Mewaspadai “Penyusup” Kelompok Radikal dalam Perhelatan Demokrasi Kita

Mewaspadai “Penyusup” Kelompok Radikal dalam Perhelatan Demokrasi Kita

- in Suara Kita
238
0
Mewaspadai “Penyusup” Kelompok Radikal dalam Perhelatan Demokrasi Kita

Belum usai persoalan munculnya kelompok khilafatul muslimin. Kali ini, kita dikejutkan oleh munculnya 4 bendera tauhid. Dengan corak-karakter, “ala” bendera HTI (organisasi terlarang) yang terpajang, dalam sesi deklarasi calon Presiden Anis maju menjadi Presiden 2024. Tentunya, yang menjadi persoalan kita saat ini, perihal siapakah oknum-oknum yang mencoba berinisiatif memasang bendera kalimat tauhid itu dan apa motifnya?

Kalau kita amati, fenomena pemasangan bendera kalimat tauhid ini, jelas sifatnya masuk dalam ranah gerakan politik identitas. Entah itu disebut sebagai bendera HTI atau hanya dianggap sekadar kalimat Tauhid. Tetapi, gerakan ini membawa satu label keagamaan sebagai simbol gerakan politik. Di mana, ini akan berpengaruh besar terhadap perpecahan dan retaknya kemajemukan kita.

Bahkan menariknya, di dalam sesi deklarasi tersebut. Didatangi oleh berbagai kelompok. Seperti halnya, mantan eks-FPI, eks-HTI dan bahkan eks-napiterorisme. Mereka-mereka ini jelas udah tidak memiliki “wadah” secara organisasi yang diperbolehkan di Indonesia. Lalu, mereka berkumpul memanfaatkan wadah deklarasi. Mencoba mengambil satu momen ini. Untuk “menyempilkan” semacam gerakan politik berlabel keagamaan.

Waspada “Penyusup” kelompok Radikal

Maka, kewaspadaan terbesar bagi kita bukan hanya perihal bendera saja. Melainkan oknum-oknum “penyusup” kelompok radikal yang mulai memanfaatkan perhelatan demokrasi kita. Di mana, mereka saat ini begitu lihai. Bukan bergerak secara terang-benderang membuat satu organisasi. Melainkan bergerak sebagai “penyusup” di balik aktivitas-aktivitas seperti menjelang aktivitas pemilihan presiden 2024 nanti.

Bahkan, kalau kita amati video sekilas tentang deklarasi tersebut, kelompok yang saya sebutkan di atas. Yaitu mantan eks-FPI, eks-HTI dan bahkan eks-napiterorisme. Mereka naik ke panggung berkumpul menjadi satu, lalu membacakan semacam “deklarasi” yang orientasinya, mereka membawa satu identitas agama dan mendukung Anies Baswedan menjadi calon Presiden.

Jadi, kewaspadaan terbesar kita adalah para penyusup kelompok radikal yang berupaya memanfaatkan moment. Seperti kasus deklarasi yang saya sebutkan di atas. Lalu tiba-tiba ada sekelompok orang yang mencoba menaruh bendera bertuliskan kalimat tauhid dan disandingkan dengan bendera merah putih. Maka, ini sama mencederai basis ber-demokrasi kita dan akan berdampak fatal terhadap stabilitas sosial masyarakat yang majemuk karena akan berujung pada perpecahan dan konflik identitas.

Karena, ini sama halnya bergerak membawa satu basis politik keagamaan lalu tegak sebagai kekuatan politik. Tentu, basis penolakan pasang bendera tauhid dalam deklarasi itu sebagai keputusan yang sangat tepat. Pun, itu tidak dalam konteks anti kalimat tauhid atau dianggap anti kalimat suci dalam Islam. Tetapi, ini arahnya ke dalam tujuan-tujuan politik. Di mana, agama dijadikan alat untuk sebuah perjuangan untuk membangun politik berbasis primordial.

Bahkan, saya yakin, Anies Baswedan akan menolak jika keberadaan bendera tersebut ada dan sebagai basis simbolis atas dukungan terhadap dirinya untuk maju sebagai Presiden. Mengapa? karena ini adalah gerakan “politik kampungan” yang hanya sekadar memanfaatkan agama sebagai kekuatan. Karena mereka lemah secara potensial.

Cerdas Untuk Tidak Mudah Termakan Permainan Politik Identitas

Oleh karena itulah, kita harus benar-benar cerdas dan jangan mudah termakan oleh permainan politik identitas. Sekaligus, kita juga harus bijak di dalam menyikapi di setiap aktivitas. Baik aktivitas keagamaan atau aktivitas deklarasi yang berkaitan dengan politik. Untuk waspada dengan kelompok-kelompok yang saya sebut sebagai “penyusup”. Yaitu kelompok radikal yang sengaja memanfaatkan moment. Untuk mencoba memecah-belah bangsa dengan cara membawa status keagamaan sebagai basis pijakan politik untuk menyongsong sebuah misi kekuasaan.

Karena, di satu sisi ini akan mencederai pranata etis demokrasi kita. Di sisi lain ini akan semakin membangun semacam disentegritas sosial. Karena gerakan politik identitas akan membawa perpecahan, konflik antar kelompok dan bahkan akan terjadi konflik berdarah. Jadi, mari kita selalu waspada dan jangan mudah termakan oleh permainan politik identitas yang kini mulai beraksi.

Facebook Comments