Mimbar Radikal dan Empat langkah Mengembalikan Fungsi Otentik Masjid

Mimbar Radikal dan Empat langkah Mengembalikan Fungsi Otentik Masjid

- in Suara Kita
231
0
Mimbar Radikal dan Empat langkah Mengembalikan Fungsi Otentik Masjid

Dalam Islam, fungsi Masjid sangatlah penting, baik sebagai media aktualitas ibadah mahdoh maupun penguatan nilai-nilai keislaman. Secara historis, Masjid sejak awal berdirinya pada masa Nabi Muhammad Saw hingga kini telah menunjukkan perannya yang strategis dalam Dakwah Islamiyyah. Dari Masjid, pintu awal penyebaran Islam dilakukan dan melalui “Rumah Allah” ini pula konsolidasi serta koordinasi Umat Islam disusun bahkan Pusat Pemerintahan dan lembaga pendidikan Islam pun diawali dari Masjid.

Di samping itu, Masjid dijadikan sebagai salah satu tempat yang strategis untuk proses ideologisasi agama Islam. Sebab, aktifitas yang dilakukan di Masjid selalu melibatkan jamaah dengan jumlah yang cukup banyak. Seperti Shalat jamaah lima waktu, kegiatan pengajian, shalat jum’at, shalat hari raya, Taman Pendidikan Al-Quran serta aktifitas yang bersifat keagamaan lainnya.  

Namun belakangan ini, fungsi Masjid yang strategis itu dirusak oleh kelompok radikal. Belakangan muncul proyek “ideologisasi Islam” dengan memanfaatkan Masjid sebagai basis sosialisasinya. Namun paham Islam yang disosialisasikannya justru berbeda wajah dan karakter dengan Islam yang selama ini dipahami dan diyakini oleh masyarakat Indonesia. Wajah Islam baru tersebut cenderung intoleran, eksklusif, dan radikal. Hal ini akibat dari penceramah yang berpaham radikal. Akibatnya Masjid kemudian menjadi mimbar Radikal.    

Menurut Wawan Hari Purwanto selaku Juru Bicara BIN, terdapat sekitar 50 penceramah yang masuk kategori sebagai penyebar dan penyeru radikalisme di masjid-masjid di lingkungan pemerintahan. BIN mendata dari 41 masjid yang terindikasi telah terpapar radikalisme, ada 17 masjid kondisinya sudah masuk kategori parah. Menurutnya, khotbah salat Jumat yang disampaikan khatib di sejumlah masjid itu berisi ajakan dan seruan untuk ikut berperang ke Suriah atau Marawi (Filipina Selatan) bergabung dengan kelompok radikal ISIS, (Sindo News, 30/11/2018).

Dalam penelitian For All Foundation, sejak masa reformasi terdapat ratusan Masjid di Indonesia yang awalnya menjadi basis penyebaran nilai-nilai keislaman moderat kini telah diambil alih oleh kelompok Islam radikal. Mereka menjadikan Masjid sebagai markas gerakan dan sekaligus dakwah kelompoknya. Tentu Ormas Islam NU dan Muhammadiyah telah kecolongan dengan kondisi ini. Sebab, masjid-masjid tersebut pada mulanya mangajarkan nilai-nilai keislaman ala NU dan Muhammadiyah, yaitu Islam rahmatan lil alamin. Namun setelah dikuasai oleh kelompok-kelompok garis keras, segala hal yang berhubungan dengan masjid diubah dan disesuaikan dengan cara pandang kelompok Islam radikal. Aktifitas-aktifitas peribadatan banyak yang tidak boleh lagi dilakukan karena dianggap bid’ah. Simbol-simbol budaya yang melekat pada masjid juga mengalami hal serupa karena dianggap tidak ada pada zaman Nabi dan Sahabat, (Abdurrahman Wahid, 2009:191)

Empat Langkah Strategis

Berangkat dari problem di atas, menurut Agus Sunaryo (2017), ada beberapa hal yang mungkin dilakukan untuk mengembalikan fungsi Masjid agar tidak terpapar oleh ideologi radikal dan intoleran, yakni: Pertama, memperkuat pranata masjid. Masjid harus diperbaiki kemampuan manajerialnya yang berbasis pada pola manajemen modern, yaitu: kemampuan mensinergikan antara planning, actuating, controlling, dan evaluating. Keempat unsur ini harus diorientasikan pada upaya meningkatkan kualitas masjid, jamaah, dan masyarakat secara luas.

Kedua, melakukan kontrol terhadap berbagai aktifitas atau kegiatan di masjid. Tidak perlu ada pembatasan ruang gerak aktifitas dakwah di masjid. Namun penyesuaian format acara, materi dakwah, dan kemampuan pendakwah dalam memilah serta memilih materi dakwah yang tidak menebarkan kebencian, teror, dan permusuhan harus dilakukan. Pihak terkait, dalam hal ini pemerintah melalui kementerian agama, MUI, Ormas Keagamaan, Badan Koordinasi Masjid, atau yang lainnya, perlu diperankan secara maksimal dalam melakukan pendataan, evaluasi, dan kontrol terhadap masjid-masjid yang ada di Indonesia. Sehingga kegiatan masjid aman dari aktifitas kelompok radikal. 

Ketiga, meningkatkan kualitas da’i. Peran penceramah dalam mempengaruhi jamaahnya sangat besar. Tidak jarang sebuah komunitas berubah sikap, perilaku, atau bahkan akidah, karena pengaruh dari ceramah seseorang. Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan kualitas kemampuan intelektual agamanya. Di beberapa tempat, sangat mungkin paham radikal bisa masuk, karena tidak ada penceramah pembanding yang mampu memberi ceramah alternatif yang lebih moderat. Selain itu, beberapa penceramah dalam kategori radikal, seringkali mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat keagamaan tinggi, namun wawasan dan intelektualitas keagamaan tidak begitu memadai. Mereka dengan mudahnya mengutip ayat atau hadis secara literal, tanpa mampu memberikan uraian sesuai dengan standar keilmuan yang diakui.

Keempat, memperkuat fungsi dan peran masjid dalam konteks pemberdayaan ummat. Sebagai tempat berkumpulnya jamaah, masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat Islam, baik di bidang spiritual maupun sosial kemasyarakatan. Bisa dibayangkan, jika sebagian atau semua masjid yang ada di Indonesia memainkan fungsi dan perannya dengan maksimal, maka perubahan kualitas kehidupan umat Islam di Indonesia akan semakin baik. Dan pada gilirannya Masjid tentu tidak akan mudah terpapar oleh ideologi radikalis dan intoleran.

Facebook Comments