Meruntuhkan Narasi Kebencian dari Bangsa Indonesia

Meruntuhkan Narasi Kebencian dari Bangsa Indonesia

- in Suara Kita
397
0
Meruntuhkan Narasi Kebencian dari Bangsa Indonesia

Satu hal yang perlu diperhatikan dari maraknya ujaran kebencian belakangan ini adalah unsur perpecahan yang dapat meruntuhkan suatu negara. Kita bisa lihat dari beberapa kasus, seperti yang terjadi di Yaman pada tahun 2015, yang luluh lantah akibat terprovokasi oleh isu-isu SARA. Atau kita bisa lihat kasus Suriah yang menewaskan ratusan ribu manusia ditambah rusaknya tempat tinggal mereka akibat permasalahan yang tidak bisa disikapi secara dewasa. Ataupun kasus Rwanda di tahun 1994, yang menewaskan hampir satu juta nyawa akibat perbedaan etnis. 

Semua kasus tersebut menjadi bukti bahwa ujaran kebencian sangat mengerikan untuk terus menerus disuarakan. Selaras dengan itu, Dr. Sigmund Freud mengatakan bahwa ujaran kebencian menjadi tindakan pemuas ego ke-aku-an yang nantinya akan menghancurkan prinsip kebahagiaan. Pelakunya akan menjadi promotor kebencian rasial dan tindakan diskriminasi pada suatu kelompok. Sehingga akan selalu menginiasi dengan tindakan-tindakan kekerasan.

Jika menengok lebih jauh kasus ujaran kebencian, agama Islam mempunyai konklusi konkrit dalam permasalahan ini. Seperti halnya digambarkan dalam QS. Al Hujurat ayat 6 yang menelaah tentang bagaimana ujaran kebencian itu disebarkan dan langkah apa saja yang dapat diambil untuk menghindari ujaran kebencian tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang diakhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”. (al-Qur’an Surah al-Hujurat/49:6).

Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan diutusnya al-Walid bin Abi Mu’ith oleh Rasulullah saw menemui al-Harits di Bani Musthalaq untuk memungut pajak. Akan tetapi, setelah al-Walid bin Abi Mu’ith masuk ke kampungnya, tiba-tiba dirinya didatangi oleh pengikut al-Harits di Bani Musthalaq. Kejadian itu membuat al-Walid ketakutan dan segera lari kembali menemui Rasulullah saw. Dirinya memberikan laporan kepada Rasulullah bahwa al-Harits telah murtad dan tidak mau membayar zakat.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah tidak langsung memerintahkan pasukan untuk menangkap al-Harits. Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk menemui al-Harits, kemudian al-Harits menghadap Rasulullah. Dalam cerita al-Harits, dirinya mengatakan bahwa tidak ada satupun utusan Rasulullah yang menemui dirinya untuk membayar zakat. Kejadian ini menjadi sebab turunnya QS. Al Hujurat ayat 6.

Asbabun nuzul dari QS. Al Hujurat ayat 6 seolah mengajari kita akan pentingnya sifat tabayyun. Tidak mengedepankan emosi dan meluapkannya secara berlebihan. Suatu masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan pikiran terbuka. Sehingga persoalan-persoalan, seperti salah paham ataupun ujaran kebencian, tidak akan terjadi karena kita mempunyai nilai positif dari seseorang yang dahulu terbenci.

Majlis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial dalam bagian D Pedoman Penyebaran Konten/Informasi poin 3 menyebutkan secara tegas akan larangan menyebarkan ujaran kebencian, informasi hoaks, namimah, fitnah, ghibah, aib, dan hal sejenis itu kepada khalayak. Selaras dengan itu, UU No. 19 Tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) memberikan penegasan akan larangan melakukan ujaran kebencian dan pemberian sanksi berat bagi pelakunya. Kemudian ada beberapa pasal juga yang menerangkan hal yang sama.

Melihat urgensi tersebut, maka harus dilakukan suatu cara untuk mengatasi kasus ujaran kebencian agar tidak terulang. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al Ghazali diterangkan ada 6 cara untuk membina manusia agar tidak lagi melakukan ujaran kebencian. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa rasa marah terdapat dalam batin manusia dan apabila ada yang memancing rasa marah tersebut, sulitlah manusia untuk membendungnya.

Akan tetapi Imam Ghazali mengajarkan 6 cara untuk meminimalisir ataupun membendung rasa marah itu. Pertama, menyadari sepenuhnya akan besarnya pahala menahan amarah. Kedua, menanamkan rasa takut pada diri sendiri apabila sampai melampiaskan kemarahan. Ketiga, meyakini bahwa Allah berkuasa mengatasi segala masalah. Keempat, instrospeksi diri akan bahaya marah dan sanksi atas perilaku tersebut. Kelima, mencontoh sikap sabar dari seseorang. Keenam, menyadari sepenuh hati apabila marah, derajat manusia disamakan seperti binatang buas.

Facebook Comments