Mimbar Agama untuk Mencegah Intoleransi dan Radikalisme

Bagi pemeluk agama, mimbar agama merupakan salah satu tempat yang sakral nan suci. Kesuciannya harus dijaga, baik secara fisik maupun nonfisik. Secara fisik, mimbar mesti selalu mendapatkan perawatan dan pembersihan. Secara nonfisik, mimbar agama mesti digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan luhur dan menghindarkan dari pesan-pesan negatif.

Dalam agama Islam, pesan-pesan kebaikan setidaknya bermuara pada hablu minallah dan hablu minannas. Dan hal ini sebagaimana dalam khutbah-khutbah Rasulullah di atas mimbarnya. Khutbah Jumat perdana  Rasulullah SAW di Masjid Jumat, Wadi Ranuna secara detail mengajak para jamaah untuk bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Dalam uraian yang panjang ini, meski mendalam menguraikan pemahaman tentang ketakwaan kepada Allah SWT namun tidak mengandung unsur provokasi untuk berbuat radikal terhadap agama/kelompok lain.

Dalam khutbah terakhir di Haji Wada’, selain menyampaikan pesan keimanan Rasulullah SAW juga mengajak kepada seluruh yang hadir (dan menyampaikan kepada yang tidak hadir) untuk menjaga hubungan sesama manusia yang baik. Rasulullah SAW mengajak kepada seluruh umat untuk menjaga harta benda, darah (jiwa dan raga), serta kehormatan antar sesama. Tidak diperkenankan antara satu orang dengan yang lainnya saling menzalimi.

“Wahai Manusia, Dengarkanlah kata-kataku dan camkanlah. Kalian sungguh telah tahu bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lain dan bahwa segenap muslim adalah saudara. Tidak halal bagi seseorang mengambil dari saudaranya kecuali apa yang diberikan dengan lapang hati. Maka, janganlah kalian zalimi diri kalian.” Begitu penggalan singkat khutbah terakhir Rasulullah SAW.

Berkaca dari khutbah perdana dan terakhir Rasulullah SAW seperti ini, umat muslim mesti bisa mengambil kesimpulan bahwa pesan-pesan yang disampaikan adalah untuk peningkatan kualitas hubungan manusia kepada Tuhan dan sesama. Seorang khatib/penceramah di atas tidak diperkenankan hanya mengambil satu poin penting pesan dengan mengesampingkan poin penting lainnya. Bagaimanapun, keimanan kepada Allah SWT tidak dapat dilepaskan dengan hubungan baik kepada sesama (hablu minannas).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik kepada sesame atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kendati demikian, informasi adanya ujaran kebencian bahkan provokasi untuk bertindak intoleran dan radikal di mimbar-mimbar agama sering kali kita terima. Pesan-pesan provokatif untuk bertindak intoleran dan radikal dialamatkan kepada kelompok lain yang seagama ataupun umat lain yang berbeda agama. Pesan-pesan negatif ini bernada mengajak kelompoknya untuk melakukan praktik-praktik kekerasan kepada kelompok lain/pemeluk agama lain dengan maksud mempertahankan eksistensi kelompok.

Dalam agama Islam, menyampaikan pesan dakwah memerlukan metode yang telah perintahkan Allah SWT. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Dalam ayat tersebut sangat jelas betapa dalam mengajak kepada kebaikan, seseorang mesti menggunakan etika. Jangankan menyampaikan provokasi agar bertindak radikal atau intoleran, dalam menyampaikan kebaikan saja tidak boleh sembarangan, harus dengan kebijaksanaan dan perkataan yang baik. Bahkan, dalam berdiskusi juga harus dengan perkataan-perkataan yang baik. Jangan sampai diskusi hanya menimbulkan debat kusir yang berarti gagah-gagahan. Antara satu orang/kelompok dengan yang lain harus saling menjaga kehormatan dan menghormati.

Berdiskusi adalah perkara yang baik, namun berbantah-bantahan merupakan larangan. Dalam riwayat Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diberitahukan Tuhan kepadaku dan dilarang untuk melakukannya, setelah menyembah berhala dan meminum khamar, adalah membantah orang lain,” Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah saling berbantahan karena saling berbantahan tidak dapat dipahami hikmahnya dan tidak dapat dijamin selamat dari fitnahnya.” (HR. Thabrani).

Terdapat keutamaan bagi orang yang meninggalkan bantah-bantahan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meninggalkan sikap berbantahan, padahal ia dalam posisi yang benar, nіsсaya dibangunkan untuknya rumah di surga yang paling tinggi. Barangsiapa meninggalkan sikap berbantahan, sedangkan ia dalam posisi yang salah, niscaya dibangunkan rumah untuknya di tengah-tengah surga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Wallahu a’lam.

This post was last modified on 29 Juni 2022 4:58 PM

Anton Prasetyo: Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta