruntuhkan tembok perdamaian bangsa. Terlebih kalau hoax yang beredar adalah soal-soal politik, sungguh bisa membuat suasana sensitif. Perhelatan pilpres kemarin menjadi contoh, betapa hoax mampu merenggangkan hubungan persaudaraan sesama anak bangsa. Bukan hanya sesama elit, bahkan tetangga antar RT sekalipun bisa putus silaturahim gara-gara menerima kabar bohong dan provokatif.

Di tengah bangsa ini menikmati berkah kemerdekaan berupa perdamaian dan keharmonisan, hoax justru menjadi benalu yang merintangi. Sampai saat ini pun, frekuensi kasus hoax masih tinggi angkanya. Data dari Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri menyebutkan bahwa jumlah penyebaran hoaks pada Januari-Juni 2019  (6 bulan) mencapai 51 kasus. Angka ini lebih besar dari pada tahun 2018 dimana selama setahun hanya ada 52 perkara.

Standar Ganda

Tiga perkara di atas, yakni teror, ujaran kebencian, dan hoax, saat ini menjadi musuh nyata dalam mempertahankan kemerdekaan. Jika tidak ada upaya pencegahan dan penanganan terhadap ketiga hal tersebut, bisa jadi kedepan bangsa ini akan terlibat dalam perang saudara. Bangsa ini bukan lagi menjadi bangsa yang merdeka, tetapi negri perang.

Karena itu, diperlukan ‘standar ganda’ untuk menekan laju pertumbuhan ketiga hal di atas. Standar ganda tersebut yakni : peran pemerintah dan kontribusi masyarakat. Pemerintah sebagai lembaga yang memenej perjalanan bangsa, harus bisa memainkan perannya dengan baik. Pemerintah harus sigap terhadap segala gejala yang bisa mengoyak persatuan dan meruntuhkan kemerdekaan yang telah diraih.

Sementara sebagai masyarakat, harus turut berperan aktif dalam menebarkan nilai-nilai positif. Jangan sampai masyarakat terpengaruh oleh hoax, ujaran kebencian, dan aksi teror. Masyarakat harus pandai melakukan filter dan membentengi diri dari musuh-musuh kemerdekaan.

Facebook Comments