Mewarisi Gen Para Wali Songo dalam Berdakwah

Mewarisi Gen Para Wali Songo dalam Berdakwah

- in Suara Kita
180
0

Beberapa hari lalu, publik dihebohkan kembali dengan sebuah video yang sempat viral di jagat maya. Video tersebut menunjukkan aksi seorang laki-laki sedang membuang dan menumpahkan beberapa sesajen di kawasan lokasi erupsi Gunung Semeru, Lumajang Jawa Timur, sembari berkata “ini yang membuat murka Allah, hingga Allah menurunkan azabnya”.

Aksi pria tersebut menuai kontroversi dan kecaman di tengah masyarakat. Bahkan, menurut Wasekjen MUI Muhammad Ziyad menyatakan, bahwa tindakan tersebut tidak benar dan masuk kategori kekerasan. Kendatipun, sesajen diperuntukkan persembahan kepada jin atau setan salah (dalam ajaran Islam), akan tetapi harus diluruskan dengan cara yang baik pula, memberi edukasi misalnya.

Juga, perilaku tersebut dapat berimplikasi terhadap beberapa hal. Pertama, bisa melahirkan konflik eksternal maupun internal, saling menyalahkan, permusuhan dan kekerasan yang bernuansa perbedaan, baik agama, suku, etnis, budaya dan lain-lain. Kedua, mengancam sekaligus mencederai keberagaman dan kebinekaan yang kita miliki dan pertahankan selama ini. Ketiga, perilaku ini bersifat destruktif terhadap kearifan lokal, yang sejatinya tidak pernah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Sementara itu, kasus di atas juga memberi pelajaran yang amat penting bagi kita semua; bahwa betapa pentingnya konsep dan metode berdakwah secara santun, menghargai perbedaan dan mampu merawat kearifan lokal yang tengah mengakar (dimiliki) bahkan mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia sejak beribu-ribu tahun lamanya.

Menurut penulis, penting kiranya bagi kita semua untuk mewarisi model dan strategi dakwah yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yakni Wali Songo ihwal keberhasilannya dalam menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara; yang keberhasilannya sebagaimana kita rasakan sampai saat ini. Supaya tidak berdampak buruk terhadap beberapa hal yang telah penulis sebutkan tadi.

Meneladani Dakwah Para Wali Songo

Seperti diketahui bersama bahwa menyebarnya Islam di bumi Nusantara, mulai dari perkotaan hingga pelosok-pedesaan sampai saat ini, tidak terlepas dari peran atau kiprah dari para Wali Songo. Sejarah mencatat bahwa para Wali Songo atau sembilan tokoh (wali) ini, tengah memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam di kalangan masyarakat pribumi. Juga, para wali ini telah mampu memikat hati masyarakat Nusantara untuk menerima kehadiran agama Islam di tengah beragamnya keyakinan dan tradisi yang melekat pada Nusantara kala itu.

Tentu, ini merupakan prestasi sangat gemilang yang pernah dicapai oleh para wali tersebut. Namun demikian, pertanyaan yang muncul dalam benak mengapa para Wali Songo begitu mudah dalam menyebarkan agama Islam? Apalagi di tengah beragam keyakinan dan tradisi yang kuat dan mengakar di masyarakat Nusantara. Kemudian, mengapa begitu sulit untuk memperkenalkan Islam pada dunia saat ini? Bukankah berdakwah pada era ini seharusnya begitu mudah, apalagi ditopang dengan kemajuan zaman, yakni berkembangnya teknologi.

Jawabannya, tentu saja, adalah karena para Wali Songo dalam berdakwa untuk menyebarkan Islam melalui cara-cara yang santun, inklusif, menghargai perbedaan dan budaya lokal yang dimiliki setiap daerah. Juga metode dan strategi yang digunakan begitu memukau dan tidak monoton. Sedangkan metode dan strategi yang digunakan oleh sebagian para da’i sekarang, lebih bernuansa pada tindakan memaksa, bersifat destruktif, represif bahkan mudah menyalahkan kelompok yang berbeda pemahaman dan lain sebagainya.

