Mewaspadai Bahaya Teroris Berkedok ‘Ulama’

Mewaspadai Bahaya Teroris Berkedok ‘Ulama’

- in Suara Kita
1307
0
Mewaspadai Bahaya Teroris Berkedok ‘Ulama’

Baru-baru ini marak diberitakan di media massa perihal penangkapan ustadz, da’i dan ulama yang diduga teroris oleh Densus 88. Mereka adalah Fariz Ahmad Okbah, Ahmad Zain An Najah dan Anung Al-Hamad. Ketiganya diduga kuat terlibat dalam jaringan teroris Jama’ah Islamiyah (JI) yang sebelumnya telah beberapa kali melakukan serangkaian aksi teror yang mengancam keamanan, ketertiban dan ketentraman setiap warga negara Indonesia. Penangkapan ini merupakan hasil penelusuran lebih lanjut atas sumber pendanaan organisasi teroris JI.

Ironinya, mereka yang tertangkap adalah ustadz/da’i/ulama yang memiliki peran sentral dalam pembangunan peradaban dan akhlak masyarakat Islam di Indonesia. Mereka yang seharusnya memberikan nasehat dan teladan baik bagi masyarakat untuk senantiasa merawat kerukunan dan kedamaian, justru menjadi preseden buruk bagi persatuan NKRI. Bahkan, di antara mereka yang tertangkap, ialah seorang yang menduduki jabatan sebagai salah satu anggota pengurus Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bayangkan saja, ketika seorang berpengaruh lagi memiliki wewenang fatwa di MUI, memberikan fatwa-fatwa yang baik secara tersirat atau tersurat melegalkan aksi teror. Tentu saja, pendapat tersebut akan diterima sebagai kebenaran atas keberagamaan Islam yang sesungguhnya. Hal ini karena masyarakat Islam yang tidak atau belum memiliki kapabilitas mengulik sumber-sumber teks keagamaan secara komprehensif, mereka menyandarkan pendapatnya kepada pihak-pihak yang dipandang memiliki kredibilitas yang memadai dalam mengakses sumber-sumber agama Islam. Dan, apa yang akan terjadi? Teror dan ancaman akan semakin marak terjadi. Persatuan, kedamaian, ketentraman, dan ketertiban yang menjadi keinginan bersama setiap warga negara tidak akan lagi ada jika ulama pemberi fatwa justru adalah seorang misionaris penyebar paham terorisme.

Perlu dipahami, ulama adalah pewaris para nabi. Dalam konteks tersebut, ulama adalah sosok yang diharapkan menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang sama atau paling mendekati dengan akhlak Nabi Muhammad SAW dimana seperti digambarkan oleh sayyidatina A’isyah RA, “akhlak rasulullah adalah al-Qur’an.” Artinya, tidak dibenarkan konsep keberagamaan yang dibawa oleh para ulama ini bertentangan dengan sumber utama agama, yakni al-Qur’an dan hadits. Dan, tidak dibenarkan pula bagi mereka yang dengan sengaja membelokkan tafsir keagamaan dalam memaknai kedua sumber utama tersebut, sehingga sedikit demi sedikit dapat menyusupkan paham terorisme kepada seluruh elemen masyarakat.

Sungguh. Ulama itu juga mengemban misi yang sama seperti nabi, menyempurnakan akhlak manusia. Juga, menyebarkan islam yang rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi seluruh alam). Sebagaimana nabi, ulama harus menjadi teladan umat Islam yang dalam memanusiakan manusia. Diriwayatkan, Nabi Muhammad selalu memberi menyuapi makanan kepada pengemis buta di pojok Pasar Madinah secara lemah lembut, meskipun setiap kali memberi makan selalu mendengar cacian dan hinaan yang dilayangkan oleh pengemis tersebut kepadanya. Akan tetapi, Rasulullah tidak marah dan tetap konsisten berbuat baik kepada pengemis tersebut hingga suatu hari pengemis itu masuk Islam sebab diberitahukan keluhuran akhlak Nabi Muhammad Saw. 

Maka, apabila ada diperdengarkan dalil agama oleh ulama dengan mengatakan bahwa bom bunuh diri dan sikap anarkistis adalah bentuk jihad atau orang kafir boleh dibunuh, niscaya pemahaman keagamaan tersebut patut diwaspadai. Bisa jadi mereka adalah para teroris berkedok ulama. Kepada yang menghina dan memusuhinya saja nabi Muhammad masih santun dan mendoakan kebaikan kepada mereka, bagaimana mungkin nabi menganjurkan kekerasan dan tumpah darah dengan dalih jihad.

Jadi, kita perlu mewaspadai teroris yang berkedok ulama. Hal ini karena mereka memiliki kesempatan lebih luas untuk mempengaruhi jama’ahnya agar sama-sama memiliki ideologi terorisme. Untuk itu, kita harus lebih selektif dalam memilih ulama yang kita teladani. Pilih ustadz atau ulama yang tidak hanya ‘alim dan mumpuni, tapi juga seorang nasionalis sejati. Kita harus lebih membekali diri kita dengan pemahaman teks-teks keagamaan yang komprehensif agar tidak mudah terjebak dalam tipu daya oknum ustadz/ulama yang membelokkan dalil-dalil agama. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments