Mewujudkan Smart Digital Natives dengan Literasi Media

Mewujudkan Smart Digital Natives dengan Literasi Media

- in Suara Kita
255
2
Mewujudkan Smart Digital Natives dengan Literasi Media

Kemajuan dan ragam media komunikasi yang dimiliki oleh masyarakat menyebabkan masyarakat dan negara menghadapi efek hoax sebagai akibat communication jammed yang terjadi di masyarakat. Communication jammed disebabkan oleh perkembangan teknologi komunikasi yang tidak bisa dikontrol lagi. Selain itu, communication traffic yang sangat rumit menyebabkan berita-berita hoax sebagai suatu tindakan konstruksi sosial sederhana, namun menjadi musuh masyarakat dan negara, mudah bermunculan (Bungin, 2017).

Implikasi dari fenomena hoax adalah demikian maraknya pengguna internet untuk saling melontarkan ujaran kebencian satu sama lain yang sering kali berdasar pada informasi hoax yang mereka terima. Tindakan seperti ini familiar dengan istilah hate speech. Ada hal yang menarik yang kadang bisa kita jumpai akibat perkembangan teknologi komunikasi. Dimana orang-orang yang dilihat secara keseharian sebagai orang-orang yang baik, dan kadang juga pendiam bisa berubah menjadi orang-orang yang beringas saat menggunakan media sosial.

Seiring dengan perkembangan hate spreech, hadir pula istilah hate crimes yang pada awalnya muncul di dalam sistem hukum Amerika Serikat. Istilah ini kemudian juga berkembang di Eropa dan Inggris. Pada awalnya, dalam sistem hukum yang berlaku di negara-negara tersebut istilah hate crimes merujuk pada perbuatan-perbuatan yang dikualifikasikan sebagai racially aggravated offences (Sagel Grande, 2006).

Umumnya hate crimes didefinisikan sebagai “berbagai jenis kejahatan atau perbuatan pidana yang dilakukan terhadap orang atau kelompok orang ataupun harta bendanya dengan latar belakang/motif kebencian/prejudice pelaku terhadap korbannya semata-mata karena korban merupakan anggota kelompok (ras, etnis, kebangsaan, keagamaan, difabilitas, orientasi seksual, dan lain-lain) tertentu” (Jacob & Henry, 1996).

Baca juga : Milenial Cerdas Pengawal Propaganda Antikekerasan Virtual

Dalam pustaka ilmu hukum di Indonesia, konsep hate crimes belum banyak didiskusikan. Demikian pula dalam hukum positif Indonesia, hate crimes belum diatur secara jelas. Baru beberapa tahun terakhir sejak munculnya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) No. 11 Tahun 2008 dan Undang-Undang Anti Diskriminasi Ras dan Etnis No. 40 Tahun 2008 di Indonesia, dikenal konsep ujaran kebencian (hate speech). Ujaran kebencian sekalipun kerap mendahului terjadinya hate crimes harus dipandang berbeda dari hate crimes (Wulandari, 2017). Pada intinya baik itu hate speech dengan hate crimes merupakan salah satu efek atau dampak dari hoax yang demikian masif. Berbagai dampak buruk dari hoax serta akibat kurang bijaksananya pengguna sosial media harus segera dituntaskan dengan tindakan nyata. Salah satu diantaranya yaitu dengan literasi media.

Literasi media dapat juga dikatakan sebagai tindakan “melek media”. Literasi media adalah kemampuan yang sangat dibutuhkan agar setiap hal yang dijumpai di media informasi tidak ditelan mentah-mentah. Menurut Laporan ‘National Leadership Conference on Media Education’ (Aufderheide, 1992) menyatakan pentingnya literasi media sebagai kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam pelbagai bentuknya.

Sementara itu dalam konteks di Indonesia, terdapat regulasi yang juga membahas tentang literasi media yakni di dalam Undang-undang No.32 Tahun 2003 tentang Penyiaran, khususnya dimual di dalam Pasal 52 yang memaknai literasi media sebagai “kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan sikap kritis masyarakat” (Iriantara, 2009: 25).

Oleh karena itu, masyarakat sebagai konsumen informasi di dunia maya juga perlu dibina literasi medianya. Sosialisasi atau pembinaan terkait antisipasi berita hoax harus digencarkan kepada seluru lapisan masyarakat. Literasi media bagi masyarakat dalam mengakses, menganalisis, penting mengevaluasi, dan memproteksi diri dari informasi yang mengundang keresahan bahkan perpecahan masyarakat. Harapannya ruang virtual terbebas dari hoax, hate speech, dan hate crime, semoga.

Facebook Comments