Mengutip pendapat KH Said Aqil Siradj dalam pengantar buku Atlas Wali Songo, karya Agus Sunyoto, menyatakan bahwa para wali tersebut telah merumuskan metode dan strategi dakwah atau strategi kebudayaan yang secara lebih sistematis, terutama bagaimana cara menghadapi kebudayaan Jawa dan Nusantara pada umumnya yang sudah mengakar kuat, tua dan mapan.

Masih menurut Kiai Said Aqil, strategi dakwah para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara ini dimulai dengan beberapa langkah yang cukup strategis. Pertama, secara bertahap. Misalnya, tatkala masyarakat pribumi senang meminum arak dan makan daging babi, oleh para wali tidak secara langsung mengubahnya. Tetapi, para wali melakukannya secara bertahap dengan meluruskan perilaku mereka tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

Kedua, bersifat santun dan tidak menyakiti. Menurut Kiai Said Aqil, dengan model dan strategi seperti ini para Wali Songo menyebarkan Islam tidak dengan cara mengusik apalagi mendestruktif tradisi mereka. Bahkan, tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka. Akan tetapi, para wali memperkuat (mengakui) tradisi dan keyakinan yang telah mengakar di tengah masyarakat itu dengan cara yang Islami (disesuaikan dengan ajaran Islam).

Para wali, tentu saja, memahami betul dan sadar bahwa Nusantara (tempat menyebarkan agama Islam) termasuk wilayah multi-etnis, multi-budaya, dan multi-bahasa, yang menurut mereka merupakan anugerah terbesar Allah yang tiada tara diberikan kepada mereka. Karena itu, mereka merumuskan model dan strategi dakwah dengan disesuaikan sosial-kultur masyarakat Nusantara.

Misalnya, Sunan Kudus seorang wali yang bertugas menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah. Dalam berdakwa, beliau menggunakan cara-cara yang santun dan damai. Salah satunya adalah dengan menghormati masyarakat Hindu. Untuk menarik simpati mereka, Sunan Kudus memberi larangan agar tidak menyembelih sapi. Sebab, pada waktu itu sapi merupakan hewan yang disucikan oleh masyarakat setempat. Bahkan, larangan ini melekat hingga sekarang di kota Kudus, Jawa Tengah.

Juga, Sunan Muria seorang wali yang lebih senang menyebarkan agama Islam di pelosok-pedesaan. Karena bagi beliau, tempat tersebut sulit terjamah untuk mendapatkan akses pengetahuan tentang agama Islam. Itulah alasan Sunan Muria lebih memilih pedesaan daripada perkotaan. Yang menarik, kala itu masyarakat Jawa memiliki tradisi budaya yang sangat kental, sehingga membuat ajaran Islam sulit diterima.

Dalam berdakwah, Sunan Muria melakukan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan memodifikasi tradisi sesajen. Pada masa itu, masyarakat Jawa adalah penganut agama Hindu, Budha, dan animisme oleh Sunan Muria diajarkan untuk tidak lagi mempersembahkan makanan terhadap roh leluhur, melainkan membagi makanan kepada tetangga sekitar.

Dari apa yang telah dilakukan oleh para Wali Songo ini merupakan model dakwah dengan cara yang santun dan menghargai akan setiap perbedaan dan tradisi yang dimiliki setiap daerah. Karena itu, ajaran dan strategi Wali Songo tersebut bisa diteladani dan dikembangkan oleh para pendakwah (da’i) saat ini sesuai dengan konteks zaman. Dengan demikian, Islam yang sejatinya sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) betul-betul tercermin dalam kehidupan setiap umat manusia. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang kerap dilontarkan oleh orang-orang Barat. Yaitu, Islam agama kekerasan dan teroris. Wallahu A’lam

Facebook Comments