Mewaspadai Ancaman Nyata Radikalisme di Media Sosial

Mewaspadai Ancaman Nyata Radikalisme di Media Sosial

- in Editorial
2489
1
Mewaspadai Ancaman Nyata Radikalisme di Media Sosial

Teror Amatiran Para Pemuda

Saat umat Islam sedang khusu’ berjihad di bulan Ramadan ingin meraih ampunan di 10 akhir Ramadan ledakan tak terduga terjadi. Seorang remaja, RA (23) meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (3/6/2019). Siapa sangka, ia sudah berbai’at ke Pimpinan ISIS, Abu Bakar al Baghdadi sejak tahun 2018 silam. Sejak saat iu ia aktif berkomunikasi melalui medsos dan internet dengan kelompok ISIS yang saat ini telah luluhlantah di Irak dan Suriah.

Konon, si RA sempat mengajak orang tua dan kakaknya untuk bergabung dalam keyakinan yang ia pegang, tetapi ditolak. Pemahaman sesat tentang jihad itu ia praktekkan dengan mempersiapkan keperluan “perang”. Ia belajar membuat bahan peledak dengan diawali membuat petasan dan diledakkan di belakang rumahnya dekat sawah.

RA pada akhirnya berhasil untuk membuat bom untuk keperluan aksi yang dalam pandangannya sebagai jihad. Ia meledakkan diri di Pos Polisi dengan sasaran Polisi yang sudah mempersiapkan lama sejak tahun 2018. Ia mengumpulkan bahan-bahan merakit bom dicicil dengan meminta uang kepada orang tuanya. Bom yang ia rakit pun tidak sempurna. “Jihad”nya gagal dan melukai diri sendiri.

Cerita RA bukan kali pertama. Pada tahun 2016, masyarakat Medan dikejutkan dengan aksi serupa yang dilakukan remaja (18). Bedanya, di Medan aksi dilakukan di salah satu gereja dengan sasaran umat Kristiani yang sedang melaksanakan ibadah Misa. Dialah pemuda inisial IAH yang kala itu baru lulus dari sekolah menengah atas yang dengan keyakinan jihadnya ingin meledakkan diri di gereja Katolik Stasu Santo Yosep Medan, Sumatera Utara (28/8/2016).

Baca juga : Reh

Dalam melaksanakan aksinya, IAH menggunakan tas ransel berisi bom rakitannya dan sebuah pisau. Sangat nekat. Ia merangsek menuju mimbar ketika bom di tasnya tidak meledak sempurna. Ia bermaksud menyerang sang Pastor, pemimpin ibadah Misa. Aksinya gagal karena bom yang belum sempurna meledak dan dapat diringkus para jemaat.

Hampir sama dengan RA, IAH mengalami radikalisasi dan belajar doktrin hanya dengan berselancar di dunia maya. Ia mendapatkan akses internet dari warung internet (warnet) kakaknya. Dari situlah, Ia banyak berkomunikasi dengan kelompok ISIS, konon Bahrun Naim, pentolan ISIS Asia Tenggara. Dari situlah ia banyak belajar merakit bom yang dicoba di kamarnya yang berada di lantai dua. IAH sempat mengunggah video bai’at online yang menyatakan kesediaan kepada Pimpinan ISIS.

Waspada “Lulusan” Radikalisasi Online

Baik RA maupun IAH adalah lulusan terbaik dari sekolah radikalisasi online yang dilakukan kelompok radikal. Tidak bertemu langsung, tidak terhubung langsung, tanpa komando yang jelas, tetapi keduanya menyatakan kesediaan dan kesetiaan untuk bergabung dan beraksi untuk kelompok radikal. Mereka tidak terikat dengan jaringan yang ada, tetapi tumbuh sebagai pejuang tunggal dalam melancarkan aksinya (lone wolf).

Fenomena ini menjadi sangat mengkhawatirkan. Bukan saja menjadi sulit untuk mendeteksi gerakannya, tetapi generasi muda yang gemar menghabiskan waktu di dunia maya menjadi sangat rentan terpapar. Bayangkan jika generasi baru tumbuh di ruang maya ini ketika berinterkasi dan berkomunikasi di tengah perselancaran tanpa batas berjumpa dengan konten radikal dengan berbagai doktrin dan ajaran radikal.

Pada mulanya konten ini menanamkan identitas yang banyak dicari para pemuda. Mendefinisikan diri berbeda dengan yang lain. Ketika intoleransi meningkat, doktrin perjuangan untuk membela ditanamkan. Ketika keyakinannya sudah berubah dan tumbuh pemahaman ajaran yang salah ia disiapkan dengan perangkat pelatihan pembuatan bom dan penyiapan aksi lainnya.

Tanpa kontrol yang efektif terdapat ribuan akun dan website yang sebenarnya mendidik dan mendoktrin ajaran dan doktrin yang radikal. Doktrin yang mengajarkan mereka yang berbeda sebagai musuh. Doktrin yang mengajarkan melawan pemerintahan yang sah karena dipandang thogut. Doktrin yang menghalalkan darah mereka yang berbeda agama, bahkan berbeda pandangan dan keyakinan.

Miris sekali. Contoh dua remaja di atas hanya fenomena gunung es yang akan meleleh luas pada waktunya jika tanpa ada kewaspadaan bersama. Bisa jadi di luar sana, ribuan anak muda mulai tertarik dengan doktrin-doktrin keagamaan yang emosional, heroisme, dan “sok” berani membela keyakinan dengan perang di tengah kondisi damai. Mereka mulai menyatakan diri berbeda dengan yang lain dengan luapan kebencian.

Inilah tipologi radikalisasi baru yang dijalankan secara cerdas oleh kelompok radikal. Target generasi muda yang sedang memburu identitas dan gairah belajar agama meluap, tetapi minim dengan pengetahuan yang memadai. Kaya akan solidaritas dan idealitas, tetapi miskin perspektif yang luas untuk membaca realitas yang kompleks.

Pendangkalan pemikiran dan pemahaman keagamaan justru jatuh pada proses self radicalization (swa-radikalisasi). Proses radikalisasi memang tidak instan dimulai benci dengan yang berbeda, benci kepada pemerintahan sah, tergugah melakukan perlawanan, dan memilih aksi kekerasan sebagai jalan perubahan.

Sejak dini, proses literasi digital dan penanaman wawasan keagamaan moderat serta paradigma kebangsaan harus ditumbuhkan. Anak harus dididik dengan matang sebelum ia bermain dalam belantara liar dunia maya. Mendampingi anak adalah tugas keluarga, tetapi memberikan penyadaran cerdas bermedia tugas kita bersama.

Facebook Comments