Merdeka Secara Diskursif

Merdeka Secara Diskursif

- in Suara Kita
200
1
Merdeka Secara Diskursif

There is only one world, the world of language, and there is no the way out. Demikianlah kurang lebih kesimpulan Don Cupitt, seorang yang membawa peristiwa the linguistic turn ke ranah teologi. Problem bahasa, problem teks, problem diskursus, sebenarnya telah lama menjadi problem kemanusiaan. Sebelum peristiwa the linguistic turn, dalam dunia filsafat, kita mengenal yang namanya tradisi filsafat anglo saxon atau filsafat non-kontinental. Fungsi filsafat pada saat itu tak lebih daripada seekor “anjing sains”—setelah sebelumnya menjadi “anjing teologi.” Filsafat sekedar menjadi ilmu alat, seperangkat metode untuk mengklarifikasi berbagai konsep yang selalu taken for granted. Semisal istilah sekaligus konsep “wong cilik” atau orang kecil.

“Kecil” dalam istilah itu merujuk pada apa, “bocah ingusan,” “bentuk atau postur yang kecil,” atau “jelata” (peasant)? Taruhlah “kecil” dalam istilah itu mengacu pada “bocah ingusan,” lantas apa kriteria kedewasaan atau ketuaan di situ yang menjadikan sesuatu dapat dikategorikan sebagai “kecil”? Atau istilah “kecil” itu merujuk ke istilah lainnya semisal “bentuk atau postur,” adakah ukuran “kecil” di situ bersifat penting yang memengaruhi kualitas lainnya seperti nyali ataupun leadership? Andaikata demikian lantas dengan ukuran yang mana atau ukuran siapa kita menentukan sesuatu itu sebagai “kecil” atau “besar”? Pun seandainya “kecil” di situ, secara sosiologis-politis, dikaitkan dengan istilah “jelata” (peasant), apakah yang menjadi tolak-ukurnya, pendapatan ekonomi, tingkat pendidikan, profesi, atau status sosial-kultural? Tak ada jawaban yang pasti.

Hanya orang goblok dan kuper (manusia satu dimensi) yang menerima sesuatu secara taken for granted. Tepat di sinilah kita belajar tentang konsep the language game dari Wittgenstein (Philosophical Investigations, 1968). Bahwa, pertama, hidup tak hanya satu dimensi belaka. Ada beragam cara, gaya, perspektif, ideologi, suku dan agama, di mana masing-masing memiliki aturan main sendiri, parameter sendiri-sendiri. Kedua, masalah timbul ketika masing-masing saling bersilang-sengkarut, overlapping, yang berujung ruwet yang membingungkan. Maka dalam sebuah kaidah, seseorang sangat dilarang membuat keputusan ketika dalam kondisi bingung. Sebab, sudah pasti keputusannya tersebut tak akan pernah adil. Dan kita sadar, merumuskan keadilan ternyata tak semudah mengedipkan kelopak mata atau mengajak bercinta pasangan lainnya.

Baca Juga : Merawat Inklusifitas Kemerdekaan di Jagad Maya

Tentang overlapping di atas biasanya terjadi ketika suatu, katakanlah, komunitas yang memiliki aturan main sendiri menghakimi komunitas lainnya yang memiliki aturan main sendiri pula. Radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang belakangan ini marak terjadi merupakan contoh nyata dari overlapping tersebut. Maka di sini, masih beranikah kita berteriak merdeka di mana tiap hari, secara diskursif, kita dijajah dan dihakimi sedemikian rupa oleh komunitas lainnya? Dan seperti yang pernah saya katakan (Ingusan, Merendahkan dengan Cercaan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id) bahwa bahasa ternyata menstruturisasikan kesadaran. Artinya, di hari ini, penjajahan itu tak hanya bersifat fisikal, tapi lebih pada mental. Hoaks dan pembunuhan karakter, baik orang maupun daerah, dapat di(re)produksi dan didistribusikan secara mudah. Melalui diskursus kita tak lagi menghadapi apa yang disebut sebagai dominasi, tapi—untuk meminjam Gramsci—hegemoni, di mana orang secara sadar diri merelakan dirinya untuk dijajah. Entah sampai kapan masokisme dan kegoblokan semacam ini dibiasakan. Bahwa sampai detik ini radikalisme, intoleransi, dan terorisme masih menjadi fenomena yang lumrah dan murah hanyalah bukti atas segala keterkungkungan diskursif tersebut. Dengan demikian, sekali lagi, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, masih percaya dirikah kita di hari ini untuk lantang berteriak: “Merdeka!”?

Facebook Comments