Milenial Cerdas Pengawal Propaganda Antikekerasan Virtual

Milenial Cerdas Pengawal Propaganda Antikekerasan Virtual

- in Suara Kita
225
2

Media sosial telah menjadi gaya baru dalam semangat mengarungi arus demokratisasi. Semangat semua bisa berbicara dan berkomentar menjadikan sekat antara rakyat dan penguasa menjadi semakin tidak terlihat. Prinsip kesetaraan sebagai sesama pengguna media sosial, menjadikan apa pun status dan pangkat seseorang, berapa pun usia. semua akan tetap sama dalam konteks penggunaan media sosial, sama-sama dapat berkomentar dan dikomentari.

Hanya saja, penggunaan media sosial seringkali dewasa ini mengalami krisis akhlak. Norma dan etika ditabrak. Akibatkannya, arus demokratisasi melalui media sosial yang seharusnya menyehatkan, kini justru mengantarkan satu demi satu warga negara Indonesia menuju bui. Adalah Ahmad Dani, seorang musisi yang tersohor di jagat musik nusantara, ia juga terjebak dalam arus kekeran virtual yang selanjutnya menjeratnya dengan UU ITE.

Kekerasan virtual (virtual violence) yang disebar di media sosial memang kini marak tersebar tak terbendung. Tidak hanya visualisasi kekerasan yang bertebaran, tetapi pola dan sikap kekerasan melalui teks, narasi, dan kata-kata menjadi hidangan di media sosial setiap harinya. Setiap detik kita berinteraksi dengan ragam kekerasan tersebut dari sekedar membaca, membagikan, mengomentari hingga terlibat dalam perdebatan. Menghujat, mencaci maki, dan menghina telah menjadi warna baru dalam kekerasan virtual yang seakan lebih sadis dari gambaran realitas yang sebenarnya (Abdul Malik, 2016).

Menjadi Milenial Cerdas

Oleh karena kekerasan virtual identik dilakukan di era milenial, maka memberikan pemahaman bahwa mencetak kader milenial cerdas harus menjadi fokus utama ialah keniscayaan. Karenanya, rumah-rumah dan institusi-institusi pendidikan harus menjadi tameng efektif untuk mendidik pemuda agar melek media digital. Agar, pengguna medsos perlahan membuka diri untuk menengedepankan etika dalam menyikapi arus demokratisasi media sosial yang tidak terbendung.

Baca juga : Smartphone, Smart User dan Perdamaian di Media Sosial

Kakrakter milenial cerdas tersebut bisa ditanamkan lewat pendidikan mengenainya pentingnya sopan santun dalam segala lini kehidupan. Sebab, bagaimana ber-unggah-ungguh akan mempengaruhi kedamaian medsos dari kekerasan virtual. Budaya literasi yang tinggi agar tertanam spirit senantiasa bersikap toleran atas perbedaan pendapat dan terus mencari fakta kebenaran sesungguhnya sehingga tidak mudah terjebak dalam hasrat saling menghakimi dan menghujat. Mereka juga perlu diberikan pemahaman betapa perlunya persatuan di atas beragam kepentingan kelompok dan individu, serta betapa kekerasan fisik ataupun virtual, apa pun alasannya harus dijauhi sejauh-jauhnya.

Karakter-karakter tersebut sangat diperlukan sebagai modal menjadi smart netizen yang santun dalam bermedia sosial. Mengingat, konten kekerasan yang marak tersebar dalam sebaran-sebaran di jagat maya pada dasarnya mengantarkan pada iklim demokrasi yang tidak sehat. Karena menghujat dalam berkomentar di medsos, orang yang melemparkan kritik bisa berujung bui. Hanya, karena karakter jagat maya yang tak terbatas (borderless), maka semangat menjadi netizen cerdas harus diusahakan bersama-sama agar senantiasa saling menghindarkan diri dari sebaran narasi-narasi kekerasan di medsos. Hanya dengan membekali diri menjadi milenial cerdaslah satu-satunya jalan untuk melawan segala bentuk propaganda negatif di dunia maya.

Selanjutnya, mengaktualisasikan fungsi generasi milenial sebagai garda terdepan mengawal demokrasi yang sehat harus digalakkan. Pemuda milenial merupakan orang-orang yang memiliki fungsi sebagai agent of change, agent of social control, dan iron stock, yang tentu saja apabila diaktualisasikan dengan sebaik-baiknya, mereka akan benar-benar berkontribusi positif dalam upaya demokratisasi serta menjadi benteng kebhinnekaan yang kokoh.

Kontribusi positif ini bisa dilakukan melalui kiprah nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kegiatan-kegiatan kreatif yang menunjukkan spirit menjunjung tinggi persatuan dan perbedaan. Namun demikian, masifnya kekerasan virtual lewat jagat digital, membuat virtualisasi gerakan anti kekerasan menjadi tidak kalah pentingnya untuk dilaksanakan. Jagat maya harus dipenuhsesaki dengan konten damai dan sejuk yang tidak menghujat/ mengadu domba satu umat/ suku dengan umat/ suku lainnya.

Inilah tanggungjawab yang disematkan kepada seluruh generasi milenial yang notabene sudah akrab dengan beragam fitur di media digital. Untuk bersama-sama, menjadi penjaga perdamaian dunia dengan menyebarkan video /postingan-postingan damai dan bermanfaat baik. Hanya saja, yang tidak kalah penting adalah semua generasi digital harus saling bahu-membahu mewujudkan dunia digital yang ramah terhadap siapa pun. Sebab, berjalan sendiri-sendiri dalam mewujudkan medsos terbebas dari kekerasan virtual di era konektivitas tak terbatas seperti sekarang, justru akan membuka peluang besar menuju kegagalan. Dari itu, sinergi adalah salah satu kunci keberhasilan milenial cerdas mengawal medsos dari kekerasan virual. Wallahu a’lam.

Facebook Comments