Millennials Kill, Medsos, dan Ajakan Perdamaian

Millennials Kill, Medsos, dan Ajakan Perdamaian

- in Suara Kita
251
1
Millennials Kill, Medsos, dan Ajakan Perdamaian

Kutipan di atas diulas oleh Yuswohady dalam bukunya Millennials Kill Everything. Buku ini sebenarnya fokus ke arah dunia bisnis, dimana beberapa usaha yang pernah populer diam-diam sirna di tangan milenial. Yuswo mengulas bahwa milenial “membunuh” beberapa bisnis, dikarenakan nilai-nilai, perilaku, dan preferensi milenial telah berubah drastis dan perubahan itu menjadikan produk, layanan, atau industri menjadi tidak relevan lagi dan kemudian ditinggalkan konsumen milenial.

Yuswo mencontohkan departement store. Beberapa tahun lalu departement store berjaya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Matahari, Ramayana, Lotus, adalah beberapa contoh yang pernah eksis. Namun saat ini, pelan tapi pasti, semua bisnis tersebut mulai berguguran. Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama, karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tidak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure).

Isu “millennials kill” yang diulas Yuswo, adalah fenomena kekinian yang terus berkelanjutan. Bahkan jika dikupas lebih jauh, “millennials kill” bukan hanya menjadi momok di dunia bisnis. Di jagad maya, “millennials kill” juga diam-diam menjadi benalu. Bukan membunuh akses untuk berinternet, tetapi membunuh nilai-nilai moral yang selama ini telah terbangun dengan kokoh.

Salah satu contoh yang nampak adalah perilaku netizen di jagad maya. Lahirnya istilah haters tentu merujuk pada perilaku netizen yang begitu mudahnya mencibir, bahkan kadang menghujat dan mencaci. Perilaku ini tentu jauh dari nilai-nilai moral bangsa. Apalagi kalau sudah bicara politik bercampur agama, fenomena saling hujat, saling caci, sampai mengkafirkan orang lain, sudah menjadi makanan harian di jagad maya, terutama di medsos. Perilaku netizen benar-benar “membunuh” keharmonisan kehidupan berbangsa.

Baca juga : Skema Rekonsiliasi Warganet

Apakah hal ini dilakukan oleh para milenial? Jika merujuk pada data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bisa dipastikan bahwa sebagian besar pelakunya adalah milenial. Hal ini karena, dari 143,26 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018, sebanyak 49,52 persen di antaranya adalah generasi milenial (19 – 35 tahun). Itu artinya, milenial menjadi penyumbang terbesar dalam penggunaan internet. Maka perilaku “membunuh” di jagad maya bisa dipastikan sebagian besar dilakukan oleh milenial.

Apa dampaknya? Seperti kita lihat dalam keseharian, bahwa jadag maya benar-benar dipenuhi aura kebencian diantara sesama. Orang begitu mudah saling hina meski belum pernah bertemu di alam nyata. Perilaku ini bisa terwujud di dunia nyata. Antar tetangga saling tidak akur, sesama saudara memendam kebencian, dan fenomena keganjilan lainnya. Hal-hal demikian sekilas nampak kecil, tapi kalau dibiarkan berlarut-larut bisa merambah menjadi musibah nasional. Perhelatan pemilu kemarin bisa menjadi contoh nyata betapa perseteruan netizen merambah dalam perpolitikan nasional.

Ajakan Perdamaian

Hal-hal seperti ini tentu berbahaya untuk kelangsungan persatuan dan perdamaian hidup berbangsa. Jangan sampai milenial terus “membunuh” nilai-nilai luhur bangsa hanya gara-gara perilaku di jadag maya. Karena itu, diperlukan upaya serius agar “millennials kill” di jejaring dunia maya bisa teratasi. Ini tentu membutuhkan respon dari pemerintah, ini yang pertama. Bagaimana pemerintah terus berupaya melakukan upaya pencegahan dan penindakan.

Upaya pencegahan ditujukan agar netizen bisa bersikap positif di jagad maya. Upaya pencegahan ini dilakukan dengan himbauan dan ajakan kepada netizen agar tidak menabrak nilai-nilai moral di dalam berselancar di jagad maya. Adapun bagi mereka yang dengan sengaja melanggarnya, seperti menyebar ujaran kebencian di medsos, menista suku atau agama lain, maka perlu upaya penindakan. Hukum harus tegak agar perilakunya jera dan tidak diikuti oleh netizen lainnya.

Selain pemerintah, peran serta masyarakat juga sangat diperlukan, ini yang kedua. Masyarakat dengan segala lininya, harus menjadi mitra pemerintah dalam membina perilaku para netizen. Masyarakat di Indonesia memiliki standar moral yang tinggi, ditopang dengan nilai-nilai religius yang dimiliki bangsa ini. Nilai-nilai religius tersebut sudah menyatu dalam keseharian. Nilai-nilai inilah yang harus terus dipupuk dan diaplikasikan dalam meramban di jagad maya.

Masyarakat dalam hal ini ibarat “kawah candradimuka” yang menggembleng perilaku pribadi-pribadi menuju pada nilai-nilai positif. Sehingga diharapkan dalam mengakses jagad maya juga menerapkan nilai-nilai positif. Dengan demikian, mereka tidak akan menjadi “pembunuh” yang mematikan sendi-sendi perdamaian dan persatuan bangsa.

Facebook Comments